Lengsernya Soeharto dari jabatan presiden memang terasa sangat tiba-tiba dan di luar dugaan kita. Namun kita tak perlu heran. Sejarah memang selalu berulang.
Setiap bangsa punya sejarahnya sendiri. Kalau tidak berjuang untuk memerdekakan diri dari penjajahan asing, perjuangan itu sering pula ditujukan pada bangsa sendiri, terutama bila sudah terdapat ketimpangan-ketimpangan dan sikap arogan yang dinilai menjurus kepada kezaliman terhadap bangsa sendiri.
Salah satunya, kedatangan Julius Kaisar ke panggung sejarah seolah-olah untuk melengkapi kisah seperti itu sehingga lahir tragedi politik yang legendaris. Jenderal dari kalangan elite ini memang lebih suka bergabung dengan rakyat biasa dan banyak membela kepentingan mereka. Namun, setalah kekuasaannya makin mantap dan kedudukannya makin kuat, ia berbalik menjadi seorang diktator yang tidak disenangi rakyat. Ia ditentang dan kemudian dibunuh oleh kawan seiringnya, Brutus, dengan kemampuan retorikanya yang luar biasa. Tindakannya ini dibenarkan oleh rakyat.
Bukan maksud saya bercerita soal politik. Dan saya tidak melantur kalau tulisan ini menyinggung soal itu. Sesudah mengikuti peristiwa di Tanah Air beberapa bulan belakangan, terutama soal pergantian kepala negara dan masa reformasi, kita teringat pada makna pergantian atau suksesi.
Dalam sejarah Islam, soal yang satu ini dikenal dengan kata khilafah atau kekhalifahan. Pada setiap Rabiul Awal, serta merta saya teringat pada kenangan lahirnya tokoh yang begitu agung dalam sejarah umat manusia, figur historis yang tak akan habis-habisnya kita kaji. Bulan ini kita kenal dengan sebutan bulan Maulid, hari kelahiran Nabi Muhammad Rasulullah. Yang perlu kita kaji, mengapa Rasulullah tidak menunjuk penggantinya? Sejenak kita heran, kita bingung, mengapa demikian.
Para sahabat kemudian bersidang untuk memilih seorang pengganti. Sidang itu diwarnai oleh perdebatan berat dan sengit, karena muncul pihak Anshar yang mengklaim bahwa kepemimpinan umat harus di tangan mereka. Di antara alasannya, dengan pertolongan orang-orang Madinah, Nabi dan para Sahabat dapat hijrah ke Madinah. Islam juga berkembang dari Madinah dan Nabi wafat pun di Madinah.
Akan tetapi, Abu Bakar akhirnya dapat lebih meyakinkan mereka, terutama setelah dia mengemukakan bagian pendek sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi, “Pelopor-pelopor pertama dari Muhajirin dan Anshar, dan yang mengikuti dalam segala perbuatan yang baik ..” (Q.S. 9: 100). Dengan ayat ini mereka kemudian tunduk. Tentu ini hanya karena landasan iman yang begitu kuat pada semua pihak waktu itu. Al-Qur’an memang mendahulukan kaum Muhajirin, baru kemudian kaum Anshar.
Sesudah itu, Abu Bakar menjadi khalifah pertama dari hasil pemilihan dan persetujuan para sahabat Nabi. Namun, menjelang kematiannya, ia menunjuk Umar ibn Khattab menjadi penggantinya, tidak lagi dengan pemilihan. Akhirnya cara ini diterima setelah terjadi sedikit per-debatan. Mereka khawatir sebab watak dan sikap Umar terkenal keras.
Berbeda dengan Abu Bakar, sebelum wafat akibat ditikam seorang Majusi, Umar sempat membentuk majelis Syura yang terdiri atas enam orang untuk memilih khalifah, yang kemudian jatuh pada Utsman ibn Affan. Namun saat itu terjadi pemberontakan yang mulanya disulut oleh Abdullah ibn Saba’, orang-Yahudi dari San’a di Yaman, yang pada masa Utsman masuk Islam. Ia mengunjungi kota-kota di kawasan Islam dan berusaha membangkitkan kemarahan orang kepada Utsman. Banyak orang awam terpengaruh dan umat terpecah.
Dalam hal ini, Ali ibn Abi Thalib dengan tegas membela Utsman, meski kemudian Utsman terbunuh. Ia kemudian digantikan Ali, meski Ali menerimanya dengan berat hati. Namun api sudah telanjur menyala, yang kemudian juga dihembuskan oleh lawan-lawan Ali. Karena keteguhan iman dan kejujurannya, Ali harus mengemban tugas berat itu walaupun akhirnya harus ditebus dengan nyawanya pula.
Namun Rasulullah berbeda dengan mereka semua. Dia adalah Nabi dan kenabian tak dapat digantikan sehingga tak mungkin ia menunjuk pengganti atau isyarat ke arah itu. Semua diserahkan kepada kebijakan para sahabat yang ditinggalkannya.
Pada dasarnya, Nabi adalah seorang demokrat sejati. Segala keputusan yang diambilnya dimusyawarahkan dengan para sahabat dekatnya, sepanjang tidak menyangkut wahyu. Dia bukan raja, yang akan mewariskan kerajaan kepada anak-cucu. Dia bukan pemimpin dan kepala negara biasa, yang bisa dijatuhkan dan diganti. Dia adalah Nabi dengan tipologi dan sifat-sifat yang amat jelas, yang ditandai dengan keluhuran budi dan akhlak yang takkan dapat dipikul oleh manusia biasa. Kalau sampaiia menunjuk pengganti, apalah jadinya sejarah umat manusia.

Penulis: Ali Audah (1924-2017), sastrawan dan penerjemah. Semasa hidupnya pernah menjadi dosen Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, dan Institut Kesenian Jakarta; direktur Penerbit Tintamas, pengurus IKAPI Pusat dan ketua Himpunan Penerjemah Indonesia.
Sumber: Panji Masyarakat, 15 juli 1998