Tasawuf

Pengaruh Al-Ghazali Dalam Islam Kejawen

Written by B.Wiwoho

Tentang agami sebagai akronim agemaning (pakaian) iman, Islam Kejawen mengajarkan bahwa keimanan tidak akan berarti apa-apa jika tidak dijahit dengan amal saleh  atau amal perbuatan yang baik, yang mulia.

Seseorang akan dapat mengerjakan amal perbuatan yang baik jika memiliki budi pekerti luhur, memiliki akhlak mulia. Dalam mengajarkan budi pekerti luhur dan akhlak mulia, tidaklah dengan memberikan iming-iming atau janji hadiah surga, melainkan susana kehidupan yang penuh dengan kebahagian dan ketenteraman batin dalam suasana yang harmonis. Hal itu bisa diwujudkan apabila kita bisa menggalang hubungan baik timbal balik antara sesama, antara manusia dengan alam semesta yang dikenal dengan hamemayu hayuning bawono, yaitu melestarikan dan mempercantik alam raya dan segenap isinya.

Ajaran mengenai akhlak mulia Islam Kejawen, menurut sahabat sekaligus salah seorang guru saya almarhum ustadz Tijani Jauhari dari pesantren Al-Amien, Prenduan Madura, pada umumnya bersumber dari ajaran Al Ghazali, yang dikenal sebagai salah satu kitab kuning. Kitab-kitab klasik yang lebih dikenal sebagai kitab kuning karena kertasnya berwarna kekuningan, yang merupakan kitab-kitab rujukan utama di pesantren-pesantren Nusantara terutama di Jawa dan Madura antara lain adalah kitab Ta’limul Muta’alim (etika santri), Nashoihul Ibad (Nasihat Penghuni Dunia karya Imam Nawawi Al-Banteniy) serta tiga karya Al Ghazali yaitu Bidayah al HidayahIhya Ulumuddin dan Minhajul Abidin (Menuju Mukmin Sejati).

Ajaran tasawuf Al Ghazali itu pulalah yang kemudian membentuk budi pekerti orang Jawa yang lebih mengutamakan kesalehan pribadi dibanding kesalehan sosial, serta pola hidup sederhana dan nrimo atau qanaah.

Kesalehan sosial yang lebih merupakan tanggungjawab para guru dan pemimpin negara (ulama dan umaroh) akan mudah terwujud apabila kesalehan pribadi, pola hidup sederhana, qanaah, silaturahmi, keharmonisan dan kebersamaan atau gotongroyongmenjadi inti dari pakaian keimanan orang perorang. Sayangnya, kesalehan pribadi itupun kini memudar tatkala pola hidup sederhana dan nrimo atau qanaah telah diluluhlantakkan oleh budaya modern yang mengutamakan materialisme, yang menelorkan perilaku kehidupan  yang pragmatis, individualis, hedonarsis atau hedonis dan narsis. Prestasi kehidupan tidak lagi diukur dari pencapaian idiil, tetapi dari harta benda atau materi. Jika pada masa kecil saya ada orang yang di dalam pergaulan membicarakan penghasilan dan harta bendanya, maka hal itu dianggap saru,  tabu, tidak pantas dan tidak sopan. Sedangkan sekarang, seringkali begitu berjumpa ada saja orang yang memamerkan mobil, villa, rumah kedua dan hal-hal lain yang terakit dengan pencapaian materi.

Akibat selanjutnya adalah rancunya, untuk tidak mengatakan rusak, budi pekerti luhur atau pun akhlak mulia. Orang tidak lagi peduli pada etika dan tata cara, melainkan hanya mengutamakan hasil. Orang tidak lagi peduli baik dan buruk sampai-sampai timbul ungkapan “Biar dari setan belang pun nggak peduli” atau “Cari yang haram saja susah apalagi yang halal”.

Seperti ditunjukkan perilaku pengendara kendaraan bermotor di jalanan, orang tidak peduli dengan hak serta kepentingan orang lain, yang penting kebutuhan dirinya terpenuhi. Orang juga tidak lagi perlu merasa rendah hati, bahkan tidak ada rasa malu lagi untuk pamer diri, untuk ujub dan riya.

Naudzubillah.

 (Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768