Kabut asap menjalar di udara. Masuk juga ke lewat jendela, ventilasi, celah perhatian dan jadi penderitaan. Pagi-pagi, matahari tampak bagai lampu cempor jaman dahulu. Jalan raya menghilang. Gedung-gedung tinggal bayangan. Orang-orang berjalan sambil meraba-raba, seperti sedang mencari akal sehat di ruang rapat.
Asap tidak memilih korban. Ia masuk ke paru-paru bayi, pedagang, guru, pengemudi, dan pejabat. Mata perih, tenggorokan gatal, napas terasa pendek. Dokter menyarankan mengurangi kegiatan di luar rumah. Tetapi bagaimana dengan yang pekerjaannya memang di luar rumah? Asap tidak bisa menunggu sampai jam kerja selesai?
Murid-murid diminta belajar dari rumah. Buku dibuka, tetapi pandangan kabur. Guru mengajar lewat layar, sementara jaringan internet ikut batuk-batuk. Seorang anak menulis di buku tugas: Hari ini saya belajar tentang kabut. Ia menggambar kelas, guru, dan papan tulis. Semuanya tertutup asap. Ketika ditanya apa kesimpulannya, ia menjawab, “Pelajaran yang paling jelas, adalah kita tidak bisa melihat siapa yang bertanggung jawab.”
Kabut asap bukan semata-mata urusan cuaca. Ia punya silsilah panjang: lahan dibakar, hutan dibuka, pengawasan lemah, izin berlapis, dan tanggung jawab yang saling dilempar seperti bola liar. Ketika api mulai membesar, semua orang mendadak sibuk mencari sumbernya. Ada yang menunjuk angin, ada yang menunjuk musim kemarau, ada yang menunjuk peta. Api sendiri menunjuk ke mana-mana sambil tertawa.
Penanganan pun berjalan lamban. Rapat digelar untuk membahas asap yang tidak sabar menunggu kesimpulan. Tim dibentuk, koordinasi disusun, spanduk dipasang: KITA PEDULI KUALITAS UDARA. Di bawah spanduk itu, warga memakai masker. Asap membaca tulisan tersebut, lalu menebalkan dirinya—mungkin tersinggung karena kepedulian dicetak besar-besar.
Di negeri ini, api punya banyak teman. Ada korek, ada lahan kering, ada kelalaian, ada kepentingan. Setelah api menyala, asap mendapat tugas menutupi semuanya. Ia menutupi hutan yang hilang, laporan yang terlambat, janji yang menguap, dan mata yang dibuat tidak melihat.
Politik pun ikut berkabut. Saat ditanya siapa yang membakar, jawaban berputar-putar seperti asap ditiup angin. “Kami sedang mendalami.” “Sudah ada langkah.” “Semua pihak harus bertanggung jawab.” Kalimat-kalimat itu melayang di udara, tetapi tidak cukup tebal untuk menutup batuk warga. Mata rakyat memerah; sebagian karena asap, sebagian lagi karena mendengar penjelasan yang begitu jernih sampai tak seorang pun bisa melihat isinya.
Mungkin kabut asap perlu diberi kursi dalam rapat. Ia paling paham cara menutupi persoalan. Kalau ada yang bertanya siapa membakar hutan, kabut tinggal mengepul sedikit—dan semua jawaban pun lenyap.
Kabut asap itu rupanya punya bakat juga menjadi pejabat: datang tanpa diundang, membuat semua orang sesak, lalu menghilang ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab. Bedanya, pejabat biasanya meninggalkan janji; kabut meninggalkan batuk. Apabila kabut asap, suatu saat dilantik, syaratnya sudah terpenuhi: mampu menutupi masalah, mengaburkan tanggung jawab, dan membuat rakyat sesak tanpa membuat penguasa kehilangan napas. Saat pelantikan, tak perlu podium—cukup nyalakan api. Begitu sumpah diucapkan, rakyat mungkin tidak terlihat. Tapi, dari balik masker yang dibayar sendiri, suara batuk terdengar bersahutan. Mereka sedang menghirup janji yang ikut terbakar.
Dalam kaitan dengan kabut asap ini, banyak pejabat yang menghimbau agar rakyat melihat keadaan secara jernih. Permintaan yang luar biasa: udara keruh, mata perih, hutan menghilang, tanggung jawab menguap—tetapi katanya rakyat harus tetap tenang. Sebuah pernyataan yang bisa jadi ada benarnya, karena di luar kabut asap itu, sebenarnya masih banyak hal yang bisa membuat mata jauh lebih perih: ketidak beresan.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.

