Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya berbagai kelompok kajian keagamaan, umat Islam perlu semakin bijak dalam memilih guru, lingkungan pengajian, dan sumber ilmu. Semangat belajar agama memang sangat baik, bahkan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, semangat itu juga harus dibarengi dengan kewaspadaan, literasi, dan akal sehat agar tidak terjebak pada paham yang menyimpang, fanatik berlebihan, atau bahkan mengarah pada perpecahan umat.
Islam sejak awal hadir sebagai agama yang menebar kasih sayang dan kedamaian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya: 107). Ayat ini menegaskan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan kebencian, permusuhan, apalagi merasa paling suci sendiri. Rasulullah Saw. diutus untuk membawa rahmat, bukan ancaman; membawa kesejukan, bukan keresahan.
Bahkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (H.R. Ahmad). Hadis ini menjadi pengingat bahwa inti dakwah Islam adalah memperbaiki akhlak manusia. Maka, mustahil seseorang mengaku paling Islami tetapi gemar memecah belah, merendahkan, atau menebar kebencian kepada sesama.
Dalam Islam juga dikenal istilah ‘ashabiyah, yaitu fanatisme golongan yang berlebihan. Islam tidak melarang seseorang mencintai keluarga, organisasi, mazhab, atau kelompoknya. Bahkan ukhuwah dan persaudaraan adalah bagian penting dalam ajaran Islam. Namun, ketika kecintaan itu berubah menjadi sikap merasa kelompok sendiri paling benar, meremehkan pihak lain, membela kesalahan kelompoknya, atau memusuhi sesama Muslim hanya karena berbeda pandangan, maka itulah ‘ashabiyah yang berbahaya.
Rasulullah Saw. pernah mengingatkan tentang bahaya fanatisme golongan yang dapat memecah belah umat. Sebab Islam dibangun di atas persaudaraan, bukan permusuhan. Kebanggaan kelompok yang sehat akan melahirkan semangat kebaikan dan solidaritas, sedangkan ‘ashabiyah justru menimbulkan kebencian, permusuhan, dan hilangnya objektivitas dalam melihat kebenaran.
Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati terhadap kelompok pengajian yang mulai menunjukkan sikap eksklusif, tertutup, dan mudah mengkafirkan pihak lain. Terkadang, kelompok seperti ini hadir dengan tampilan yang seolah sangat religius, namun perlahan menanamkan fanatisme sempit. Mereka lebih sibuk membicarakan kesalahan kelompok lain daripada memperbaiki akhlak dan memperkuat persaudaraan sesama Muslim.
Fanatisme buta terhadap ustadz, tokoh, atau organisasi tertentu dapat menjadi pintu masuk perpecahan. Ketika seseorang merasa kelompoknya paling benar dan yang lain pasti salah, maka benih intoleransi mulai tumbuh. Padahal Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengingatkan: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (H. R. Bukhari dan Muslim)
Islam mengajarkan ukhuwah, saling menghormati, dan tabayyun atau klarifikasi sebelum mempercayai suatu informasi atau ajaran. Jangan mudah terpengaruh oleh ceramah yang penuh provokasi, ujaran kebencian, atau janji-janji yang tidak masuk akal atas nama agama. Misalnya, ada kelompok yang mengklaim hanya merekalah golongan yang selamat, atau mengajarkan hal-hal aneh yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Di beberapa tempat, muncul pula kelompok kecil yang cenderung tertutup dan eksklusif di lingkungan masjid. Mereka sering membuat lingkaran tersendiri, membangun jarak dengan jamaah lain, dan perlahan menanamkan sikap curiga terhadap sesama Muslim. Hal-hal seperti ini perlu diwaspadai secara bijak, tanpa prasangka berlebihan, namun tetap dengan kewaspadaan dan kecerdasan spiritual.
Penting bagi umat Islam untuk terus meningkatkan literasi keagamaan. Belajarlah kepada guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, akhlak yang baik, dan dakwah yang menenangkan hati. Kajian yang sehat biasanya mengajak umat semakin cinta kepada Allah, memperbaiki ibadah, memperhalus akhlak, serta mempererat persaudaraan — bukan menebar kebencian dan paham ekstrem-fanatik buta.
Masjid seharusnya menjadi tempat yang mempersatukan umat, bukan arena penyebaran paham intoleran dan ekstrim-fanatik buta. Islam yang benar akan melahirkan keteduhan dalam hati dan kelembutan dalam sikap. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan semakin bijak dalam menyikapi perbedaan.
Pada akhirnya, menjaga agama bukan hanya soal semangat ibadah, tetapi juga menjaga cara berpikir agar tetap lurus, damai, dan penuh kasih sayang. Sebab Islam bukan agama fanatisme buta, melainkan agama *rahmatan lil ‘alamin* — rahmat bagi seluruh alam.**
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten


