Politik sering kali menghadirkan adegan yang sulit ditebak. Seseorang yang kemarin berdiri di luar pagar kekuasaan, mengkritik, mencurigai, bahkan membongkar kelemahan penguasa, tiba-tiba memilih masuk ke dalam lingkarannya. Publik pun bertanya: apakah ini sebuah pengkhianatan politik, kompromi strategis, atau justru cara baru untuk melawan dari dalam?
Rocky Gerung tampaknya memilih jawaban terakhir. Bergabungnya dia dalam jajaran Wantimpres disebut bukan sebagai bentuk penyerahan diri kepada kekuasaan, melainkan sebuah upaya untuk memengaruhi kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto secara etis. Ia menyebut langkah tersebut sebagai “radical break”—sebuah lompatan radikal untuk masuk ke ruang kekuasaan tanpa kehilangan posisi kritisnya.
Secara teoritis, gagasan itu terdengar menarik. Masuk ke dalam sistem untuk memengaruhi sistem dari dalam bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan, dalam politik, perubahan kadang memang tidak lahir dari mereka yang terus berdiri di luar pagar, tetapi dari mereka yang berani masuk ke dalam dan berhadapan langsung dengan pusat kekuasaan.
Namun, persoalannya bukan sekadar soal niat. Politik selalu meminta pembuktian. Seseorang boleh mengatakan bahwa dirinya masuk ke dalam kekuasaan untuk mengoreksi kekuasaan. Tetapi publik berhak bertanya: sejauh mana suara kritis itu masih terdengar ketika kursi, fasilitas, akses, dan kedekatan dengan kekuasaan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari?
Di sinilah skeptisisme publik menemukan tempatnya. Bagi sebagian orang, “radical break” mungkin merupakan strategi intelektual yang berani. Tetapi bagi pihak lain, istilah tersebut tidak lebih dari kemasan filosofis untuk sebuah manuver politik. Kritik yang dahulu lantang dari luar kini harus diuji ketika berhadapan dengan kenyamanan dari dalam.
Bukankah sejarah politik penuh dengan orang-orang yang awalnya mengaku masuk ke lingkaran kekuasaan demi memperbaiki keadaan, tetapi akhirnya justru ikut menjadi bagian dari keadaan yang dahulu mereka kritik? Kekuasaan memang memiliki kemampuan unik: bukan hanya mengubah kebijakan, tetapi kadang juga mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Karena itu, “mission impossible” dalam kisah ini bukan sekadar bagaimana seorang Rocky Gerung dapat memengaruhi kekuasaan. Tantangan yang jauh lebih sulit adalah bagaimana ia dapat tetap kritis setelah berada di dalam kekuasaan. Sebab menjadi oposisi di luar pagar relatif mudah; mempertahankan independensi ketika sudah mendapatkan akses ke dalam pagar adalah perkara yang berbeda.
Apakah ini politik tingkat tinggi atau sekadar manuver politik selera rendah? Apakah “radical break” benar-benar strategi untuk menghadirkan koreksi etis terhadap kekuasaan, atau hanya cara elegan untuk menjelaskan sebuah perubahan posisi? Publik tentu tidak harus buru-buru menjatuhkan vonis.
Pada akhirnya, politik bukanlah panggung tempat niat cukup diumumkan melalui kata-kata. Ia adalah ruang pembuktian yang diukur dari sikap, keputusan, konsistensi, dan keberanian mengambil risiko. Jika Rocky benar-benar mampu membawa kritik ke dalam ruang kekuasaan tanpa kehilangan independensinya, mungkin sejarah akan mencatatnya sebagai strategi politik yang cerdas.
Tetapi jika kritik perlahan berubah menjadi pembenaran, dan idealisme akhirnya larut dalam kenyamanan kekuasaan, maka “radical break” bisa saja dikenang bukan sebagai lompatan strategis, melainkan sebagai sebuah mission impossible yang sejak awal terlalu percaya diri.
Waktu akan menjadi hakimnya. Bukan Rocky Gerung, bukan pemerintah, bukan pula para pendukung dan pengkritiknya. Karena dalam politik, kata-kata bisa membangun narasi, tetapi hanya waktu yang mampu membongkar apakah sebuah manuver benar-benar strategi atau sekadar oportunisme.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten




