Ramadan

Suasana Ramadan Ala Warga Indo Kiwi

Written by Panji Masyarakat

Tinggal jauh dari keluarga dan menjadi kaum minoritas di New Zealand, tidak menjadi penghalang bagi kami para warga negara Indonesia yang bermukim di Wellington, New Zealand untuk menikmati indah dan syahdunya suasana dibulan suci Ramadan. Bagi orang Indonesia, berpuasa di New Zealand mungkin memiliki keunikan tersendiri karena di New Zealand, Ramadan tahun ini kembali jatuh di musim gugur yang artinya durasi berpuasa kami hanya sekitar 11-12 jam saja. Yang menjadi tantangan terbesar justru datang dari lingkungan yang sebagian besar non Islam.

Diantaranya adalah siap untuk menjawab pertanyaan rekan kerja yang keheranan karena kita tidak lagi bisa makan saat istirahat, juga terutama bagi anak-anak di sekolah. Anak saya kerap kali curhat bahwa dia bosan ditanya teman-temannya kenapa tidak makan? Teman-teman di sekolah mereka pun ada yang merasa kasihan dan menawarkan makanannya dengan anggapan tidak makan karena tidak punya makanan. Namun setelah dijelaskan dan diberi pengertian mereka bisa mengerti dan menghargai kita. Anak-anak saya pun semangat untuk melaksanakan puasa walau sendirian serta adanya dukungan dari guru dan sekolah sehingga mempermudah mereka menjalankan ibadah di negeri Kiwi ini.

Yang juga spesial dari bulan Ramadan bagi kami para umat muslim di Indonesia adalah tradisi tahunan yang dipayungi oleh organisasi bernama UMI (Umat Muslim Indonesia) yaitu berupa acara buka bersama yang selalu diadakan 4  kali selama bulan puasa. Acara-acara seperti ini sangat dinantikan oleh warga Indonesia karena selain tujuan ibadah dan silaturahim tentunya juga acara yang diadakan oleh kita dan untuk kita seperti ini kerap dimeriahkan dengan kuliner khas Indonesia yang selalu dirindukan para perantau.

Acara buka bersama atau yang kami sebut dengan tarling (Taraweh Keliling) biasanya diadakan di akhir pekan. Tim pelaksana terdiri dari 4 kelompok yang dibagi berdasarkan wilayah, yaitu tim Hutt City Area, tim Wellington Central area, tim Northern Suburbs dan tim Kedutaan Besar Republik Indonesia yang berada di Wellington. Tiap kelompok bertugas menjadi tuan rumah mulai dari mencari tempat, menyebarkan undangan, mengatur susunan acara, mencari imam solat, menyediakan makanan dan sebagainya. Acara biasanya dihadiri oleh 150 sampai 200 orang yang terdiri dari kaum muslimin muslimat Indonesia dan dari negara lain sebagai tamu undangan.

Kebetulan karena saya tinggal di area Lower Hutt, maka saya masuk kedalam tim Hutt City Area yang kebagian menyelenggarakan acara tarling di minggu kedua Ramadan yaitu pada tanggal 18 Mei 2019.

Warga Hutt City yang dikoordinir oleh Atase Pertahanan Bapak Kol. Iwan Suryono bahu membahu bekerja sama demi suksesnya acara tahun ini. Kali ini kami memilih menyewa aula sekolah Hutt Central yang berada di Lower Hutt, disini aula sekolah lazim disewakan bagi masyarakat umum yang ingin menyelenggarakan acara-acara besar.

Tentu tidak lengkap acara berbuka puasa tanpa kehadiran makanan-makanan sedap yang dimasak oleh ibu-ibu Hutt City, mulai dari penganan takjil seperti donat, tahu goreng, lumpia pisang cokelat, es teler dan tentu tidak lupa kurma disediakan panitia untuk seluruh tamu. Para undangan pun datang membawa buah tangan berupa snack khas Indonesia seperti risol, pastel, cenil, bolu srikaya, kumbu kacang merah dan sebagainya. Makanan utama disajikan dalam bentuk prasmanan disediakan untuk 200 porsi berhasil disusun menarik hingga menggugah selera para tamu hadirin. Kembali hadir menu kuliner ala Indonesia seperti telur balado, tempe orek, ayam kalio, tentu tidak lupa sambal dan kerupuk yang bisa menggoyang lidah. Anak-anak pun gembira bisa bermain bersama teman-teman satu negara sambil menikmati jajanan yang nikmat.

Foto: Tuan rumah penyelenggara ibu-ibu Hutt City berpose didepan hidangan utama. Sumber Bayu Sampurno

Acara dimulai dari kumandang adzan Maghrib dan para tamu dipersilahkan berbuka dengan takjil yang dilanjutkan dengan solat Maghrib berjamaah untuk kemudian menikmati hidangan utama.

Foto: Bapak Duta Besar, Tantowi Yahya beserta ibu dan para tamu undangan menikmati kuliner khas Indonesia pada acara buka bersama di Wellington, New Zealand. Sumber Bayu Sampurno

Selesai bersantap, suasana makin hangat dan meriah dengan penampilan group anak-anak yang menyanyikan lagu religi menggunakan Bahasa Indonesia. Walau beberapa anak terbata-bata karena jarang menggunakan Bahasa Indonesia namun mereka antusias berlatih dan memberikan penampilan terbaik menghibur para tamu undangan.

Foto: Acara hiburan persembahan anak-anak Hutt City.  Sumber Bayu Sampurno

Acara kemudian dilanjutkan dengan solat Isya berjamaah, ditutup dengan solat tarawih berjamaah dan doa bersama yang dipimpin oleh Shaikh Khaled Mohsen Alowaini dari World Assembly of Muslim Youth (WAMY). Beliau juga memberikan tausiyah yang disampaikan dalam Bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan langsung oleh Shaikh Khaled Abbas dari Al Ameen dalam Bahasa Inggris.

Foto: Masyarakat Muslim Indonesia khusyuk mendengarkan tausiyah Shaikh Khaled Mohsen.  Sumber Bayu Sampurno

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, acara buka bersama malam itu telah berlangsung dengan meriah. Suasana silaturahim saudara-saudara seiman berhasil menghangatkan suasana hati dan ruang walau malam itu suhu di Wellington mencapai 8-10 derajat celcius. Semua penyelenggara pun bersiap membersihkan dan merapikan kembali ruangan yang disewa dan semua tamu kembali ke rumah dengan perasaan senang.

Inilah sekelumit gambaran suasana bulan Ramadhan di negara dekat kutub selatan ini. Semoga semua yang kita lakukan bisa bernilai ibadah dan meraih keridhaan Allah SWT di bulan suci ini.

Siti Aisyah Farhana (Wellington, New Zealand)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda