Cakrawala

Mengenang Goerge McTurnan Kahin (3): Jalan Hidup Sang Wartawan dan Ilmuwan

Masa Perang Dunia II turut mempengaruhi jalan hidup George Kahin. Setelah memperoleh B.A. dalam sejarah di Harvard College pada 1940, dia harus memberikan pengabdian dalam tentara Amerika Serikat. la tidak merasa senang di sini karena latihannya pun kurang teratur katanya. Dan juga ketika ia ditempatkan di Eropa Barat, sebagai sersan pekerjaannya pun asal saja. la tidak merasakan manfaat apa pun. Ia juga tidak bangga sebagai orang militer.


Master of Arts-nya diperoleh pada 1946 di Stanford, dan pada 1951 ia mendapat gelar Ph.D. di John Hopkins University. Interval kerjanya sebagai wartawan bagi suatu kantor berita kecil New York (Overseas News Agency) pada 1948 akhirnya mengantarkan George ke Indonesia. Ini merupakan bekal baginya kemudian untuk terus memperdalam masalah Indonesia, dan umumnya Asia Tenggara. Sebelumnya ia telah juga mempersiapkan diri dengan mempelajari Bahasa Belanda (yang menurut bagian lingkungan militer Amerika tempat ia mengabdi, termasuk untuk bekal ke Indonesia). Sebelumnya, sebagai mahasiswa undergraduate, ia berkeinginan memperdalam studi Amerika Latin, khususnya tentang orang-orang Indian.

Kepala perpustakaan Kongres Amerika sedang menunjukkan buku terjemahan cerita Mahabrata versi Indonesia kepada H. Agus Salim. Cornell University di Ithaca New York, salah satu Universitas ternama di Amerika, memiliki perhatian penuh pada kajian tentang Indonesia.


Ke Indonesia Pertama Kali
George pergi ke Indonesia dari New York pada 1948 melalui Eropa, menumpang kapal laut. Dalam perjalanan ke Eropa ia sempat berkenalan dengan Cornehs (Kees) van Mook, yang menyelesaikan studi di Massachusetts Institute of Technoloay. Kees adalah anak Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook di Jakarta. Dengan surat pengantar dari Kees, George kemudian dapat berjumpa dan berbincang dengan van Mook senior di Jakarta. Dengan begitu ia segera mengetahui jalan pikiran pihak Belanda tentang negeri kajiannya, Indonesia.


Di Jakarta pula, kemudian di Yogyakarta, George mengenal dengan dekat tokoh tokoh Indonesia, termasuk Soekarno, Hatta, Amir Syarifuddin, dan Natsir. Perkenalannya ini dipermudah dengan surat pengantar dari Haji Agus Salim yang ketika itu bersama Sjahrir dan Soedjatmoko sedang memperjuangkan pengakuan terhadap Republik Indonesia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Hubungan dengan ketiga tokoh kita di New York ini dilanjutkan dengan lebih mesra kemudian, di antaranya dengan mengundang Salim sebagai dosen tamu ke Cornell pada 1953, dan Soedjatmoko kemudian.


Sebagaimana tulisannya sejak semula tentang Indonesia dan beberapa negeri lain di Asia Tenggara, George termasuk orang yang mendukung perjuangan kemerdekaan wilayah ini. Ia menolak kolonialisme dan usaha sebagian negara yang ingin mempengaruhi negeri-negeri ini. Malah ketika masih di Amerika, saat orang-orang Nisei (asal Jepang yang sudah menetap di Amerika) digiring ke kamp-kamp tawanan karena perang Pasifik, George membela mereka atas dasar kemanusiaan. Apalagi orang-orang Nisei itu sudah menjadi warga negara Amerika.


Maka dalam masa revolusi, ketika ia pada 5 1948 ke Indonesia sebagai wartawan, laporan George ke kantor beritanya di New York lebih memperlihatkan simpati pada perjuangan Indonesia. Dalam hal ini ia mendapat kesan bahwa kalangan pemimpin kita berjuang untuk menegakkan nasionalisme dan – sosialisme —yang akhir ini disertai dengan apa yang ia sebut religious socialism (terutama dari kalangan Masyumi), dan kurang komunisme, malah sebagian menolak komunisme sama sekali. Apalagi pemberontakan Madiun terhadap RI tahun 1948 dilancarkan ketika ia sedang berada di Yogyakarta: ini bukti nyata bahwa pihak komunis ingin menghancurkan paham nasionalisme dan sosialisme apalagi yang Islam.


Pendapat George ini disimpulkan juga dari perkenalan tokoh-tokoh Indonesia di Yogyakarta yang ia kunjungi setelah mempunyai sebuah jeep lelangan dari Konsulat Amerika, bekas kendaraan tentara Inggris-India, dengan harga sekitar $500. Jeep ini diangkut dengan kereta api sampai Purwokerto, dan dari sana George (yang turut bersama kereta api itu) mendapat kesempatan ke mana saja dengan jeep tadi di daerah Republik. Beberapa pejabat tinggi kita, di antaranya Roeslan Abdulgani dari Kementerian Penerangan, penah ikut dengan jeep ini ke daerah-daerah.


Apalagi serangan Belanda kedua ke Yogyakarta, Desember 1948, dilakukan dengan segala cara yang menyebabkan jatuhnya korban yang bergelimpangan tanpa pilih, termasuk anak-anak, perempuan, ,para orang tua, malah juga beberapa orang pejabat tinggi, antara lain Mr. Santoso, suami Maria Ulfah, yang juga dikenal George. Juga dua orang anak Abikusno Tjokrosujoso, pemimpin Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), tidak luput dari kekejaman Belanda. George sangat bersimpati dengan mereka: dan dengan Republik Indonesia.


Maka pandangan George ini berbeda sekali dengan berbagai tokoh pemerintahan Amerika Serikat, termasuk beberapa orang di konsulat Amerika di Jakarta, yang melihat gerakan nasionalisme di Indonesia dipengaruhi oleh komunisme. Akibatnya, karena tidak bisa membedakan antara nasionalisme-sosial1sme Indonesia dan komunisme, kadang-kadang politik resmi dari Amerika Serikat lebih memperlihatkan kekhawatiran tentang komunisme nii. Dampaknya bagi seorang George Kahin pun pahit sekali: pada 1950 paspornya dicabut oleh pemerintah Amerika Serikat, terutama karena ketidaksukaan Merle Cochran, anggota dari pihak Amerika Serikat dalam Komisi Tiga Negara yang berusaha menyelesaikan pertikaian antara Indonesia dan Belanda), dan kemudian duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, terhadapnya. Rupanya pertikaian pendapat di negeri seperti Amerika Serikat, yang mengaku menegakkan demokrasi, bisa juga berimbas ke soal pribadi. Malah lamaran Kahin untuk menjadi pengajar di Universitas Cornell hampir saja menghadapi jalan buntu. Tetapi mantan guru dan pembimbingnya di John Hopkins mendukung George.


Pihak Belanda, setelah serangan ke Yogyakarta itu, juga tidak bisa merelakan George terus di Yogyakarta. Ia harus kembali ke Jakarta. Tapi, dalam hubungan dengan Amerika, tentu George berusaha melenyapkan tuduhan yang tak semena-mena terhadap dirinya kalangan pemerintahan Amerika. Apalagi masa-masa itu, 1950-1952, Amerika dilanda oleh paham McCarthy, atau McCarthyism, yang sangat “antikomunis”. Orang yang tidak setuju dengannya, dan dengan beberapa kebijakan pemerintah Amerika Serikat menghadapi Cina dar Rusia, dicap komunis atau bersimpati dengan komunis. Senator Joseph McCarihy ini bagaikan menentukan kebijaksanaan Amerika memerangi komunisme, apalagi kemudian saudaranya, Allen Dulles, mengepalai pula CIA, Badan Intelijen Amerika Serikat, langsung sini menggemakan pendapat-pendapat negatif tentang beberapa tentang di negeri kita. Malah beberapa guru besar yang lebih senior dibanding George, diincar oleh Mc Carthy.


Yang susahkan pula, dalam memberi kuliah pun George diincar oleh agen agen McCarthy. Ada mahasiswa yang disuruh pihak agen ini untuk mengikuti dan mencatat semua kuliah yang diberikan George. Tentu disertai imbalan uang. Ini diberitakan juga oleh koran mahasiswa Cornell Sun, editor koran mahasiswa ini juga bercerita tentang hal ini kepada George. Mengetahui hal ini sekarang, saya teringat betapa mahasiswa-mahasiswa komunis dan nasionalis yang dipengaruhi komunis sengaja menyerang saya dalam berbagai komentar di koran, juga dalam resolusi-resolusi yang mereka cetuskan ketika saya mengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, pada 1964. Bedanya, George masih banyak mempunyai simpatisan secara terbuka, baik di antara mahasiswa maupun di antara para guru besar di berbagai universitas. Sedangkan saya, pada 1964 dan 1965 itu tidak dibela siapa pun, kecuali secara diam-diam oleh kalangan mahasiswa Islam dan beberapa orang di antara tokoh-tokoh yang terlibat dengan PRRI.


Maka ketika Cochran, yang sudah duduk dalam pimpinan World Bank, masih juga hendak menekannya, George Kahin bermaksud membawa persoalan ini ke pengadilan dengan meminta bantuan seorang advokat yang disegani. Kalau ini dilanjutkan, dan bila soal kesubjektifan Cochran terhadapnya memang dapat dibuktikan, kedudukan Cochran pun di World Bank mungkin akan goyah: kepentingan pribadi menyebabkan Cochran pun mengubah sikapnya terhadap George. Pada 1954 paspor George dikembalikan sehingga ia pun bebas ke Asia Tenggara.


Tetapi sikap pejabat seperti ini tidak pula terbatas pada diri Cochran. Paham McCarthyism masih saja terus mengejarnya. la masih terus diawasi, juga dalam bepergian ke Tokyo, Manila, dan bagian lain dari Asia Tenggara setelah paspornya dikembalikan itu. Ketika berada di Jakarta pada 1954 ia diancam oleh Duta Besar Amerika bahwa paspornya akan dicabut kembali bila ia diketahui berhubungan dengan orang-orang PKI. Sang duta besar tidak mau tahu dengan jawaban George bahwa ia perlu menginterviu tokoh-tokoh PKI juga agar mengetahui perkembangan di Indonesia. Malah herannya, ada pula masanya di kedutaan besar adikuasa di Jakarta ini larangan untuk membaca buku George yang terkenal itu, Nationalism and Revolution in Indonesia. George menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan sama sekali dalam rangka ini.


Maka buku Southeast Asia: A Testament mengemukakan bahwa beberapa waktu lamanya George berada dalam ketidaksenangan karena kecurigaan kalangan pejabat terhadapnya. Malah ia dipanggil menghadap Senat untuk mempertahankan atau menerangkan sikapnya. Ia juga dipaksa menghadapi pertemuan-pertemuan yang berusaha menyudutkannya, ada yang terbatas pada kalangan pimpinan universitas bersama dengan pejabat. Demonstrasi mahasiswa oleh pihak yang tidak menyukainya di Cornell. Tetapi demo ini berbalik, ia bisa meyakinkan pendengarnya bahwa ia masih merupakan guru besar yang independen, yang masih berpegang pada kebenaran ilmu berdasar penelitian dan analisis, dan tidak mempunyai maksud sama sekali untuk membela komunis. la tidak suka sama sekali pertarungan dua adikuasa dunia dahulu, masing-masing dengan alasan sendiri, dan yang sama-sama tidak mengenal pendirian bebas dan pendirian membela yang lemah. Kekuasaan, seperti dikatakan Lord Acton, memang cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak korupnya pun mutlak. Kekuasaan Amerika Serikat, dalam perjalanan hidup George, tampaknya mencerminkan kekuasaan golongan pertama—cenderung korup, belum lagi pada korup yang mutlak. Namun George mengalami hal-hal pahit dalam rangka ini. Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer ( 1926-2008), ilmuwan politik, guru besar dab rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.
Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Februari 2003.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button