Bintang Zaman

Muhammad Abduh (1): Sempat Berniat Jadi Petani

Sejarah pemikiran adalah proses dialektika, pergulatan terus-menerus antara tesis dan antitesis yang melahirkan sintesis. Kalau kita telusuri jejak-jejak perjalanan pemikiran teologi (kalam) Islam, hal itu akan kita temukan. Protes Washil ibn Atha’ (pada akhir abad ke-7 M) kepada gurunya, Imam Hasan Al-Bashri, telah melahirkan aliran baru, Mu’tazilah, yang merupakan pemberontakan terhadap paham kebanyakan orang kala itu. Inilah aliran yang, antara lain, mengajarkan tentang kebebasan manusia dalam bertindak dan kemampuan akal menemukan kebenaran.

Selanjutnya, dua abad kemudian, paham itu mendapat koreksi dari seorang penganutnya yang membelot, Abul Hasan Al-Asy’ari. Landasan dan corak paham yang dia perkenalkan pada dasarnya sama dengan yang berkembang kala itu, yakni paham ahli hadis. Namun, ja memberikan sentuhan baru dengan memasukkan unsur-unsur filsafat sehingga yang terlahir adalah aliran yang bisa dibilang baru, yang mengawinkan paham Mu’tazilah dengan paham ortodoks.

Namun, paham ini kembali mendapat koreksi pada abad ke-19, yaitu dari Muhammad Abduh. Dia ini menghidupkan kembali ajaran Mu’tazilah dengan sentuhan baru pula. Dia mendobrak kejumudan berpikir, yang menurutnya sebagian berasal dari paham Asy’ariyah, yang dianut mayoritas umat.

Iklim Sosial Politik

Muhammad Abduh lahir ketika Muhammad Ali Pasya, mantan perwira Turki yang menjadi penguasa tunggal Mesir (1805-1849), baru saja mangkat. Inilah penguasa yang zalim, yang dengan begitu kejam membantai sisa-sisa keluarga Dinasti Mamluk, tapi sekaligus berhasil memajukan negerinya. la mengirim sejumlah pemuda cerdas ke Prancis dan Inggris guna belajar berbagai ilmu yang berkembang saat itu, kemudian pulang membangun negeri.

Namun sebenarnya, semasih di bawah Ali Pasya, Inggris sudah mulai menancapkan kuku-kukunya di Mesir. Tak dikehendakinya negeri ini jadi kuat—lantaran letaknya yang berada di perjalanan menuju India. Kalau tidak, tidaklah mustahil Mesir menjadi negeri terbesar di Timur.

Kelihatannya saja Mesir makmur. Sebenarnya negeri itu sudah mulai menumpuk utang dari kreditor-kreditor Eropa, terutama Inggris. Dan utang tersebut makin menjulang ketika Khadawi Ismail, cucu Ali Pasya, berkuasa. Di bawah pemerintahannya Mesir memang mencapai puncak kejayaannya, tapi Ismail banyak berutang untuk membiayai pembangunan. Dana pinjaman itu juga banyak dihamburkannya untuk berfoya-foya dan meniru gaya Eropa. Pada akhirnya Mesir bangkrut sehingga Ismail, dengan campur tangan Inggris dan Prancis, diasingkan ke luar negeri.

Dalam kondisi sosial politik seperti itulah Muhammad Abduh lahir, tumbuh, dan berkembang dewasa. Di Mahallat Nasr, sebuah daerah dataran rendah di tepian Sungai Nil, dia memulai kehidupannya di tengah keluarga petani. Ayahnya, Abduh Hasan Khairullah, sempat meninggalkan desa itu setelah terlibat makar politik menantang pemerintah Ali Pasya.

Muhammad Abduh memulai masa pendidikannya dengan belajar membaca dan menulis dari ayahnya sendiri. Juga menghafal Al-Qur’an. Dan dalam waktu dua tahun ia berhasil melahap seluruh isi Al-Qur’an ke dalam memorinya.

Ternyata tak cuma cerdas, Abduh juga punya jiwa pemberontak, tidak gampang puas. Pada usia 14 tahun ja dikirim ke kota Thantha untuk belajar ilmu agama di Masjid Ahmadi. Tidak tahan dengan metode menghafal yang diterapkan di situ, dua tahun kemudian ia pulang. Mau jadi petani saja.

 Di rumah ia dinikahkan saat usianya baru 16 tahun. Tapi, empat hari setelah hari pernikahannya, ia dipaksa orangtuanya kembali ke Thantha.  Abduh pun mengalami krisis Spiritual. Ja tidak sanggup membayangkan dirinya belajar lagi dengan cara menghafal. Ia memang pergi juga, menuruti kemauan orangtua, tapi tidak ke Thantha, melainkan ke Desa Kanisah Urin, ke rumah pamannya, Syekh Darwisy Khadr. Seorang yang alim, punya wawasan luas berkat perjalannya ke luar Mesir dan pengikut tarekat Syadzili.

Dari pamannya itu Abduh mulai berkenalan dengan tasawuf. Dan jadilah ia seorang sufi yang melakukan praktik asketis, dengan serius. Begitu bersemangatnya sehingga ia menjauhkan diri dari kehidupan dunia. Membaca dunia pun ia tak mau.

“Ini tidak baik, anakku,”  kata pamannya. “Kamu anak cerdas, dan perjalanan hidupmu masihlah panjang.“ Jadi, dibangkitkannya kembali semangat belajar, semangat membaca buku pada anak itu. Alhamdulillah, Syekh Darwisy, usaha Anda tidak sia-sia. Anak itu mulai bersemangat kembali melahap bacaan dan buku-buku keislaman. Dan jika ditemuinya istilah-istilah yang tidak dia mengerti, segera dia bertanya kepada pamannya. Jadi ketika ia memutuskan untuk kembali belajar di Thantha, atas anjuran pamannya tadi, ia makin mengerti apa yang diajarkan di sana. Bersambung

Penulis: Saifullah, doktor lulusan UIN Jakarta, kini ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Bengkulu; sebelumnya pernah menjabat ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bengkulu. Artikel ditulis sat dia menempuh pendidikan S-3 di IAIN (kini UIN) Jakarta.

Sumber: Panji Masyarakat No. 36 Tahun I 22 Desember 1997

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button