Mutiara

Mbah Wali dan Kisah Dua Ekor Anjing

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Syekh Mutamakkin, yang dituduh menyebarkan ajaran sesat,  lolos dari hukuman mati. Makamnya di Kajen, Pati, Jawa Tengah, selalu ramai oleh penziarah. Bagaimana dengan peliharaan anjingnya bernama Qomaruddin dan Abdul Qahar?

Nasib Syekh Ahmad Mutamakkin tidak setragis  yang menimpa, misalnya, Syekh Siti Jenar atau Syekh Amongraga yang dihukum mati karena menganut faham keagamaan yang dianggap menyimpang. Meski sempat dimajukan dalam sebuah persidangan yang dihadiri para ulama dan umaro, Syekh Mutamakkin lolos dari hukuman maut karena memperoleh pengampunan dari Paku Buwono II. Pada masa Amangkurat IV ia memang pernah  divonis bersalah dan diancam hukum mati, tetapi hukuman itu belum sempat dilaksanakan karena raja Mataram itu memerlukan penyelidikan lanjut — dan ia keburu mangkat. Syekh Ahmad Mutamakkin atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Mutamakkin hidup di masa pemerintahan Amangkurat IV sampai dengan Paku Buwono II sekitar abad ke-18.

Bagi sebagian orang, Haji Mutamakkin yang pernah belajar agama di Mekah ini merupakan waliyullah, dan sampai sekarang makamnya di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, selalu ramai dikunjungi para peziarah. Ia berasal dari Cebolek, Tuban, Jawa Timur, dan keturunan Sultan Pajang Hadiwijaya alias Joko Tingkir. Ia menetap di Kajen setelah sebelumnya menetap di Desa Cebolek. Yang ini di Pati. Bukan di Tuban meskipun namanya sama. Konon, saat akan melakukan salat isya, ia melihat sebuah cahaya melintas di atas langit dari arah barat. Didorong rasa ingin tahu, keesokan harinya ia pergi setelah asar untuk membuktikan isyarat itu. Maka sampailah ia di sebuah gundukan tanah yang sekarang berada di sebelah barat Pondok Pesantren Mathali’ul Falah. Di sana ia bertemu seseorang bernama Haji Syamsuddin. Konon, ia adalah orang yang pertama kali melakukan ibadah haji di desa tersebut. Maka desa itu pun dinamakan Kajen (dari kata Kaji, bahasa Jawa, yang berarti haji). Haji Syamsuddin kemudan menikahkan putrinya dengan Ahmad Mutamakkin, dan meminta sang mantu untuk mengembangkan ajaran Islam di desa tu. Lalu bagaimana pula ia sampai dituduh sesat?

Syahdan, Syekh Mutamakkin selain mendalami ajaran Islam, juga senang melakukan riyadhah alias olah ruhani. Sebagai seorang ulama, ia juga kerap dinilai punya perilaku aneh, yang beda dari adat kebiasaan. Salah satunya yang dianggap aneh itu adalah memelihara anjing. Dua ekor pula. Para ulama umumnya waktu itu  menganggap apa yang dilakukan Mbah Mutamakkin bertentangan dengan ajaran Islam. Bagaimana ceritanya ia sampai memelihara kedua binatang itu?

Dalam Serat Cebolek yang disusun Yasadipura I, dalam rangka melatih jiwa dari serangan hawa nafsu, ia menempuh berbagai cara. Di antaranya dengan mengurangi minum, makan dan tidur. Puncaknya melakukan puasa 40 hari dan malam. Pada hari ke-40 itu, ia meminta istrinya untuk menghidangkan makanan yang paling enak di hadapannya, dan meminta istrinya untuk mengikat tubuhnya pada tiang di rumah. Ada yang bilang : mengikat erat. Setelah itu, ia mengendalikan hawa nafsunya sekuat tenaga. Dan berhasil. Dan ini yang ajaib: saat nafsu dan syahwatnya keluar, keduanya menjelma menjadi dua ekor anjing. (Ada yang bilang seekor anjing dan seekor singa).  Kedua ekor anjing tersebut ingin masuk kembali, tapi ia tolak.

Yang bikin geger orang sekampung, ia menamai kedua anjingnya itu masing-masing Abdul Qahar dan Qamaruddin .Mosok anjing dinamai dengan nama manusia. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia yang tak bisa mengendalikan hawa nafsu, sama seperti anjing. Selain karakter “aneh” yang tadi, ia juga punya keanehan lain. Yakni menonton wayang kisah Dewa Ruci dan Bima. .

Keanehan Mbah Mutamakkin sampai juga ke keraton Mataram. Kejadiannya ketika ia menerima seorang musafir dan menyuguhinya dengan berkat dengan lauk ikan kering. Rupanya tamu itu makan dengan sangat lahap. Sambil menemani, Mbah Mutamakkin menguji mental tamunya dengan kata sindirian. Dengan tersenyum, ia mengatakan, “Aanjing saya saja tidak suka ikan kering, tapi kamu melahapnya sampai tak tersisa.” Kontan saja tamu tadi tertampar dan terhina. Dan pulang dengan perasaan marah yang luar biasa. Ia pun membuka berbagai keanehan Mbah Mutamkkin, melalui selebaran-selebaran, yang kemudian viral dari mulut ke mulut.  Selebaran itu berisi bahwa seorang alim, yang bernama Ahmad Mutamakkin memelihara dua ekor anjing dan gemar menonton wayang Dewa Ruci dan Bima Sakti. Lalu keadaan gempar.

Pada 1725, atas inisiatif sejumlah ulama yang diprakarsai Ketib Anom Kudus, Amangkurat  VI mengundang ulama dan umaro serta undangan lainnya ke Kartasura. Semuanya berjumlah 142 orang. Dia ntaranya ada 44 tokoh terpandang dan 11 ulama terkemuka. Hasilnya, dalam peredbatan antara Ketib Anom dan Syekh Mutamakkin, menurt Serat Cebolek, Ahmad Mutamakkin tidak berkutik, dan ajarannya dianggap sesat. Para ulama merekoendasikan agar ia dihukum mati.

Seperti dikemukakan Karel Steenbrink (1984), penulis Serat Cebolek yaitu Yasadipura I tampak sepakat dengan para ulama yang menentang Ahmad Mutamakkin, yang menerima syariat sebagai hidayah atau petunjuk untuk hidup sehari-hari. Karena itu setiap hal yang dianggap menyimpang dari syariat jarus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Termasuk dengan menghukum si pembawa ajaran yang dianggap sesat itu. Hanya saja, apa yang diceritakan oleh Serat Cebolek dinilai terlalu melebih-lebihkan kedudukan dan peran Ketib Anom Kudus di satu pihak, dan mendiskreditkan Syekh Ahmad Mutamakkindi lain pihak. Padahal menurt cerita tutur di masyarakat Kajen, tidak semudah itu menggap sang waliyullah sesat.***

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • hamka