Bintang Zaman

Perjalanan Spiritual Ronggowarsito (Bagian 2)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Sebagai pujangga kraton, Ronggowarsito menghasilkan banyak karya yang mengungkapkan kehidupan kerajaan dan para bangsawan. Tetapi sebagai pujangga rakyat, ia pun banyak mengungkapkan kehidupan jelata yang penuh penderitaan. Dalam banyak karyanya, ia menciptakan hubungan harmonis antara penguasa dan rakyatnya.

Pada tanggal 13 Jumadilakir 1742 J., atau 21 Mei 1815 M., Bagus Burhan dikhtankan dalam usia 13 atau 14 tahun. Setelah itu dia dididik kakeknya, R.T. Sastranegara, Gusti Panembahan Buminata, serta Sinuhun Paku Buwono IV tentang jaya kawijayan (kesaktian), kadigdayan (keunggulan), kagunan (kepandaian), serta kanuragan (keutamaan).

Pada Senin Pahing 8 Sura tahun Alip 1747 J., atau28 Oktober 1819., Bagus Burhan diangkat menjadi abdi dalem carik kadipaten anom dengan gelar Rangga Pajanganom. Pada 1749 J. Atau 9 November 1822, Bagus Burhan dikawinkan dengan Raden jeng Gombak, putri Bupati Kediri Cakraningrat. Pada tahun itu pula ia bersama Ki Tanujaya mengembara untuk menambah ilmu. Mereka pergi ke Ngadiluwih, berguru kepada Kiai Tunggulwulung. Dari Ngadiluwih mereka melanjutkan perjalanan ke Ragajampi dan berguru kepada Kiai Ajar Wirakantha. Akhirnya Bagus Burhan pergi keTabanan, Bali, berguru kepada pendeta sakti, Kiai Ajar Sidalaku.   

Setelah kembali ke Surakarta pada tahun 1749 J atau 1822 M ia diangkat menjadi mantri carik kadipaten anom dengan gelar Mas Ngabehi Sarataka. Lalu pada 22 Besar tahun 1757 J atau 13Juni 1830, Mas Ngabehi Surataka ini diangkat menjadi abdi dalem carik kadipaten anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita dan bertempat tinggal di Kedungkol Pasar Kliwon.

Raden Ngabehi Ranggawarsita mempunyai beberapa siswa asing. Antara lain Carel Frederik Winter, Jonas Portier, Dowing, dan Jansen. Raden Ngabehi membantu menyusun kitab Paramasastra, Kawi Jawa, Sidin Saridin, SalokaAkaliyan Paribasan. Bersama Jonas Portier membantu mengauh penerbitan majalah Bramartani.

Pada Kamis Pon 12 Ruwah tahun Jimawal 1773 J., atau 14 September 145, R. Ng. Ranggawarsito diangkat menjadi abdi dalem kliwon kadipaten anom dan sebagai pujangga Kraton Surakarta Adiningrat dengan gelar tetap: R. Ng Ranggawarsita.  Sebagai pujangka kraton, Ronggowarsito menghasilkan banyak karya yang mengungkapkan kehidupan kerajaan dan para bangsawan. Tetapi sebagai pujangga rakyat, ia pun banyak mengungkapkan kehidupan jelata yang penuh penderitaan. Dalam banyak karyanya, ia menciptakan hubungan harmonis antara penguasa dan rakyatnya.

Pada 5 Dulkaidah 1808 J atau 24 Desember 1873 sang abdi dalem kliwon wafat dan dimakamkan di Paler, Trucuk, Klaten, Surakarta. Ia meninggalkan tiga orang istri: Putri R.M. Panji Jayengmarjaya, Mas Ajeng Pujadewata, dan Mas Ajeng Maradewata. Putra-putri Ronggowarsito antara lain Raden Ajeng Sudinah, Raden Ajeng Sujinah, Raden Mas Ranakusuma, Raden Mas Sembada, Raden Mas Sutama, dan Rara Mumpuni.

Pujangga Penutup     

Pujangga Ronggowarsito hidup pada zaman Surakarta akhir, semasa Paku Buwono IV sampai Paku Buwono IX. Ia dikatakan Hazeu dan Drewes pujangga penutup (edesluitsteen der pujangga’s) model feodal.

Istilah “pujangga penutup” sering memunculkan beberapa keberatan dari para ahli, pengamat, maupun sstrawan Jawa. Sekan-akan kehadiran, proses kreatif, dan keunggulan kepenulisan para pengarang Jawa sesudah Ronggowarsito dipandang sebelah mata. Padahal karrya-karya pengarang seperti Ki Padmasastra, Ki Mangunwijaya, Ki Yasawidagda banyak yang bermutu tinggi. Tetapi, bagaimana pengakuan Ki Padmasastra, yang sering dipuji Goerge Quinn, dalam menilai kemampuan gurunya itu? “Cekakipun gurukulapuniko(R. Ng. Ranggawarsita) baud banget, kepengin kulo niru iketanipun (ukara), nanging setengah pejah mekso mboten saged angiribi.(Pendek kata guru saya itu sangat mahir, ingin saya menirupenyusunan kata/kalimatnya, tetapi setengah mati tetap tidak berhasil menyamai).

Dalam hal inipengertian pujangga  penutup haruslah diartikan sebagai ‘yang tertinggi, terbaik’atau”yang paling sempurna’, seperti diungkapkan Hazeu, memang dalam kenyataanya, hingga masa kini, lebih dari satuabad sepeninggal sang pujangga belum  ada tanda-tanda lahirnya pujangga yg setingkat dirinya, baik dalam hal pengetahuannya tentang bahasa dan sastra maupun falsafah dan kejiwaan Jawa.

Selain peranan dan kedudukannya sebagai pegawai  atau abdi dalem kadipaten, punggawa istana yang bertugas sebagai penerjemah, pengarang, penasehat, pengasuh, baik terhadap raja maupun calon raja, Ranggawarsita pun berperan sebagai pengemban tradisi Jawa yang diwarisinya senagaimana dikatakan Pigeaud (1967).  Bersambung

.   Penulis: Anung Tedjowirawan (Sumber: Panjimas, Oktober 2003)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda