Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu dinihari 23 Mei 2026 di Yogyakarta. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam tempat almarhum berkarier dan Persyarikatan Muhammadiyah wadah pengabdiannya kepada masyarakat kehilangan salah seorang kader terbaiknya.
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 1 April 1961, anak petani kaki Gunung Merapi. Ia meniti jalan pengabdian di perguruan tinggi dan di organisasi umat. Sampai saat terakhir Hamim Ilyas merupakan tenaga pengajar Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan jabatan terakhir Guru Besar. Pendidikan tinggi yang dilaluinya mulai dari Sarjana (S1), Pascasarjana (S2) dan Doktor (S3) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pendidikan keagamaan tamat PGA (Pendidikan Guru Agama) program 4 tahun dan dilanjutkan hingga 6 tahun serta Madrasah Mu’allimin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur.
Surat Keputusan Menteri Agama RI tentang kenaikan jabatan fungsional Hamim Ilyas menjadi Guru Besar Bidang Kepakaran Tafsir Ayat-Ayat Hukum di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sudah diterimanya tahun 2026 ini, namun belum sempat pengukuhan guru besar. Manusia berencana, Allah yang memutuskan dengan sebaik-baik takdir-Nya.
Penetapan sebagai guru besar atau profesor menjadi penutup perjalanan panjang pengabdiannya sebagai akademisi, ulama dan unsur pimpinan sebuah organisasi Islam yang besar. Dalam lingkaran pergaulan sosial Hamim Ilyas adalah sosok intelektual yang bersahaja, teduh, rendah hati dalam bergaul, dan murah senyum.
Salah seorang alumnus UIN Sunan Kalijaga, Khilmi Zuhroni, Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah PDM Kotawaringin Timur, menulis kesan tentang Hamim Ilyas, Guru Yang Penuh Kesantunan, ketika mahasiswanya bertanya dengan nada sok tahu, beliau tidak pernah memotong dengan pedas. Justru dengan kesabaran yang luar biasa, beliau mendengarkan sampai selesai, lalu dengan senyum yang menenangkan, beliau mulai merangkai jawaban yang tidak hanya memuaskan akal, tetapi juga menyentuh hati. Beliau tidak pernah membuat kami merasa bodoh. Sebaliknya, beliau membuat kami merasa dihargai, didengar, dan dibimbing dengan penuh kasih sayang.
Kolomnis senior Ahmadie Thaha menyebut Hamim Ilyas bukan sekadar ketua organisasi, bukan sekadar dosen, tetapi salah satu mesin berpikir utama di ruang think tank keulamaan Muhammadiyah selama tiga dekade terakhir. Nama Hamim Ilyas mungkin tidak sepopuler para da’i televisi. Ia juga bukan tipe ulama viral yang hidup dari potongan reels dan thumbnail YouTube. Tetapi di ruang-ruang serius tempat arah pemikiran Muhammadiyah dibentuk, nama Hamim berdiri sangat penting.
“Tiga puluh tahun lebih ia berada di jantung laboratorium ijtihad Muhammadiyah. Kalau Muhammadiyah punya “dapur nuklir pemikiran”, maka Majelis Tarjih adalah salah satu reaktornya. Dan Hamim termasuk ilmuwan senior di dalamnya.” tulis Ahmadie Thaha.
Berangkat dari lingkungan pengkaderan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), almarhum berkhidmat sebagai pengurus persyarikatan, mulai dari Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1990. Sejak Musyawarah Nasional Tarjih di Aceh tahun 1995 ia diajak masuk tim asistensi dan sejak itulah mulai bergabung di lingkaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada periode 1995–2000 ia menjadi Sekretaris Divisi Jurnal dan Publikasi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Dalam periode 2000–2005 sebagai Ketua Divisi Publikasi dan Dokumentasi, dan Wakil Ketua Bidang Tafsir periode 2005–2010 dan 2010–2015.
Dalam kepengurusan PP Muhammadiyah hasil Muktamar 2022 Hamim Ilyas dipercaya menjadi Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah periode 2022–2027. Salah satu legacy almarhum Hamim Ilyas dan kawan-kawannya dari Majelis Tarjih dan Tajdid adalah penyusunan tafsir Al-Qur’an yang diberi judul Tafsir At-Tanwir.
Tafsir yang merupakan produk kelembagaan Muhammadiyah dipersembahkan kepada masyarakat luas. Peluncuran cetakan pertama jilid 1 pada 13 Desember 2016. Tafsir At-Tanwir disusun berurutan sesuai mushaf, mulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An-Nas, dengan target penyelesaiannya pada 2027. Tafsir At-Tanwir substansinya merangkum etos ibadah, etos ilmu pengetahuan, etos ekonomi, dan etos sosial dalam kandungan isi Al-Qur’anul Karim.
Tafsir At-Tanwir disusun oleh tim terdiri dari Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc.,M.A. (alm), Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A., Prof. Dr. Muh. Zuhri, M.A., Prof. Dr. Salman Harun, Prof. Dr. Rusydi A.M., Prof. Dr. Muhammad Chirzin, Prof. Drs. Sa’ad Abdul Wahid (alm), Prof. Dr. Hamim Ilyas, M.Ag. (alm), Dr. Agung Danarto, M.Ag., Dr. Muhammad Amin, Lc, M.A.(alm), Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag., Dra. Siti Aisyah, M.Ag., Aly Aulia, Lc., M.Hum, dan Mohamad Dzikron, Lc., M.Hum (alm).
Di forum-forum dakwah dan diskusi ilmiah serta mimbar kajian-kajian hukum Islam yang dihadiri Hamim Ilyas sebagai pembicara, ia menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bahwa Islam bukan agama yang kaku dan menakutkan, melainkan agama kasih sayang. Islam menekankan tauhid yang Rahamutiyah, mungkin istilah ini kurang populer di kalangan masyarakat kita.
Pemikiran tentang Tauhid Rahamutiyah menjadi salah satu gagasan penting yang dikemukakannya. Tauhid Rahamutiyah merupakan konsep teologi Islam yang menegaskan bahwa Allah Swt Yang Maha Esa memiliki sifat dasar rahmah atau kasih sayang. Dalam pandangan ini, seluruh ciptaan dan syariat Allah ditujukan untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan sosial, perdamaian, dan kesejahteraan umat manusia. Karena itu, ajaran Islam tidak berhenti pada tataran konseptual dan ritual semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan.
Menurut Hamim Ilyas, seperti dilansir muhammadiyah.or.id., beragama itu bukan hanya untuk mendapatkan pahala dan menghindari neraka, tapi juga upaya membangun peradaban. Islam bukan hanya tentang ritual keagamaan semata, tetapi juga tentang keterlibatan aktif dalam pembangunan peradaban yang adil dan berkeadilan. Ia mengajak umat Islam untuk memperluas fokus, dari sekadar ritual keagamaan ke upaya nyata dalam membangun masyarakat yang baik dan mulia.
Hamim Ilyas menjelaskan bahwa Islam, sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, mengajarkan pembangunan peradaban yang menghasilkan kehidupan yang baik dan mulia. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur’an yang menekankan pentingnya keadilan dan harmoni dalam kehidupan manusia. Sesuai kriteria kehidupan yang baik dan mulia menurut Al-Qur’an, khususnya dalam surah Al-Baqarah ayat 62, kehidupan yang baik dan mulia dalam Islam meliputi kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat, tidak hanya secara spiritual tetapi juga dalam aspek sosial dan kesejahteraan bersama.
Islam sangat menghargai ilmu dan memandang bahwa orang yang berilmu lebih unggul dari mereka yang tidak berilmu (Q.S Az-Zumar [39]: 9). Al-Qur’an mendorong manusia untuk mempelajari alam raya seisinya sehingga berkembanglah ilmu sebagai rahmat Allah Swt. Orang beriman dan berilmu diangkat derajatnya oleh Allah (Q.S. Al-Mujadalah [58]: 11).
Pesan almarhum, ilmu sangat diperlukan dalam setiap segi kehidupan, berfikir, bersikap dan bergerak untuk mewujudkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan nyata. Karena, dengan ilmu, umat dapat menangkap pesan-pesan agama secara tepat, mengembangkan tata kehidupannya secara lebih baik, dan menciptakan hal-hal baru untuk memajukan tingkat peradaban manusia.
Semoga Almarhum husnul khatimah dan lahir para penerusnya dalam perjuangan dakwah, tajdid serta pembangunan umat dan bangsa menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amin.

