Mutiara

Abdullah ibn Mubarak (2): Membatalkan Haji Demi Perempuan Miskin

Jamaah haji/umroh sedang tawaf mengelilingi ka'bah (ilustrasi foto/Ziedkammoun/Pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Abdullah ibn Al-Mubarak menyatakan, makmur tidaknya  rakyat tergantung  bagaimana pemimpin membuat peraturan. Tidak sedikit  peraturan  yang dibuat penguasa yang hanya menguntungkan mereka sendiri  atau segelintir orang, serta merugikan atau menyengsarakan orang banyak 

Abdullah ibn Al-Mubarak  tergolong pribadi yang unik.Selain berbagai bakat dan keahlian yang dimiliknya itu, dia punya kepedulian yang luar biasa, terutama kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung. Dia misalnya pernah membatalkan haji, karena dalam perjalanan dia bertemu dengan seorang perempuan di Kufah sedang memungut bangkai dari tempat sampah untuk memberi makan anak-anaknya. Perempuan miskin serta anak-anaknya itu rupanya sudah berhari-hari tidak makan, dan untuk mempertahankan hidup mereka terpaksa makan bangkai. Abdullah pun memberikan bekal perjalanannya, dan meminta ibu itu tidak mengulangi perbuatannya. Dia sendiri tertahan di kota itu dan baru bisa mengumpulkan ongkos setelah musim haji usai. Dia pun kembali ke kampung halamannya, dan disambut sebagaimana laiknya orang baru pulang haji.

Abdullah pun bercerita  bahwa dia urung berhaji karena dia harus menolong perempuan tadi. Di antara orang-orang sekampung yang baru pulang haji mengatakan, “Bukankah Anda yang membawa uang titipan saya, dan uang itu saya ambil ketika kita bertemu di Arafah?” kata seseorang. Yang lain menimpali, “Ente juga yang kasih saya minum sewaktu di Mekkah.” Berulangkali Abdullah menjelaskan, bahwa dia tidak jadi naik haji lantaran kehabisan bekal akibat menolong seorang perempuan dan anak-anaknya yang kelaparan. Toh mereka tidak percaya juga. Sampai suatu malam Abdullah pun bermimpi, “Hai Abdullah, Allah SWT menerima sedekahmu. Dia kemudian menyuruh seorang malaikat menyamar jadi kamu, dan menggantikan kamu menunaikan ibadah haji.”

Dalam kisah lain disebutkan, Abdullah biasa beristirahat di sebuah penginapan langganannya jika dia melakukan perjalanan ke luar kota. Sebagai pedagang, dan orang yang gemar mencari ilmu dan mengumpulkan hadis, serta prajurut perang, belum lagi kegiatan rutin lainnya seperti naik haji ke Mekkah, Abdullah memang banyak melakukan perjalanan. Di penginapan langganannya itu ada seorang pemuda yang biasa sibuk mengurus keperluannya. Selain melayani, pemuda ini belajar hadist kepada Abdullah. Suatu hari dalam perjalanan pulang dari peperangan, dia tidak menemukan anak muda itu di penginapan. Dia pun memperoleh info bahwa pemuda ditahan akibat terlilit utang. Jumlahnya 10.000 dirham. Setelah beroleh keterangan siapa orang yang mengutangi  pemuda itu, Abdullah segera menemui orang itu dan membayar kontan utang si pemuda. Dia berpesan agar tidak menceritakan kejadian itu kepada siapa pun selama dia hidup. Dia minta besok pagi pemuda itu dibebaskan.

Sosok Abdullah ibn Al-Mubarak  juga mampu menyedot perhatian banyak orang. Pernah Abdullah singgah di sebuah kota. Ke kota ini pula Khalifah Harun Al-Rasyid berkunjung. Seseorang bertanya kepada seorang perempuan yang belakangan diketahui adalah budaknya Harun Al-Rasyid. Berkata orang itu:

“Mengapa orang-orang pada berduyun-duyun mendatangi Abdullah ibn Mubarak?”

“Karena Abdullah terkenal sebagai orang yang alim, berilmu, zuhud dan dermawan. Maka banyak orang yang ingin bertemu dan mendengar nasehat-nasehatnya.”

“Bagaimana dengan Khalifah, yang berkunjung ke kota ini?”

“Banyak juga orang-orang yang datang, berkumpul untuk menyambutnya. Tapi orang-orang itu mau berkumpul karena mereka disuruh oleh polisi.”

Abdullah ibn Al-Mubarak pernah berkirim surat kepada sahabatnya Fudhail ibn Iyadh, seorang sufi besar yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk beribadah dan berasyik-masuk dengan Tuhan. Surat itu dia kirim selepas mengikuti perang, sementara Fudhail mengasingkan diri dari kehidupan orang ramai untuk menumpahkan kerinduannya kepada Tuhan. Dalam surat yang ditulis dalam bentuk syair itu, Abdullah ibn Mubarak menyeru:

Wahai abid dua tanah haram, jika engkau melihat kami,  niscaya kau sadar  bahwa engkau  hanya bermain-main dalam ibadahmu.

Orang yang membasahi lehernya dengan air mata, sedang tengkuk kami bersimbah  darah.

Dia memenatkan kudanya dalam sia-sia, sedang kuda-kuda kami letih karena peperangan

Kamu berbau harum dengan minyak wangi, sedangkan minyak wangi kamu adalah peluh kuda dan debu

Konon setelah membaca surat itu, Fudhail meneteskan air mata, dan berkata: “Kamu benar Ibnul Mubarak. Demi Allah, kamu benar.” Abdullah ibn Al-Mubarak pernah menyatakan bahwa makmur tidaknya  rakyat tergantung  bagaimana pemimpin membuat peraturan. Tidak sedikit  memang peraturan  yang dibuat penguasa yang hanya menguntungkan mereka sendiri  atau segelintir orang, merugikan atau menyengsarakan orang banyak  Dan rakyat tidak bakal hidup makmur jika peraturan yang dibuat pemimpin mereka tidak pro kepada mereka.

Peringatan yang dilontarkan Abdullah ibn Al-Mubarak sekitar 13 abad yang lalu itu terasa masih relevan sampai sekarang

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda