Pekerjaan pelawak memang mengundang gelak tawa. Meski dibalik panggung, kehidupan artis yang satu ini tidak selalu penuh gelak tawa. Kali ini, kami ketengahkan sekelumit kisah komedian eks Grup Srimulat, Toto Muriadi, yang punya nama panggung Tarzan. Wajahnya sangat mudah dikenal. Gaya panggungnya pun cukup khas. Karier keseniannya juga terus menanjak, dari ludruk kecil di kampung, panggung Srimulat di Ibu Kota, kini merambah ke dunia sinema elektronik dan iklan. Kepada wartawan Panji Masyarakat, Deny R. Secaatmaja, Tarzan berbagi kisah dalam suasana akrab dan santai.
Suatu ketika sehabis main sandiwara, seorang kepala desa mendatangi saya dan memberi nasihat. “Kamu ini kalau main sandiwara yang bener. Ini, saya kasih wiridan “Saya tanya, wiridan apa? “Surat Yusuf,” katanya. Begitu saya mendengar Pak Kades, saya terbangun. Semua itu ternyata hanya mimpi. Dalam mimpi itu saya seolah-olah sedang ikut main sandiwara. Saat sudah benar-benar sadar, saya segera mencatat surat Yusuf dan saya hafalkan. Waktu itu saya belum tahu wiridan itu untuk apa. Saya bertanya kepada Bapak, apa manfaat wiridan. “Semua doa itu baik dan bermanfaat. Asal kemudian dilaksanakan sebagai ibadah,” kata Ayah. Mimpi itu terjadi semasa saya masih kanak-kanak, seusia SD. Kadang-kadang orang bercanda mendengar cerita ini: ah, mungkin mukamu kan memang seperti Nabi Yusuf.

Keluarga Santri
Masa kecil saya cukup menyenangkan. Bayangkan saja, saya ini anak orang kaya di kampung. Bapak termasuk kepala daerah, walaupun tingkat empat alias Kades. Saya tumbuh menjadi anak yang agak manja. Minta apa saja dituruti. Sekolah saya akhirnya agak terbengkalai. Saya ini nggak pernah nyantri, meski saudara saya semua nyantri. Saya memang rada lain. Saya cuma ikutan mengaji di kampung. Yah, asal mengaji saja.
Lingkungan sosial saya pada masa kecil cukup religius. Kampung saya namanya Panigoro, Kecamatan Wonolegi, Malang. Di sana itu memang perkampungan santri untuk ukuran lingkungan saya saat itu. Apa yang saya lakukan memang agak lain, meski begitu kelakuan saya tidak pas kalau disebut badung. Saya ini royal, suka jajan. Meski begitu, alhamdulillah, saya tak terjerumus minuman keras. Nggak pernah. Perbedaan kelakuan saya dengan saudara-saudara saya, mereka tekun belajar, ya sekolah umum ya mengaji, tapi saya malah menghabiskan waktu seharian dengan ikut bermain sandiwara. Pulang sekolah naik motor, langsung main sandiwara. Ini berjalan sampai sekolah menengah atas.
Sebetulnya saat kecil saya punya cita-cita tinggi, ingin menjadi pilot. Tapi cita-cita kandas karena pengaruh lingkungan. Teman-teman saya banyak yang mengajak saya ikut bermain sandiwara. Sejak sekolah menengah pertama, saya sudah ikut tampil di teater sekolah. Minat saya bermain sandiwara, sudah tumbuh sejak kecil. Hobi bermain sandiwara keterusan, sampai-sampai kuliah saya tidak pernah selesai. Meski keasyikan bermain sandiwara, alhamdulillah, untuk salat saya selalu ingat. Bapak selalu mewanti-wanti bahwa salat itu utama. Sampai umur 100 lebih Bapak tidak pernah meninggalkan salat. Dalam keadaan apa pun beliau tetap salat. Saya menyaksikan sendiri, sepanjang pengetahuan saya, beliau tidak melewatkan tengah malamnya kecuali bersalat tahajud. Itu terus dilakukannya, sampai dokter mengingatkan beliau untuk tidak salat malam seperti dulu-dulu karena terserang penyakit. (Bersambung)
Sumber: Panji Masyarakat, No. 34 Tahun III, 8 Desember 1999