Mutiara

Sang Rajawali Quraisy

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Tidak banyak orang yang memiliki daya juang seperti Abdurrahman Ad-Dakhil, yang lolos dari pengejaran penguasa Abbasiyah, dan kemudian mendirikan dinasti Umaiyah di Andalusia, yang kelak menjadi pusat peradaban dunia.

Konon, musuh yang berada di dalam, biasanya memiliki sekutu di luar. Tapi inilah agaknya yang tidak disadari Abu Ja’far Al-Manshur, khalifah kedua dinasti Abbasiah, ketika secara sembrono mengangkat Al-A’la ibn Mughits  sebagai gubernur Spanyol   pada tahun 761.  Dua tahun kemudian   Al-A’la terbunuh, dan kepalanya dipenggal, kemudian diawetkan dengan garam dan kamper, lalu dibungkus disertai sehelai bendera hitam dan lembar surat pengangkatannya. Kepala itu lalu dikirimkan kepada Al-Manshur, yang sedang menjalani ibadah haji ke Mekah. Al-Manshur yang pada satu kesempatan lain menyebut Abdurrahman  sebagai “elang Quraisy”,  saat itu berseru, “Puji syukur kepada Allah karena telah menghamparkan lautan antara kami dengan sang musuh!”

Yang mengirimkan paket mengerikan itu tidak lain adalah Abdurrahman ibn Muawiyah, cucu Hisyam, khalifah ke-10 Bani Umaiyah. Dia memang termasuk dari segelintir keluarga Umawi keturunan Muawiyah ibn Abu Suftan) yang lolos dari pembantaian dan pengejaran maut kaum Abbasi. Tampilnya Bani  Abbasiyah ke tampuk kekuasaan pada tahun 750 memang ditandai dengan genosida,  pembantaian  massal,  terhadap anggota keluarga Umaiyah.

Upaya pemuda Abdurrahman ibn Muawiyah  menyelamatkan diri dari perburuan penguasa dan tentara Abbasiyah, berlangsung dramatis. Kurang lebih lima tahun ia   menyamar dalam pengembaraan melewati Palestina, Mesir dan Afrika Utara, serta beberapa kali lolos dari pantauan telik sandi Abbasiyah. Sejarawan Philip K. Hitti menyebut bahwa kisah pelarian pemuda  berusia 20 tahun itu telah  membentuk salah satu episode paling dramatis dalam sejarah Arab.

Abdurrahman memulai pelariannya  dari sebuah perkemahan orang Arab Badui di tepian kiri sungai Efrat, tempat ia tinggal beberapa saat untuk menyelamatkan diri dari kejaran penguasa Abbasiayah. Suatu hari, panji-panji hitam Abbasiayah tiba-tiba muncul di dekat kemah itu. Bersama adik lelakinya yang berusia tiga belas tahun, ia lari menuju sungai. Sang adik, yang ternyata tidak terlalu pandai berenang, memercayai janji yang diucapkan para pengejar dari pihak Abbasiayah bahwa mereka akan memberikan pengampunan. Janji serupa yang diberikan kepada Sulaiman dan 70 anggota keluarga Umaiyah lainnya ketika diundang audiensi oleh As-Saffah, khalifah pertama Abbasiyah. Karena itu,  ia kembali dari tengah sungai – dan ternyata  hanya untuk menjemput maut.  Sementara sang kakak, terus berenang dan sampai seberang.

Setelah itu, dengan susah payah Abdurrahman di bawa ke Palestina oleh budaknya, Badr,  yang setia dan cekatan, dan telah ia merdekakan. Dari Palestina ia meneruskan perjalanan ke Afrika Utara. Di sini  ia luput dari pembunuhan oleh gubernur setempat.

Abdurrahman Ad Dakhil

Berkelana dari suku ke suku, dan dari kota ke kota, tanpa sahabat dan tanpa uang, sang buronan akhirnya sampai di Ceuta (755). Paman-pamannya dari pihak ibu adalah orang Berber yang berasal dari tempat itu, dan mereka memberinya perlindungan. Kemudian ia mengutus Badr menyeberangi selat untuk berunding dengan sejumlah divisi Suriah dari Damaskus dan Kinasrin yang bermukim di Elvira dan Jaen. Banyak di antara para pemimpinnya — orang-orang yang dilindungi penguasa Umaiyah — menyambut  kesempatan untuk bersatu di bawah kepemimpinan seseorang penyandang sebuah nama yang telah tertanam kuat di benak seluruh orang Syam.  Tak hanya itu, orang Syam   pun berhasil merangkul Yamaniah ke pihak mereka. Bukan lantaran mereka mencintai Abdurrahman, melainkan karena membenci gubernur mereka, Yusuf.

Akhirnya sebuah kapal dikirim untuk mengangkut Abdurrahman dari Afrika Utara, sang pemimpin baru. Seorang yang berperawakan tinggi dan kurus, dengan roman tajam seperti rajawali, dan rambut merah tipis, yang akan membangun kembali kejayaan dinasti Umaiyah. Bukan di Damaskus atau Bagdad – tapi di Andalusia, yang kelak menjadi pusat peradaban penting di dunia. Dan pengiriman paket misterius berisi kepala gubernur kepada penguasa Abbasiyah itu adalah penanda ditancapkannya kekuasaan Ad-Dakhil, julukan untuk Abdurrahman ibn Muawiyah. Ad-Dakhil berarti yang masuk alias sang penakluk. 

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda