Tasawuf

Meluruskan Salah Paham terhadap  Zuhud (1)

Written by Panji Masyarakat

Banyak orang yang mengklaim bahwa kehidupan zuhud hanya merupakan penghambat bagi kemajuan Islam. Kehidupan zuhud itu tidak sesuai dengan ajaran Islam sejati. Dia penuh noda karena banyak dipengaruhi ajaran agama atau filsafat di luar Islam.

Ada yang mengatakan bahwa kehidupan zuhud itu berasal dari ajaran Kristen dan ada pula yang mengatakan dari ajaran Budha selain banyak lagi pendapat-pendapat yang barangkali tidak sesuai dengan pikiran kita.  Ada sebuah aliran yang sangat mengutamakan kesenangan diri sendiri, namanya Hedonisme. Kalau aliran ini dihadapkan . kepada kehidupan zuhud, maka zuhud akan dianggapnya sebagai perbuatan yang menyiksa diri. Apalagi aliran materialisme yang . sangat mementingkan kehidupan materi dan menolak dibalik ada yang kelihatan, mungkin. kehidupan zuhud akan ditafsirkan sebagai perbuatan yang menghancurkan tujuan hidup manusia.

 Memang, di dalam Qur’an secara tersurat tak akan ditemukan istilah zuhud, namun banyak ayat-ayat Our’an yang secara tersirat menunjukkan adanya kehidupan zuhud:. Di samping itu kehidupan Nabi sendiri secara tak langsung mencerminkan adanya kehidupan zuhud tersebut. Kita tak dapat menutup mata bahwa setelah  Nabi wafat, para tokoh muslim telah banyak menerjemahkan kehidupan zuhud dengan nada yang agak ekstrem. Namun, mereka sendiri masih mengaku seorang muslim yang disertai iman dan amal salihnya.

Zuhud Menurut  Qur’an

Banyak ayat-ayat dalam Qur’an yang mengandung makna supaya kita berhati-hati terhadap kehidupan dunia. Dunia ini merupakan perhiasan yang sangat memesona dan sifatnya sementara. Untuk itulah kita jangan sampai terperdaya. Di bawah ini arti dari ayat-ayat yang dimaksud.

“Kehidupan dunia ini tiada lain hanya permainan dan penghibur, sedang tempat di akhirat itulah hidup yang sebenarnya,   andaikan mereka mengetahui.” (Q.S.  Al-Ankabut:  64). “Telah melalaikan kamu perlombaan memperbanyak kekayaan, hingga kamu masuk ke kubur.”  (Q.S.  At-Takatsur: 1-2)

Untuk lebih mengetahui makna kehidupan dunia, silakan periksa surat Yunus ayat 24, surat Al-Kahfi ayat 46-47, surat Al-Hadid ayat 20, surat Al-Imran ayat 14 dan surat Luqman ayat 33.

 Sikap berhati-hati terhadap dunia tidak berarti meninggalkan kesenangan terhadap dunia itu dan bukan menjauhkan diri dari keramaian dunia, tetapi bagaimana kita dapat mengatur dunia, dapat mengendalikan dunia, dan dapat menggunakan dunia sebagai kendaraan untuk menuju alam abadi setelah dunia.

Zuhud dalam Hadis

Terdapat hadis-hadis yang menunjukkan anjuran kepada kehidupan zuhud, baik secara tersurat maupun tersirat. Di antaranya seperti di bawah ini, artinya:  “Zuhudlah terhadap dunia, supaya Tuhan mencintaimu. Dan zuhudlah pada yang ada di tangan manusia, supaya manusia pun cinta akan engkau.“ (HR Ibnu Majah, Thabrani dan Baihaqi)

“Sikap Nabi  terhadap dunia wajar-wajar saja. Kehidupan beliau sangat hemat.  Beliau mengerjakan apa saja termasuk pekerjaan yang paling kasar dengan tangannya sendiri. Dan sampai meninggal pun, tak ada harta benda yang dimilikinya.”

“Apabila Tuhan menghendaki seorang hamba-Nya menjadi orang baik, diberinyalah paham akan rahasia agama, ditimbulkan-Nya rasa zuhud terhadap dunia dan diberi-Nya anugerah dapat memandang  yang gaib dan cela-cela dirinya sendiri.” (HR Baihaqi)

“Kalau engkau ada melihat ada orang yang zuhud terhadap dunia, dekatlah dia. Itulah orang yang telah diturunkan Tuhan hikmat kepadanya.“  (HR Abu Ya’la)’

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda,  “Dunia ini bagaikan penjara bagi orang-orang mukmin dan sebagai surga bagi orang-orang kafir.“  (HR Muslim)

Dari Anas r.a.. Nabi bersabda: “Ya Allah, sebenarnya tiada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat.“  (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a.. bersabda Rasulullah SAW: “Andaikata saya mempunyai emas sebesar Bukit Uhud,  niscaya saya lebih senang kalau emas itu tidak lebih dari tiga hari di tangan saya, kecuali jika saya meninggalkan sisa untuk membayar hutang.”  (HR Bukhari dan Muslim)

Jelaslah, bahwa Rasul adalah seorang yang tidak mudah tergiur dengan keelokan duniawi. Beliau tidak rakus dalam menggunakan perhiasan dunia. Tetapi hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau seorang yang tak mampu mencari rezeki Tuhan sebanyak-banyaknya. Nabi adalah seorang – yang kaya raya.  Tetapi, kekayaannya tidak dikenyam sendiri, melainkan diberikan kepada sesamanya yang masih sangat membutuhkan . dan digunakan untuk biaya peperangan dan pembangunan.

Zuhud dalam Kehidupan Nabi

Sejak kecil kehidupan Muhammad (Nabi) telah banyak mencerminkan kehidupan zuhud. Beliau sering lapar, bahkan pernah perutnya yang kempis (kosong) itu diberi batu dan diikat, biar rasa laparnya berkurang. Karena ayah dan ibunya telah meninggal, – maka kehidupannya penuh keprihatinan, tak pernah dimanjakan. Sejak kecil, dia sudah biasa menggembala kambing dan biasa berdagang. Berarti, berlatih mencari rezeki yang halai dengan keringatnya sendiri.

Setelah diangkat menjadi Rasul, kehidupan zuhudnya semakin nampak. -Hidupnya penuh dengan kesederhanaan, pakaiannya sederhana, makannya hanya dengan sebuah roti tawar atau sebiji tamar yang. diiringi dengan seteguk air bening. Pernah punya kambing sekandang yang dihadiahkan kepada orang yang sangat membutuhkan.

Harta yang paling mewah yang ada pada tangannya, hanyalah sepasang sepatu warna kuning, hadiah Negus dari Abyssinia. Padahal Beliau mempunyai kekuasaan penuh dan dengan mudah untuk memenuhi keinginannya. Mengenai tempat kediamannya, Beliau tidak seperti raja-raja yang lain.

Kalau rakyatnya miskin, beliau tak mau menonjol di atasnya,, tetapi berusaha mengangkat kemiskinan itu ke tingkat yang lebih makmur, meskipun dirinya sendiri masih dalam keadaan kurang makmur. Dengan istilah lain, sosialisme-nya sangat menonjol. Beliau tinggal bersama isteri-isterinya di dalam sebuah pondok kecil, beratapkan jerami, tiap-tiap kamar dipisah dengan batang-batang pohon palma. Beliau menyalakan api, mengepel lantai (menyapu halaman rumah), memerah susu kambing.

Di luar rumah beliau ada sebuah serambi untuk berkumpul anak fakir miskin atau anak terlantar, yang selalu mendapatkan belas kasihan dari beliau. Sikap Nabi terhadap dunia wajar-wajar saja. Terhadap kemegahan hidup dunia dianggapnya rendah. Beliau mempunyai prinsip kehidupan yang sangat hemat. Beliau mengerjakan apa saja termasuk pekerjaan yang paling kasar dengan tangannya sendiri. Dan sampai meninggal pun tak ada harta benda yang dimilikinya. Sekarang menjadi lebih jelas bahwa kehidupan zuhud sangat dianjurkan oleh Nabi. Tetapi kita masih banyak kesalahan dalam menafsirkan zuhud tersebut, sehingga dengan hidup zuhud seakan-akan menghambat kemajuan Islam. Karena kurang tepat dalam penafsiran, maka kita cenderung kepada paham fatalisme,  padahal dengan zuhud kita tidak harus menuju ke arah itu.

Bersambung

Penulis: Endah H. Sumber: Panji Masyarakat, 21-30 November 1987

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda