Anak Krakatau kembali berbicara. Bukan dengan bahasa manusia, melainkan dengan tremor, dentuman, lava pijar, dan kolom abu yang membubung tinggi. Dari tengah Selat Sunda, ia mengirimkan kabar dari kedalaman bumi—kabar yang segera dibawa angin melintasi laut, memasuki kampung, kota, menempel pada atap rumah, dedaunan, kaca jendela, mobil, landasan pesawat, dsb.
Ketika abu Anak Krakatau yang merupakan butiran mineral dengan ukuran hampir tak terlihat memenuhi jalur penerbangan, mesin jet yang merupakan salah satu puncak kecanggihan teknologi, terpaksa harus mengalah. Partikel abu dapat mengikis permukaan pesawat, mengganggu instrumen, dan meleleh di dalam mesin.
Abu tidak membaca jadwal penerbangan, manifest kapal, agenda rapat, ataupun undangan pernikahan. Ia bergerak mengikuti hukum geologi yang telah berlangsung jutaan tahun sebelum manusia mengenal jam. Lempeng Indo-Australia terus menghujam ke bawah Lempeng Eurasia dalam proses subduksi. Batuan mengalami tekanan dan pemanasan. Sebagian melebur kemudian bergerak melalui rekahan menuju dapur magma.
Ketika tekanan gas melampaui kekuatan batuan penutup, terjadilah erupsi. Dalam ilmu kegunungan (vulkanologi), peristiwa itu dapat dibaca melalui amplitudo kegempaan, deformasi tubuh gunung, kandungan gas, tinggi kolom erupsi, serta arah sebaran abu. Seismograf menggambar kegelisahan bumi dalam garis-garis bergerigi. Satelit mengikuti perjalanan awan vulkanik. Para ahli menghitung arah angin dan mengeluarkan peringatan agar pesawat tidak memasuki ruang udara yang berbahaya.
Abu vulkanik juga menyebar jauh. Langit yang biasanya menjadi jalan bebas bagi burung dan pesawat, kini dipenuhi partikel-partikel silikat yang sangat halus. Penerbangan ditunda, dibatalkan, dijadwalkan kembali, atau dialihkan. Penumpang duduk di ruang tunggu, memandangi layar keberangkatan yang terus berubah. Di laut, sebagian perjalanan pun tertahan. Kapal-kapal menunggu kepastian arah angin, jarak pandang, serta keadaan perairan.
Anak Krakatau tidak mengenal kalender perencanaan. Lahir dari kehancuran “bapak”nya pada tahun 1883, riwayat hidupnya adalah tentang tumbuh dan runtuh yang terjadi berulang-ulang. Tumbuh dari dasar kaldera, muncul perlahan dari laut, lalu meninggi melalui tumpukan lava, skoria, lapili, dan material piroklastik. Tubuhnya dibangun dan diruntuhkan oleh erupsi, kemudian dibangun kembali.
Kini abu Anak Krakatau turun di halaman rumah, jalan, kebun, dan kota-kota yang jauh dari kawah. Ia mengganggu pernapasan, membuat mata perih, mengurangi jarak pandang, dan memaksa orang mengenakan masker. Abu itu seperti surat dari kedalaman bumi yang dikirim tanpa alamat tujuan.Isinya barangkali sederhana: Berhenti merasa bahwa setiap perjalanan harus selalu sesuai rencana, berhentilah menganggap bahwa bumi hanyalah panggung diam tempat manusia memainkan ambisinya, berhentilah sejenak untuk menyadari bahwa di bawah rutinitas kehidupan terdapat kekuatan-kekuatan besar yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan.
Abu Anak Krakatau itu seperti surat dari kedalaman bumi. Kita tidak tahu persis apa yang hendak disampaikannya. Mungkin ia sedang meninggalkan satu lapisan dalam ke kesadaran kita: bahwa manusia dapat menyusun rencana, tetapi tidak pernah sepenuhnya dapat menguasai perjalanan.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.


