Ketika saya pada 1966 untuk pertama kalinya ke Malaysia, persisnya ke University of Malaysia (UM), mayoritas mahasiswa di universitas itu adalah keturunan Cina. Hal ini terjadi karena di sana pribumi (dalam bahasa Malaysia: bumiputra) rata-rata tidak cukup pandai untuk masuk universitas bergengsi. Demikian pula dengan roda perekonomian yang masih didominasi oleh warga nonpribumi yang jumlahnya lebih banyak (secara proporsional) ketimbang nonpri Indonesia. Pada masa itu kebencian dan prasangka terhadap etnis Cina pun sangat kuat di kalangan bumiputra dan beberapa kali pula tercatat kerusuhan rasial di negeri itu. Sama saja dengan di Indonesia.
Pada kesempatan itu, saya beberapa kali diundang untuk meninjau MARA (Majelis Amanah Rakyat), yaitu sejenis lembaga koperasi bumiputra yang pada masa itu mulai digalakkan oleh pemerintah Malaysia. Kemudian, pada awal 1970-an, saya ikut membantu menyeleksi guru-guru IPA dan biologi dari berbagai SMA terbaik di Indonesia untuk ditugaskan mengajar di SMA bumiputra di Malaysia. Beberapa tahun sesudah itu didirikankan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), yaitu perguruan tinggi khusus untuk bumiputra. Pada pertengahan 1980-an, seorang senior saya, psikolog Susmaliah Soewondo (sekarang Prof. Dr.) ditempatkan di departemen psikologi universitas tersebut dan saya pun sempat mengunjunginya yang waktu itu masih embrio. Terakhir, pada 1994, saya datang lagi ke Departemen Psikologi UKM dan kali ini departemen ini sudah mempunyai beberapa profesor dan sudah pula mendidik calon-calon doktor dari luar negeri (termasuk dari Indonesia).
Dalam pada itu, institut MARA sudah berkembang pesat, bisa berfungsi dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan Cina. Namun Cinanya sendiri tidak mati atau dimatikan. Para profesor keturunan Cina dari berbagai universitas di Malaysia masih aktif di berbagai forum , ilmiah internasional. Toko-toko milik Cina di Kuala Lumpur masih tetap saja meraksara Cina dengan warna-warna merah dan keemasan yang mencolok, warganya masih tetap berbahasa Cina dan beragama Kong Hu Cu. Bedanya adalah bahwa Cina Malaysia generasi sekarang sudah mahir berbahasa Malaysia, bangga menyatakan diri sebagai warga Malaysia dan bekerja sebagai apa saja, termasuk menjadi pegawai pemerintah (baca: kaki tangan kerajaan, menjadi polisi dan anggota militer, bahkan ada yang dianugerahi gelar bangsawan. Yang jelas tidak ada sama sekali sadisme, penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap warga Cina seperti yang terjadi di Indonesia baru-baru ini.
Sebaliknya, di Indonesia telah terjadi sadisme yang kekejamannya melebihi Hitler atau Westerling). Puncaknya terjadi pada 13-14 Mei 1998 lalu, tetapi sebelum itu juga terjadi di Situbondo, Tasikmalaya, dan Rangkasdengklok (semuanya terjadi pada 1996). Apa yang terjadi dengan Indonesia? Padahal Indonesia yang sejak awal kemerdekaan sudah diliputi prasangka rasialis terhadap etnis Cina (yang hanya 3%) sudah berupaya untuk membaurkan Cina ke dalam masyarakat pribumi. Mereka disuruh ganti nama, pindah agama (Kristen, Islam atau Buddha) dengan melarang kepercayaan leluhur mereka: Kong Hu Cu, menutup sekolah-sekolam Cina, melarang koran-koran beraksara Cina, mengusir Cina dari pedesaan ke kota-kota kabupaten, melarang mereka mengembangkan bahasa Cina, membatasi mereka masuk perguruan tinggi negeri, pegawai negeri dan ABRI, dan membatasi hak-hak sipil mereka yang lain. Pokoknya, mereka hanya boleh berdagang. Itu pun serba dibatasi: izin usaha dihambat, dikenaiberbagai pungutan, harus berkongsi atau dibeking pejabat atau aparat.
Namun, nyatanya, warga keturunan Cina tidak kalah maju dari yang pribumi. Bahkan di beberapa bidang lebih maju. Ini kalau kita sebut nama Rudy Hartono, Liem Swie King, Kwik Kian Gie, Melly Tan, dan mendiang Yap Thiam Hien. Lalu, tentu saja bidang perdagangan, mulai dari dagang kecil sampai dagang yang paling besar, mereka jauh lebih maju. Reaksi yang timbul di kalangan masyarakat pribumi (tentunya tidak semua) adalah perasaan yang makin benci dan makin memusuhi golongan nonpri. Inilah yang merupakan benih kebencian yang akan berlanjut sampai anak-anak itu menjadi dewasa. Inilah yang pada 13-14 Mei yang lalu telah menjebolkan segala benteng agama dan Pancasila yang selama kemerdekaan RI (khususnya – sejak Orde Baru) selalu didengungkan dan ditanamkan pada masyarakat melalui pendidikan, penataran P4, dan ceramah atau dakwah.
Jelaslah bahwa agama dan Pancasila telah gagal dalam mengerem perilaku biadab yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia- manusia yang berhati nurani. Padahal, agama dan Pancasila mengajarkan nurani. Mengapa bisa begitu? Karena nurani dan nilai-nilai itu hanya ada di bibir saja, di GBHN dan dalam pidato atau doa. Namun, yang lebih menyakitkan adalah yang terselubung di balik kenyataan bahwa segelintir nonpri dimanfaatkankan oleh (atau saling memanfaatkan) segelintir pribumi (penguasa, pejabat maupun sanak keluarganya) melalui KKN sehingga mereka (yang pri maupun nonpri) menjadi jauh lebih kaya dari mayoritas bangsa (juga yang pri maupun nonpri) yang tetap seadanya, bahkan miskin. Maka jadilah kita bangsa yang manis di bibir saja. Karena kita mengambil arah yang salah ketika kita bersama-sama membina bangsa ini menuju persatuan dan kesatuan.
Jadi, arah manakah yang benar? Untuk mencapai persatuan dan kesatuan (setidaknya bisa hidup berdampingan secara harmonis dan saling berkinerja seperti di Malaysia), kita harus lebih memberdayakan pribumi, bukan malah mematikan nonpri. Malaysia memberdayakan bumiputra mereka melalui program pendidikan dan institut MARA selama lebih dari 30 tahun. Sementara Indonesia memberdayakan pribumi (di samping mentidakberdayakan nonpri) melalui KKN. Di situlah letak perbedaannya sehingga kerusuhan anti-Cina terjadi di Indonesia, bukan di Malaysia.

Penulis: Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (1944-2016), Guru Besar Psikologi Sosial, penerjemah dan penulis buku-buku psikologi. Kolumnis di pelbagai media massa ini pernah menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Sumber: Panji Masyarakat, No. 13 Tahun II 15 Juli 1998

