Di atas telah dikemukakan keindahan pengalaman George di kalangan Republik Indonesia di masa revolusi. Setelah paspornya kembali dan ia lagi-lagi berkunjung ke negeri kita, ia juga mengalami masa-masa indah yang menyenangkan. Tahun-tahun menjelang kejatuhan Soekarno, ia masih bercanda dengan tokoh kita ini. Bahkan pada 1963 ia diajak Presiden Soekarno untuk mengikuti Konferensi Manila yang membahas persoalan negara baru Malaysia bersama Perdana Menteri Tengku Abdul Rahman dari Malaysia dan Presiden Macapagal dari Filipina.
George bagaikan salah seorang anggota delegasi Indonesia di Manila itu. Ia sepesawat dengan rombongan Soekarno, ditempatkan di hotel yang sama, malah ia diberi mobil “dinas” oleh pemerintah Indonesia untuk hal ini. Entah sengaja entah tidak, mobil yang disediakan delegasi untuk George bernomor 13. Walaupun George berterima kasih atas kepercayaan dan perlakuan ini, ia juga tahu diri. Ta memang menginap di hotel yang disediakan untuk delegasi, tetapi ia tidak mau bila hotelnya juga dibayar oleh pihak Indonesia.
Atas kemauan sendiri, ia membayar sendiri hotel dan makannya. Ia juga sering tidak memakai mobil “dinas” tadi, tetapi lebih banyak menggunakan taksi. Ia sering berhubungan dengan pihak Filipina dan pihak Malaysia, untuk menyampaikan pendapat pihak Indone. sia termasuk pendapat Soekarno kepada pemimpin kedua negara itu, dan ia juga menyampaikan pendapat delegasi Filipina kepada Bung Karno langsung dan kepada beberapa orang delegasi Indonesia. Dalam rangka ini, ia bagai seorang penghubung antara pihak pihak yang bertikai.
Ia tentu tidak setuju dengan Demokrasi Terpimpin-nya Soekarno. Tetapi ia juga tidak setuju dengan banyaknya orang CIA berkeliaran di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung masa itu. Sebaliknya ia tidak bisa menerima, sebagaimana juga bekas murid-muridnya di Amerika Serikat, pendapat bahwa kup 30 September 1965 adalah kerja PKI.
Mantan murid George, termasuk Ben dan Ruth serta beberapa orang kawannya yang lain, menerbitkan buku tentang peristiwa kup tersebut. Walaupun hasil disebut sementara, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, kesimpulannya berkecenderungan, bahwa peristiwa itu bukan merupakan kup yang sebenarnya. .Mereka ebih melihat peristiwa tersebut sebagai persoalan dalam Angkatan Darat negeri kita. Apa yang disebut Cornell Paper ini memang dilarang masuk di Indonesia selama Orde Baru. Juga George Kahin lama tak diizinkan masuk ke negeri kita, dan Ben Anderson lebih lama lagi. Ben baru bisa masuk ke Indonesia setelah Soeharto jatuh.
Pengalaman di Vietnam dan Kamboja
Pendirian George terhadap perkembangan negara-negara baru seperti Indonesia, dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya, jelas tampak dari kunjungannya ke Vietnam dan Kamboja pada 1960-an. la termasuk salah seorang di Amerika Serikat yang benar-benar , menonolak serbuan Amerika Serikat di belahan dunia ini. Amerika langsung menggempur Vietnam karena Prancis praktis tidak bisa berbuat apa-apa di sana menghadapi kalangan komunis yang dipimpin oleh Ho Chi Minh. Betapapun Ho Chi Minh menginginkan kemerdekaan bagi negerinya.
Pengalaman George di Vietnam dan Kamboja tidak sama dengan pengalamannya di masa revolusi di Indonesia. Ia memang melihat pertempuran di Indonesia, di antaranya serangan Belanda ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948, dan beberapa kali pertempuran di Yogyakarta dengan masuknya TNI ke ibu kota dua kali pada 1949. Ja ketika itu bersimpati dengan Indonesia.
Tetapi lukisannya tentang pertempuran Amerika di Vietnam dan Kamboja tak bisa dibandingkan dengan pertempuran di Yogyakarta. Yogya memang menderita ketika itu, tetapi penderitaan rakyat Vietnam dan Kamboja dengan pengeboman dan pertempuran yang dilakukan oleh Amerika Serikat (dengan bantuan juga dari pasukan setempat) tidak dapat dibandingkan, karena memang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata dan analisis. George berhasil menggambarkan, dalam bukunya yang kita rujuk tulisan ini, penderitaan rakyat Vietnam dan Kamboja fengan sarangan-serangan dahsyat pihak Amerika Serikat. Rumah sakit, kampung halaman penduduk, tempat memelihara anak-anak, semuanya diserang Amerika Serikat. George memang melihat sendiri tempat-tempat yang dibom itu. Maka dalam rangka ini George lebih merupakan cermin kemanusiaan dan bukan cermin adikuasa Amerika.
Bertemu Nehru dan Krishna Menon
Ada hal lain yang perlu juga saya ceritakan sedikit di sini, dan ini cerita luar Asia Tenggara. Pada 1955, setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung yang turut juga ia sertai sebagai pengamat, George pergi ke India, bertemu dengan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dan orang keduanya, Krishna Menon. Pendapat Nehru sudah banyak dikenalnya langsung dalam Konferensi Asia Afrika tersebut. Ketika itu soal sekitar pertemuan Asia-Afrika sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Tetapi menyadari peran India dalam rangka pertemuan ini, juga dalam rangka perjuangan kererdekaan Indonesia selama revolusi, ia sengaja ingin bertemu dengan Nehru dan Krishna Menon.
George menghargai dengan mengakui kebesaran kedua orang ini, tetapi ia kecewa sangat terhadap pendirian mereka tentang Islam. Nehru tidak mau menerima penilaian George bahwa, di antaranya, Masyumi di Indonesia merupakan partai yang juga sangat setuju dengan penegakan sosialisme (Nehru termasuk juga sosialis), walaupun disertai embel-embel religious, jadi religious socialism. Menon lebih lagi. Secara pribadi tokoh India ini memperkuatkan keangkuhannya ketika menerima George, di rumahnya yang merupakan bekas istana penjajah Inggris. Menon menerima George sambil duduk memegang baskom berisi anggur, yang terus dikunyahnya. Menon tidak berdiri sama sekali menerima tamunya. la juga tidak beranjak dari kursinya ketika George berpamitan. Goerge melihat kedua tokoh India itu sangat sombong. Nehru dak mempercayai keterangan George tentang Islam-nya Masyumi, Menon apalagi. Mereka melihat Islam di Indonesia sama saja dengan Pakistan, yang dianggap telah memecah anak benua—negeri mereka—menjadi dua: India dan Pakistan.
Banyak lagi yang dapat diceritakan dari kisah George pada buku yang baru terbit ini. Tetapi tulisan di atas agaknya memadai untuk menempatkan George yang menjadi guru besar bagi sebagian cendekiawan kita pada tempat yang penuh dengan rasa kemanusiaan dan persahabatan yang sama dengan persaudaraan. Ia senantiasa akan dikenang oleh para muridnya sebagai seorang yang sangat baik. Dan bangsa kita, baik yang datang kemudian sebagai pelanjut dari para cendekiawan kita tadi ataupun sebagai pelanjut generasi kita, tentu akan berterima kasih sekali kepada George karena tulisan-tulisannya yang menempatkan kita dan bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara sebagai bangsa yang memang berhak hidup bersama negara mana pun juga. Baik dengan negara adikuasa atau bukan, untuk akhirnya menyatukan umat sedunia. Mudah-mudahan.
Dan penulis sendiri memang sangat berterima kasih kepada George. Agaknya, tanpa George, saya rasanya tidak akan mungkin menyelesaikan studi saya sampai Ph.D, di Amerika pula. Alhamdulilah.

Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer (1926-2008), ilmuwan politik, guru besar dab rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.
Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Februari 2003.


