Tasawuf

Sinkretisme Jawa

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Prinsip hidup harmonis, toleran dan akomodatif orang Jawa juga menghasilkan sinkretisme antar agama dan perkayaan sesuatu agama dengan adat dan budaya Jawa atau sebaliknya. Maka tidak mengherankan kalau di Jawa ada candi-candi pemeluk Syiwa Budha sebagaimana candi-candi di Jawa Timur; ada candi Budha yang dibangun oleh raja Hindu yaitu candi Plaosan di Prambanan, Jawa Tengah;  ada penganut Islam Kejawen, yaitu orang Islam yang juga sekaligus memuja roh-roh gaib;  atau orang Islam yang menganut paham kebatinan yang meyakini jika ia sudah sangat percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa, maka tidak wajib lagi untuk melaksanakan salat lima waktu.


Sinkretisme yang amat kental yang melibatkan multi agama dan kepercayaan adalah peringatan 1 Muharam, yaitu awal tahun Hijriyah dalam kalender Islam menjadi 1 Suro, awal tahun baru Jawa yang dirayakan baik oleh orang Jawa Islam-kepercayaan-kebatinan maupun Kristen. Kata Suro itu sendiri berasal dari kata Asyura yang merupakan peristiwa bersejarah yang sangat dimuliakan pemeluk Islam mazhab Syiah guna memperingati terbunuhnya cucu Nabi Muhammad. Peringatan 1 Suro dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Cirebon. Mereka melakukan berbagai acara ritual di tempat keramat misalkan Gunung Lawu di Surakarta dan Pantai Parangtritis di Yogya, juga di Istana Mangkunegaran dan Kesunanan di Solo serta Puro Pakualaman dan Kasultanan di Yogyakarta. Di Jakarta pada masa Orde Baru, biasanya dirayakan dengan menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di gedung DPR/MPR-RI dan Taman Mini Indonesia Indah.


Bagi orang Jawa dari agama apapun, bahkan kini meluas pula kepada suku-suku lain, roh orang yang sudah meninggal perlu dihormati sekaligus dibantu agar diterima di sisi Tuhan dengan baik. Caranya adalah dengan menyelenggarakan serangkaian acara selamatan yang dimulai dan dihitung sejak hari meninggalnya, yaitu hari ke-1 sampai dengan ke -7, hari ke-40, hari ke -100, peringatan 1 tahun, 2 tahun dan 1.000 hari, serta haul atau peringatan tahunan berikutnya dan nyadran atau sadranan.

Acara nyadran berupa ziarah kubur pada bulan Sya’ban, bulan ke 8 dalam kalender Islam atau bulan terakhir menjelang bulan Puasa atau Ramadhan, sama dengan bulan Ruwah dalam kalender Jawa (juga bulan ke-8). Ruwah berasal dari kata arwah yang diilhami oleh bahasa Arab roh. Sedangkan kata sadran berasal dari istilah pesta serada, yaitu pesta besar untuk menghormati dan menyenangkan roh orang yang sudah meninggal, sebagaimana pernah dilakukan oleh raja Hindu Majapahit – Hayam Wuruk tahun 1362 (Nagarakretagama pupuh 63 sampai 67, dalam “Runtuhnya Kerajaan Hindu Djawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam Nusantara”, Prof.Dr.Slamet Mulyana, penerbit Bhratara 1968).  Meskipun menggunakan hitungan waktu, hari dan tahun yang sama, tetapi prosesi ritual selamatan orang meninggal tersebut berbeda satu sama lain tergantung pada agama yang dianutnya.


Tuhan dan agama di mata orang Jawa, menarik untuk dikaji sekaligus merupakan tantangan bagi para juru dakwah, terutama faham kebatinan yang dalam kehidupan sehari-hari lebih mengutamakan kesempurnaan batin di banding syariat agama, sedangkan kesempurnaan batin dapat dicapai jika berpegang teguh pada budi dan etika. Oleh sebab itu orang Jawa khususnya para priyayi, sangat diatur oleh ajaran budi pekerti dan tata susila, misalkan adab menghormati orangtua dan guru, ajaran mawas diri, jangan sok dan mentang-mentang, ajaran untuk berperilaku jujur, memegang teguh janji atau kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan, ajaran untuk satunya kata dengan perbuatan, rendah hati, berjiwa besar dan mudah memaafkan, ajaran untuk kaya tanpa harta – jangan mengejar harta benda melainkan mengejar kebahagiaan serta kemuliaan hidup dan lain-lain. Ajaran budi pekerti dan etika tersebut sudah menyatu dengan tata nilai, etos bahkan etika, sehingga dalam beberapa hal sulit dibedakan satu sama lain.


Tetapi zaman terus berubah. Interaksi budaya, konsumerisme, materialisme , hedonisme, narsisme serta globalisasi pasti memiliki pengaruh dalam kehidupan sesuatu masyarakat, termasuk masyarakat Jawa. Pesona dunia, khususnya harta, tahta dan wanita bisa mengubah semuanya. Seperti apa dan sejauh mana pengaruhnya?

Jika dahulu ada ungkapan : “Sabda pandita ratu tan kena wolak walik” artinya seorang pemimpin itu apabila berkata-kara tidak boleh berubah-ubah, tak boleh mencla-mencle, tak boleh menjilat ludahnya sendiri, maka kalau berjanji harus ditepati. Karena janji itu sama dengan hutang yang harus dibayar kembali. Orang yang mencla-mencle, yang ucapannya gampang berubah diibaratkan esok tempe sore dele.  Pagi hari, kedelai sudah diolah menjadi tempe, kok sore hari berubah berbalik kembali menjadi kedelai? Tidak menepati janji, tidak memegang teguh ucapan dan mengumbar kebohongan, kini sudah menjadi hal lazim. Bahkan tidak jarang kita menjumpai ungkapan insya Allah, lebih bermakna sebagai penolakan untuk tidak hadir dari pada berjanji untuk berusaha hadir. Dalam hal mengejar pesona dunia, muncul pula ungkapan, “mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal,” maksudnya, sudahlah mari kita tutup mata saja dalam mencari rejeki, jangan persoalkan halal haram.

Sementara itu, belum lama berselang, tatkala berziarah ke makam beberapa Wali, saya melihat para peziarah menyemut dan datang berbondong-bondong dari berbagai kota dan daerah termasuk dari luar Jawa. Pada suatu saat, seorang juru kunci di sebuah makam mempersilahkan saya mengajukan permohonan kepada almarhum, yang justru saya yakin almarhum sang Wali, kekasih Allah, tidak akan suka jika saya melakukan itu. Dalam pada itu, di awal abad ke 21 ini, kita menyaksikan sejumlah tokoh dan kaum elite ditangkap karena korupsi yang luar biasa dahsyatnya, padahal yang wanita mengenakan jilbab sedangkan prianya memiliki nama-nama muslim yang indah-indah, bahkan banyak yang namanya berakhiran din atau agama, dalam hal ini Islam. Dan tak tanggung-tanggung, pencetakan kitab suci Al Qur’an pun dikorupsi. Tetapi seorang teman mengomentari, “sedang sial saja.” Naudzubillah.


Allahumma puji langgeng

sukma mulya kumpula badan sarira

oleha marga sing gampang

gampang saking kersaning Allah.

Allah iku Maha Mulya

Maha Adil lan Maha Uninga

kabeh pada den percaya

marang pungaose Allah

Sembah sujud ting kawula

kunjug mring kang Maha Minulya
tansah paring sandang teda
adil makmur kerta raharja

Hu la ila ha illallah
Muhammad dar rasulullah
Hambrasta sakehing lara
Hayem tentrem wong sanegara

Terjemahan bebas:

Duh Gusti, yang Maha Kekal Abadi
jiwa nan mulia menyatulah di raga kami
semoga memperoleh jalan yang lempang
Kemudahan karena kehendak Paduka

Gusti Allah itu Maha Mulia

Maha Adil lagi Maha Tahu

Semuanya  percayalah

kepada kekuasaan Allah

Sembah sujud hamba

untuk Yang Maha Mulia

yang senantiasa menganugerahkan sandang pangan

adil makmur sejahtera

Hu la ila ha illallah

Muhammad dar rasulullah

Memberantas segala penyakit

Hidup tentram rakyat seluruh negeri

(Kidung Santi Mulya, tembang dakwah berisi puji-pujian terhadap Gusti Allah Swt, karya Sinuhun Pakubuwono IX: 1830 – 1893. Seri tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda