Tasawuf

Korona Taqwa

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Karantina yang diterapkan Mbah Sirra membuat kami tidak leluasa untuk keluar dari lingkungan pesantren. Lokasi pesantren yang terletak di pinggir desa dan hanya punya satu jalan untuk masuk dan keluar, memungkinkan karantina dijalankan dengan cukup efektif.

Berjarak kurang lebih 30 meter dari pemukiman penduduk; kiri-kanan dan belakang dibatasi oleh persawahan milik pesantren, sementara bagian depan langsung terhubung dengan jalan desa. Ini membuat masuk-keluarnya orang lebih mudah diawasi.

Kurang lebih sebulan yang lalu, penduduk desa sempat geger dan panik. Pasalnya ada salah seorang warganya yang positif terpapar Covid-19; dan baru diketahui kurang lebih sepuluh hari setelah dia datang dari mengikuti sebuah acara di Gowa, Sulawesi Selatan. Padahal, sebelum diketahui positif terpapar, orang tersebut sempat berinteraksi dengan sebagian warga lainnya.

Desa mendadak senyap. Jalan-jalan sepi. Tak ada orang yang berani keluar rumah. Praktis hanya petani yang masih bekerja; itu pun hanya dari rumah ke sawah, tanpa berinteraksi dengan orang lain. Pasar otomatis tutup, aktivitas perdagangan hampir sepenuhnya mandek. Orang-orang dari luar desa pun tiba-tiba tak ada yang berani bahkan hanya untuk sekedar lewat.

Dampak pandemi ini memang luar biasa. Dalam sekejap mampu mengubah perilaku orang. Tapi, ada faktor lucunya juga. Kurang lebih tiga hari kemudian; setelah pelacakan membuktikan bahwa tak ada warga lain yang ikut terpapar; aktivitas masyarakat pun balik seperti semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mengubah kebiasaan memang lebih mudah dikatakan dari pada dijalankan.

“Ada yang tak kurang lucunya juga,” ujar Lik Cecep, “dulu sebelum memulai sholat jamaah, imam selalu berseru: rapatkan shaf, rapatkan shaf. Nah, sekarang seruannya berubah: renggangkan shaf, renggangkan shaf!”

“Lha, kalau renggang kan setan yang ikut jadi banyak…” sahut Giman dengan tertawa.

“Tampaknya kita memang acap gagap menghadapi masalah, karena tidak pernah benar-benar menguasai data, sehingga jalan keluar yang diambil pun sering tidak presisi, bahkan terkesan cenderung menggampangkan…” sambung Kang Sam.

“Itulah sebabnya Mbah Sirra kerap menekankan pentingnya taqwa dalam menyikapi pandemi ini…” jelas dokter Muhadi saat kami membicarakan gejala tersebut di gotha’an. Dokter ini bisa dikatakan semacam dokter pribadi Mbah Sirra. Hampir setiap bulan dia datang ke pesantren untuk memeriksa kesehatan Mbah Sirra, mau pun untuk sekedar berkunjung. Seringkali pula, sambil menunggu waktu bertemu Mbah Sirra, dia ikut jagong di gotha’an bersama kami.

“Penerapannya yang paling umum adalah dengan laku waspada dan hati-hati; yang merupakan lawan dari laku lengah dan abai atau ngawur. Waspada dan hati-hati menjadi kunci penting, karena kita sedang berada dalam situasi yang serba remang dan tidak jelas. Tak ada data yang benar-benar akurat tentang apa yang sebenarnya kita hadapi,” sambungnya.

“Harus diingat, pada umumnya bawaan manusia memang cenderung aneh. Pengetahuannya tentang keburukan misalnya, tidak otomatis membuat ia berhenti berbuat buruk. Ia baru mungkin berhenti saat secara langsung mengalami akibat buruk dari perbuatannya. Itu pun tanpa jaminan ia tak kembali mengulanginya.”

“Ini berlaku dalam hal apa saja. Padahal, seringkali akibat buruk tidak langsung menimpanya, tapi baru menggejala setelah keburukan yang dilakukannya berakumulasi sekian waktu. Yang demikian ini justru menyebabkan orang lengah dan abai, karena semakin lama ia semakin meyakini bahwa keburukan yang dilakukannya tak berdampak pada dirinya.”

“Contoh sederhananya adalah soal kesehatan fisik dan pola makan; terkait apa yang disebut junk food misalnya. Jenis makanan yang banyak dijajakan ini, menurut ilmu kesehatan jelas tergolong jenis makanan yang tidak sehat. Kita tahu itu, tapi karena dampak kesehatannya tidak langsung terasa, kita jadi abai. Baru lima sampai sepuluh tahun kemudian tubuh kita secara langsung merasakan dampaknya. Yang seperti ini cenderung terus berulang dilakukan manusia.”

“Terhadap informasi dan fakta yang jelas saja laku manusia cenderung demikian; apalagi terhadap informasi dan fakta yang cenderung remang dan tidak jelas seperti pandemi kali ini.”

Dengan serius kami menyimak paparan dokter Muhadi, yang kami anggap lebih banyak tahu tentang penyakit jenis baru ini.

“Pelan-pelan mari kita coba lacak faktanya sesuai kemampuan dan informasi yang kita terima,” sambungnya.

“Pertama, virus ini adalah varian virus korona yang sama sekali baru; sehingga kalangan virolog, epidemiolog dan dunia medis pun masih dalam tahap mengenali dan mempelajarinya. Masih tahap trial and error dalam menanganinya. Akibatnya, publikasi mereka sering berubah; ada revisi terus menerus. Contohnya: pada awalnya hanya yang sakit yang wajib pakai masker; kemudian direvisi, semua harus pakai masker bila beraktivitas di luar rumah. Dulu, mereka yang OTG (orang tanpa gejala) dianggap sebagai pihak yang paling potensial menjadi penyebar utama; kini ada revisi, mereka dianggap tidak potensial untuk menyebarkan virus.”

“Belum lagi masalah virusnya itu sendiri, yang terus bermutasi, dan secara langsung terkait dengan tingkat ancamannya pada manusia. Banyak lagi contoh lain. Intinya, bagi awam ini lantas ditangkap sebagai bentuk ketidak-tahuan. Kalau sama-sama tidak tahunya, kenapa harus dipercaya; mungkin begitulah nalar mereka. Nah, kenyataan ini masih ditambah pula dengan guyuran informasi yang tidak jelas asal-usulnya tapi jelas tujuannya, yaitu: menafikan semua informasi yang lebih ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Akibatnya, landasan berpikir mereka yang sudah lemah, semakin guncang, sehingga tak heran bila kemudian ada yang sampai pada tahap sepenuhnya tidak percaya bahwa Covid-19 nyata ada.”

“Yang kedua, ini lebih serius karena landasan fakta untuk mempertanyakannya terlihat sedikit lebih jelas; yakni soal penyebarannya. Sudah banyak penjelasan yang dibuat mengenai pola pandemi yang penyebarannya hampir selalu bersifat lonjakan, eksponensial. Untuk menghambat penyebaran ini, langkah bakunya adalah dengan membatasi aktivitas orang di luar rumah. Tapi, setidaknya sampai hari ini, belum ada penjelasan yang memuaskan bagaimana demonstrasi besar-besaran di Amerika Serikat yang kasus Covid-19nya saat ini terbanyak, juga negara-negara lain, yang melibatkan ribuan bahkan puluhan ribu orang dan berlangsung berhari-hari; tidak diikuti dengan lonjakan jumlah pasien yang terpapar? Padahal, penjarakkan secara fisik tidak mungkin dilakukan ketika berdemonstrasi. Apakah hanya karena mereka memakai masker, yang nyatanya banyak juga yang sering di lepas? Belum ada publikasi yang secara tegas memasukkan keikutsertaan orang dalam demonstrasi ini sebagai sumber keterpaparannya. Tentu ini juga harus dijelaskan berdasar data yang akurat, agar tidak menambah jumlah tafsir liar yang beredar di kalangan awam.”

“Ketiga adalah masalah transparansi. Ini yang paling penting bagi kita. Di sini kita hanya punya satu sumber informasi tentang jumlah mereka yang terpapar Covid-19; dan tidak mungkin bisa diperiksa silang oleh warga. Nyaris sama dengan sumber informasi tentang teroris, yang selalu dari satu pintu, tanpa ruang untuk memeriksa silang ke lapangan. Bila sumber ini, entah karena pertimbangan apa, lantas memilih untuk tidak transparan dalam publikasinya; maka bisa diperkirakan akibat psikologisnya bagi masyarakat: mereka akan cenderung lengah terhadap bahaya yang mungkin ada di depannya.”

“Bukankah tiga hal ini saja sudah cukup untuk kita kategorikan sebagai sesuatu yang remang dan tidak jelas?” Dokter Muhadi menarik nafas panjang.

“Sementara itu. di sisi lain, kita juga punya banyak informasi tentang rumah sakit yang penuh, banyaknya pasien yang tak tertolong dan sebagainya dan seterusnya. Artinya, betapa pun banyak lubang dan keremangan informasi yang masih harus kita lacak; tapi itu semua tak menutup fakta bahwa virus ini nyata, masih bergentayangan dan sewaktu-waktu bisa menempel ke tubuh kita.”

Gantian kami yang kini menarik nafas panjang.

“Tak heran kalau Mbah Sirra acap menekankan pentingnya taqwa, hati-hati dan waspada; baik secara individual mau pun sosial. Dan bukankah taqwa memang bekal utama manusia untuk melalui dunia? Dunia yang di matanya hampir selalu tampak remang, dan karena itu menciptakan banyak lubang jebakan?”

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda