Mutiara

Sunan Giri Bukan Sekadar Hikayat Bahari

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Ketika Majapahit runtuh pada paro pertama abad ke-16, para wali mulai mendapat tempat yang penting di bidang keagamaan dan politik. Selain restu, nasihat-nasihat mereka diperlukan untuk urusan penting.

Dalam Serat Centini  (1742) susunan Raden Ngabei Yasadipura II dan Raden Rangga Sutrasna  dari Keraton Surakarta , disebutkan bahwa  Nyai Randa meminta kepada Santri Giri, 12 tahun, berangkat ke Ampel, Surabaya, belajar agama kepada Sunan Ampel. Bu Nyai mewejang putranya agar ia mengikuti pengajaran sepenuh hati dan berlaku santun. Maka di sana Giri menjadi sahabat Santri Bonang, putra sang guru. Setelah cukup pengetahuan mereka berangkat ke Mekah, dengan mampir di Malaka.

Di tempat itu Giri dan Bonang bertemu dengan Syekh Wali  Lanang  — yang mengaku ayah Giri – dan belajar kepadanya setahun. Entah kenapa, mereka disarankan kembali  ke Jawa. Giri diberi sebuah sisir dan jubah serta diberi gelar Prabu  Nyakrakusuma.

Setiba di Jawa, mereka berpikir: pastilah Syekh Wali Lanang sahabat Sunan Ampel. Karena itu keduanya pun menceritakan lakon mereka.  Kata Sunan Ampel:

“Pulanglah engkau ke giri anakku. Ketahuilah ibumu sedang sakit menjelang ajal, tinggal menanti kedatanganmu.makamkanah ia di Giri, dekat makam ayahmu. Dan kau kuberi izin bertegak di sana sebagai sunan giri, bergelar Prabu Satmata. Sepeninggalku, engkaulah yang berkuasa menjadi wali agung, dihormati di seluruh Jawa… Kau akan terkenal sebagai raja ulama. Tapi janganlah salah terima, engkau bukan raja atas suatu negeri. Kiranya kau telah memahami.”

Nyai Randa menyambut Giri dengan suka cita. Lalu dia meninggal setelah disempurnakan (Islamnya). Sebelumnya dia berwasiat agar hartanya disedekahkan kepada fakir miskin dan untuknya dibelikan “amanat haji”.

Dengan modal harta ibunya, Sunan Giri melaksanakan amanat gurunya menyebarkan Islam. Maka Giri pun, yang memang sudah ramai sebagai daerah perdagangan, bukan saja samya cekap sandang pangan, tentrem ciptane raharja (cukup sandang pangan, makmur, dan aman tenteram), tetapi juga samya keparingan iman, nglampahi sarengat Nabi, ngibadah andarus Quran, kathah kang iyasa masjid (dikaruniai iman, menjalankan syariat Nabi, mendaras Quran, dan memakmurkan masjid).

Nyai Randa, alias Nyi Semboja, sebenarnya adalah ibu angkat Sunan Giri. Dia adalah istri Patih Semboja, yang ditempatkan Prabu Brawijaya di Giri, Gresik.

Begini ceritanya.  Arkian, pada masa terakhir  Majapahit, sekitar abad  ke-16, seorang maulana dari Jedah tiba di Ampel, Surabaya. Ya beliaulah Syekh Wali Lanang – yang segera meneruskan jalan ke tenggara dan berhenti di sebuah desa Blambangan, Banyuwangi.

Waktu itu Raja Blambangan sedang murung: anak gadis satu-satunya sakit, tak mempan obat. Patih Semboja melapor bahwa di wilayah kerajaan ada seorang asing, mungkin bisa dimintai tolong. Oke, kata Sang Prabu, sedangkan sang Syekh tak keberatan. Sembuh – dan Anda bisa menebak kelanjutannya, bukan?

Agak lama kemudian, Wali Lanang mengajak mertuanya menjadi muslim. Ditolak. Syekh Wali, yang kecewa, minggat ke Malaka, sementara sang istri hamil. Lalu negeri dirundung malang: penyakit berangkit, banyak rakyat mati. Raja murka dan Patih Semboja dicopot. Lantaran malu, Semboja lari, lalu mengabdi kepada Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit, dan diposkan di Giri.

Dalam pada itu sang putri melahirkan. Tapi Raja yang masih murka menitahkan oroknya dimasukkan ke kandaga dan dilarung ke laut. Di laut, kandaga diambil nakhoda yang sedang berlayar, kemudian diserahkan kepada Nyi Semboja. Janda kaya raya, yang baru ditinggal suaminya ini, kebetulan tidak punya anak. Dialah yang memberi nama bayi itu Santri Giri.

Menurut C. Lekkerkerker (1938), ketika Majapahit runtuh pada paro pertama abad ke-16, para wali mulai mendapat tempat yang penting di bidang keagamaan dan politik. Selain restu, nasihat-nasihat mereka diperlukan untuk urusan penting.

Sunan Giri, misalnya, yang meminta persetujuan publik, mengangkat Jaka Tingkir sebagai raja Pajang dengan gelar Sultan Adiwijaya. Ia juga, dan para penggantinya, banyak berperan dalam meredakan ketegangan antara raja-raja Mataram dan para vasal (adipati) mereka yang sangat berkuasa di daerah-daerah pantai jawa Timur.

Setelah Sultan Agung naik tahta, kekuasaan ulama dalam politik makin berkurang. Hanya, seperti dikemukakan sejarawan H.J. de Graaf, Mataram masih harus berjuang dua kali lagi untuk menundukkan Giri, yang kemasyhurannya  sebagai pusat Islam tersebar sampai ke Ternate di Maluku Utara.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda