Cakrawala

Mengenal Dahsyatnya Bencana Iman

Musibah atau bencana dalam kehidupan ini sebenarnya bukan hanya yang bersifat fisik, namun juga yang bersifat non-fisik. Sebagaimana halnya rezeki, selain yang bersifat materil, ada pula yang bersifat non-materil seperti kesehatan, usia panjang, kebahagian hidup dan semacamnya. Termasuk juga rezeki dalam hal ini adalah Iman yang diberikan oleh Allah, hidayah dalam hidup, kemampuan bersyukur dan lainnya yang terkait kedekatan hubungan manusia dengan Sang Khalik.

Karena itu jika kita berbicara musibah dalam hidup maka bisa disebutkan ada juga yang terkait dengan musibah Iman. Yaitu suatu musibah yang bisa dihubungkan dengan perilaku-perilaku yang menyebabkan manusia jauh dari Allah dan jauh dari kehidupan beragama dan jauh dari beribadah kepada Allah

Kalau musibah dan bencana alam yang terjadi di negara kita belakangan ini harus menjadi pelajaran yang berharga buat kita. Sudah saatnya pula kita sadari bahwa bencana tersebut tidak terlepas dari sikap kita memperlakukan alam ini yang sewenang-wenang dan berlebihan hingga merusaknya.

Allah telah memperingatkan hal ini dalam surat ar-Rum ayat 41, ” Telah kelihatan kerusakan di darat dan di laut, disebabkan usaha tangan manusia, karena Allah hendak merasakan kepada manusia sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”.

Dari peringatan Allah di atas mengisyaratkan kepada kita sebenarnya suatu bencana dalam hidup manusia bukan hanya bencana alam atau bencana fisik, tapi juga didahului oleh Bencana Iman, bencana karena kita tidak patuh dan tidak taat pada Allah. Karena manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang bermaksiyat kepada Allah

Bencana Iman itu antara lain terwujud dalam perilaku-perilaku manusia seperti berbuat syirik atau mensyarikatkan Allah, tidak melakukan ibadah kepada Allah, berbuat zalim kepada manusia, berlaku tidak adil, serakah dan tamak, tidak perduli halal haram, hidup hanya memuaskan nafsu sendiri, tanpa peduli dengan penderitaan orang lain, serta melakukan perbuatan korupsi.

Secara teologis dan syariah, suatu yang disebut dengan Bencana Iman adalah perbuatan manusia yang bermaksiyat kepada Allah, suatu perbuatan yang mengandung dosa apabila kita mengerjakan. Dan perbuatan dosa yang bisa juga disebut sebagai Bencana Iman ini ada dua macam. Pertama, yang disebut dosa besar (kabirah). Dan kedua yang disebut dosa kecil (saghirah). Disebut dosa besar apabila ada ancaman (wa’id) dari Allah.Sementara disebut dosa kecil bila tidak ada ancaman dari Allah. Namun, menurut Ja’far bin Mubasysyir dari Institut Baghdad menyatakan, setiap perbuatan dosa yang dilakukan dengan niat dan sengaja dilakukan, adalah masuk kategori dosa besar.

Seorang ulama tasauf Abu Talib al-Makki (wafat 996 M) pengarang buku Qut al-Qulb, menyebutkan ada dosa yang mengikuti tubuh manusia. Ada 17 macam banyaknya dengan perincian empat ada di hati (al-Qalb) yaitu syirik, dalam setiap amalan bermaksiyat kepada Allah, merasa selamat dari genggaman Allah, dan kecewa dengan rahmat Allah. Kemudian empat ada di lisan (al-Lisan) yakni memberikan saksi palsu, membuat tuduhan zina terhadap perempuan beriman, membuat sumpah janji palsu, berkata bohong. Seterusnya tiga ada di perut (al-batn) yaitu minum arak, makan harta anak yatim, makan harta riba. Kemudian dua ada di kemaluan,yakni berzina dan liwat (sodomi). Selanjutnya dua ada di badan (al-badan) yaitu, pembunuhan dan pencurian. Lalu satu ada di kaki (ar-Rijl) yakni, lari dari peperangan (jihad). Terakhir, satu terletak di seluruh badan (jami’ al-badan) yaitu, tidak menghormati kedua ibu dan bapak (Lihat Lutpi Ibrahim, Konsep “Dosa” Dalam Islam, Studia Islamika, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta 1980 hal.16).
Ada debat dan perbedaan pandangan di kalangan golongan ahli ilmu kalam tentang orang yang melakukan dosa besar. Kelompok Khawarij mengatakan, orang yang melakukan dosa besar adalah kafir, Mu’tazilah berpendapat, tidak muslim dan tidak kafir, tetapi di antara keduanya, antara muslim dan kafir, kalangan Murjiah mengatakan, masih muslim. Sementara al-Hasan al-Basri mengatakan, muslim yang melakukan dosa besar termasuk golongan orang munafiq

Rusaknya iman atau bencana Iman, merupakan sebuah krisis mendasar dalam hidup manusia. Iman yang sirna dan tipis dalam diri manusia menyebabkan manusia kehilangan sifat kemanusiaannya, yang pada akhirnya ia didominasi perilaku hewaniah yang menghancurkan kehidupan ini dan mudah melakukan lerbuatan dosa yang merupakan bencana bagi Iman dan keyakinan atau Tauhid kepada Allah.

Karena itu jika kita ingin mengatasi krisis lingkungan dan kerusakan lingkungan ini, maka haruslah kita waspada dengan terlebih dulu menjaga diri dari munculnya Bencana Iman atau krisis iman. Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah, dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar dan dosa.

Akhir-akhir ini dengan gagasan pendekatan eko-teologi dalam memelihara hubungan manusia dengan alam pada dasarnya adalah kita mewaspadai terjadinya bencana iman. Iman yang rusak akan berakibat fatal dan buruk untuk kehidupan di akhirat sesudah manusia mengalami kematian. Yaitu siksa neraka dan azab yang dahsyat. Allahu a’lam.

Arfendi Arif

Arfendi Arif, Redaktur Panji Masyarakat, pengasuh Majalah Inhouse Magazine, dan penulis buku dan biografi. Tinggal di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button