Haji 1440H

Berguru Pada Cinta Ibrahim

Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Selama ini kita selalu menyangka bahwa yang namanya manusia dan kemanusiaan berjalan setahap demi setahap, berevolusi ribuan tahun dari tingkatan rendah menuju kesempurnaan. Mungkin anggapan ini hanya benar sebagian.

Tapi banyak juga bukti yang justru menegaskan bahwa yang terjadi sesungguhnya malah sebaliknya, yakni: degradasi, penurunan secara konstan. Atau -lebih tepat lagi- siklus turun dan naik berulang-ulang.

Bahkan, dari sisi ini, ternyata kita sekaligus bisa membaca sisi menarik dari perjalanan sejarah manusia, yakni: diam-diam sangat konsisten mengulang cerita tergelincirnya Adam alaihi salam dari situasi surga ke kenyataan dunia.

Mari kita sedikit melacak ulang ceritanya. Adam adalah makhluk yang secara langsung telah diajar Tuhan: Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama keseluruhannya (QS 2:31). Tapi pada saatnya, setelah sekian lama rentang waktu terlewatkan, ia kalah oleh kesetiaan Iblis yang istiqomah menggerus kesejatian ilmunya dengan narasi-narasi semu.

Ilmu yang telah dimiliki Adam pun, bukannya termanifestasi, tapi akhirnya malah luluh. Dia terpancing untuk mendekati pohon itu. Hanya satu pohon yang entah apa namanya, karena Al Qur’an tak pernah menginformasikannya, di antara jutaan atau bahkan milyaran pohon yang ada di surga. Ada yang menafsirkan bahwa pohon itu adalah lambang amal, karena Al Qur’an sering kali memakai amtsal pohon untuk amal. Dari tafsir ini berkembang pemaknaan, bahwa pohon tersebut adalah lambang tindak penyekutuan, syirik, yang menandai keterputusan hubungan langsung dengan Allah, yang tindak awalnya adalah kelalaian mengingat Allah sang Penciptanya.

Ini adalah sesuatu yang jauh sebelumnya sudah dilarang oleh Allah. Maka tergelincirlah dia ke dunia, ke kefanaan yang dengan kuat telah dinarasikan Iblis sebagai keabadian, sebagai al-mulku la yabla, kerajaan yang tak akan pernah sirna.

Proses apakah yang sebenarnya telah di alami oleh bapak moyang kita itu? Ada banyak tafsir bisa diberikan, salah satunya: rentang waktu cenderung mengikis potensialitas pengetahuannya. Nama-nama yang telah diterima dan ditanam sebagai potensi di dalam dirinya mulai kehilangan elan vitalnya, dan dia mulai membacanya secara berbeda dengan saat pertama kali menerima, atau diam-diam malah mulai mempertanyakannya.

Di sini hebatnya Iblis. Dengan sabar dia menunggu, dan di saat Adam dalam kondisi lemah, Iblis masuk dan mulai membangun narasi-narasi baru bahwa ilmu apapun tak berguna bila tak menyampaikan ke keabadian. Adam pun termakan rayuan, dan terdorong untuk mencari keabadian.

Tampaknya kita harus mengatakan bahwa ruang-waktu ternyata punya iblisnya sendiri, sejarah ternyata punya setannya sendiri. Rentang waktu, harus diakui, sering begitu berkuasa memainkan peran untuk menggerus pengetahuan. Apa yang hari ini diyakini sebagai aktualisasi kebenaran, bisa jadi akan dipandang sebagai sekedar spekulasi pikiran di tahun mendatang. Apa yang hari ini dirasa sebagai pertolongan Tuhan, bisa jadi akan dibaca sebagai sekedar kebetulan setelah sekian waktu berselang.

Salahkah Adam? Bisa iya, bisa juga tidak. Dan, menurut Al Qur’an, Allah pun tidak lantas marah, tapi dengan kasih sayang malah mengajarinya cara bertaubat dan memohon ampun; dan berpesan untuk selalu mengikuti petunjuk-petunjuk yang kelak akan diturunkanNya (QS 2:38).

Setidaknya ada dua sisi yang bisa digunakan untuk memandang peristiwa ini. Yang pertama: Adam mungkin bersalah karena mengabaikan larangan Allah dan menuruti narasi yang ditanam Iblis. Meski demikian, bila kita bayangkan kondisinya, beliau juga tak sepenuhnya bisa disebut bersalah, karena saat itu masih berada dalam situasi masa kanak-kanak kemanusiaan yang sedang beranjak memasuki aqil balighnya.

Di masa kritis peralihan dari kanak-kanak ke dewasa inilah Iblis hadir dengan narasinya. Narasi yang mendorong Adam memasuki pengalaman ‘bersalah’ atau ‘berdosa’ untuk kali pertama. Pengalaman yang justru menandai peralihan dari ‘surga’ masa kanak-kanak menuju perjalanan ‘dunia’ kedewasaan. Dari sudut pandang ini, pada dasarnya Adam hanya melakoni prosesnya yang sejak awal memang dirancang sebagai khalifah, pengelola dunia.

Konstruksi Lupa

Yang kedua: tampaknya orang bisa menyebut faktor ‘lupa’, lalai, ketidak-waspadaan, sebagai alas bagi sejarah ketergelinciran semacam ini. Kemampuan menyesuaikan diri -yang di satu sisi memberi kekuatan untuk bertahan hidup- di sisi lain harus dilihat sekaligus juga sebagai titik kelemahan manusia. Titik kelemahan ini pulalah yang sangat berperan melahirkan ‘lupa’.

Kalau boleh disebut, lupa paling mendasar adalah lupa bahwa pengetahuannya di bangun hanya berdasar pada apa yang terpahami dari kenyataan ‘yang lampau’, ‘yang sudah terjadi’. Sebuah pengetahuan yang sejatinya terlalu terpencil kalau diasumsikan mampu memahami semesta kenyataan, apalagi Tuhan. Pengetahuan yang dari hulunya sudah akan reduktif dan distortif ini; ibarat kacamata kuda akan mengabaikan semua yang berada di luar jangkauan pandangnya.

Di puncak lupa, cukup dengan sedikit sentuhan, narasi-narasi baru bisa begitu saja diselipkan. Tentu saja, Adam -seperti kita semua- yang sudah dikuasai lupa, gampang dikecoh oleh sensasi-sensasi narasi semu. Inilah titik dimana Iblis memainkan peran, setelah dengan sabar menunggu sejarah ‘penumpukan lupa’ membuka pintu baginya.

Bukankah hal-hal semacam ini selalu berulang dalam sejarah? Konsep-konsep, tanda-tanda, norma-norma yang semula bersifat ilahi, setelah sekian lama tergerus sejarah, bisa tiba-tiba kehilangan sifat ke-ilahiannya dan menjadi sesuatu yang profan saja?

Sesuatu yang semula kita percaya sebagai mulia, setelah sekian waktu akan mulai kita pertanyakan kemuliaannya dan pada akhirnya kita tinggalkan begitu saja dan kita ganti dengan sesuatu yang kita bayangkan lebih mulia menurut ukuran kita sendiri?

Dulu anak-anak Adam diperintah menyerahkan persembahan berupa hasil pertaniannya ke bukit, sebagai bukti keikhlasan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Intinya bukan pada tindakan lahir tapi pada ketulusan niat pengabdian.

Tapi oleh generasi berikutnya dan berikutnya lagi, secara bertahap mulai membacanya secara berbeda. Faktor Tuhan makin tersamarkan, niat mulai dibelokkan, sehingga yang kemudian tersisa tinggal ritus persembahan pada gunung atau kekuatan alam lainnya.

Bukankah kita juga selalu mengalaminya? Untuk contoh kecil saja, sekarang tiap mendengar kata korban, pengertian yang muncul di pikiran justru adalah ‘pihak yang harus mengalami akibat buruk’, seperti korban kecelakaan, korban pembunuhan dan seterusnya.

Pemaknaan semacam ini sangat mungkin muncul karena diam-diam kita telah melakukan pembalikan, dengan menganggap bahwa Ismail alaihi salam adalah ‘korban’, adalah pihak yang harus mengalami akibat buruk, oleh tindakan ayahnya. Dalam pemaknaan ini seolah posisi Ismail alaihi salam adalah tumbal. Betapa jauh jarak pengertian ini dengan pengertian asli kata tersebut, yakni ‘kedekatan’ atau ‘mendekatkan diri’.

Bahwa pendekatan atau kedekatan harus dibayar dengan renik dunia, adalah wajar. Dari sini makna ganda qurb atau kurban justru harus dipahami. Di satu sisi, secara ruhani adalah tindakan mendekatkan diri pada Allah. Sementara di sisi lain, secara lahiri tindakan ini berarti memotong ikatan dengan dunia milik.

Bukankah lebih banyak lagi konsep-konsep dan istilah-istilah agama sudah begitu rupa terkotori dan tercampur-baur dengan macam-macam pengertian di pikiran, sehingga kita kesulitan untuk menyentuh makna asli yang dimaksudkannya?

Kalau Milan Kundera pernah mengatakan bahwa perjuangan melawan kekuasaan, adalah perjuangan melawan lupa; mungkin disini kita bisa mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan ketergelinciran adalah perjuangan melawan lupa.

Sejarah memberi kita fakta berlimpah, betapa peradaban-peradaban besar secara berulang mengalami kemunduran atau kejatuhan, karena ‘lupa’ mulai menancapkan pengaruhnya. Lupalah yang setapak demi setapak mengubah arah peradaban untuk memunggungi nilai-nilai luhur yang menyemangati awal pembangunannya. Inilah yang membuat kita mirip Sisiphus, mau tak mau harus berkompromi dengan kenyataan, bahwa apapun yang dibangun pada waktunya selalu akan keropos untuk kemudian ambruk dikikis waktu.

Maqam Cinta

Di sinilah tampaknya kita harus belajar pada Ibrahim alaihi salam, sosok hanif yang berhasil mengelak dari siklus kejatuhan, yang selalu bermula dari ketergelinciran. Dari beliau kita berguru: hanya cinta yang mampu menghindarkan kita dari kejatuhan. Beliau tetap tegak, meski mengemban perintah yang luar biasa ‘gila’.

Menyembelih satu-satunya anak yang sudah puluhan tahun dinantikan kelahirannya adalah perintah yang di luar jangkauan pengetahuan manapun. Perintah yang secara sekaligus mengantarkan Ibrahim alaihi salam pada kutub batas pilihan: antara ‘pengetahuan’ dan cinta. Bisa saja Ibrahim alaihi salam, memilih ‘lupa’ -dengan berpihak pada konstruksi pengetahuan yang sudah dibangunnya- dan mengabaikan perintah ini selamanya; tapi itu tak dilakukannya.

Sekarang, mari coba posisikan diri kita pada tempat Ibrahim alaihi salam: apa yang kira-kira akan kita pilih? Akankah kita masih mau percaya kepada Tuhan pemberi perintah tersebut? Atau kita akan mulai mengumpulkan dalih –berdasar hukum-hukum alam dan sosial yang sudah terbangun selama ini- untuk menghindar atau malah menolaknya?

Saya yakin, kita semua akan terbirit-birit mendengar perintah absurd semacam ini. Kita akan lebih memilih ‘lupa’. Kita akan memilih bahwa sejatinya kenyataan adalah apa yang sudah kita ketahui, dan bukan apa yang tidak kita ketahui. Dan tak ragu untuk meyakini bahwa pengetahuan kitalah pengukur bagi kebenaran kenyataan.

Akibatnya, semua nikmat yang sudah kita terima, dari Tuhan yang sama dengan Tuhan yang memberi perintah ini, akan dalam-dalam kita kubur; dan kita bahkan mungkin tak akan ragu untuk menuding bahwa Tuhan telah gila.

Tapi, di saat semacam ini Ibrahim alaihi salam justru memilih keyakinan cinta. Cinta yang membuat dia bisa menyampingkan nalar pengetahuan dan kemanusiaannya, dan menerima Tuhan sebagai yang tak terwadahi oleh pengetahuan manapun.

Kesempurnaan keyakinanan membuat ia memilih menjalankan perintah tanpa bertanya. Tiga kali Iblis mencoba menyelamatkan ‘konstruksi pengetahuan’nya dengan narasi-narasi kemanusiaan, tiga kali pula Ibrahim alaihi salam tanpa ragu melemparinya dengan batu pengingkaran.

Dan Tuhan memberi jawabnya: nalar linear bahwa apa yang disembelih akan mati; yang dimanfaatkan Iblis untuk menumbuhkan keraguan, tidak berlaku dalam kenyataan semacam ini. Ismail yang di sembelih, tapi yang mati justru domba. Kenyataan yang tak mungkin tercakup dalam bahasa pengetahuan manapun kecuali bahasa cinta.

Inilah yang menyebabkan Ibn ‘Arabi menyebut maqam Ibrahim sebagai maqam cinta. Cinta membuat dia selalu dalam keadaan memandang yang dicintainya, sehingga tak setitik pun lupa bisa menyentuh atau mengalihkan perhatiannya.

Cinta membuat Ibrahim alaihi salam menjadi ‘murid’ yang tak pernah berhenti ‘berguru’: bahwa kenyataan adalah aktualisasi cinta Tuhan sebagai Sang Guru yang terus menerus menyapa; tanpa pernah berpretensi bahwa pengetahuan yang dia miliki mampu mewadahi bahasaNya. Cinta yang akhirnya menghilangkan jarak pemuja dan yang dipuja, karena yang ada kemudian hanya Cinta itu sendiri.

Dan memang, hanya cinta yang mampu melawan ‘lupa’. Dan dalam hal ini kita harus berguru pada cinta Ibrahim, yang rela dia bayar dengan apa saja agar setiap saat semakin mendekat (qurb), dan semakin mendekat lagi pada yang dicintainya. Inilah satu-satunya jalan untuk mengelak dari siklus kejatuhan yang selalu diembuskan iblis dalam sejarah.

Mungkin inilah pendekatan sejati yang harus dilalui sampai kita didekatkan olehNya

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Indonesia Mulia

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda