Tasawuf

Dari Kisah-kisah Pertobatan (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Taubat nashuha adalah  tobat yang setulus-tulusnya dan tak pernah dihinggapi rasa untuk  kembali ke perbuatan mesum dan dosa-dosa.

Adalah seorang bernama Nashuh. Seorangp pria yang berprofesi sebagai tukang pijit, dan pelayan para wanita di sebuah pemandian kelas wahid. Sebenarnya pekerjaan demikian terlarang baginya, karena laki-laki dilarang bekerja di tempat khusus untuk perempuan. Tetapi, untuk memuaskan nafsu mudanya, ia menyamar sebagai wanita. Itulah soalnya. Dengan itu, ia bisa melihat dan memijit putri-putri raja. Nashuh berkali-kali niat tobat, tetapi dorongan nafsunya senantiasa membuyarkan niat baiknya itu.

Suatu hari ia mengunjungi seorang arif dan mohon didoakan agar terhindar dari kesesatan. Orang arif itu, melalui kasyf yang dimilikinya, tahu apa yang bergejolak di hati Nashuh, kendati dia tidak mengatakannya terus terang.

Ia hanya berdoa. Lalu berkata, “Semoga Tuhan menolong kami dalam tobatmu.” Doa orang salih itu tampaknya dikabulkan Allah, melalui suatu peristiwa dramatis berikut ini.

Suatu hari, ketika Nashuh sedang melayani seorang ratu, tiba-tiba ratu muda itu kehilangan anting-anting yang sangat disayanginya. Akibatnya, rumah pemandian itu buru-buru ditutup untuk diadakan pencarian menyeluruh. Segenap pelayan wanita dikumpulkan dan disidik. Karena takut akan terbongkar kedok kepriaannya, sendi-sendi Nashuh gemetaran, dan tanpa menunggu panggilan ia sembunyi disebuah pojok. Toh ketakutan semakin mencekam dirinya — dia merasa seakan tercekik dan segera mati. Karena ia tahu hukuman yang akan diterimanya pasti akan lebih berat daripada yang dijatuhkan atas seseorang yang nyolong anting-anting.

Ketika rasa terjepit sudah sangat menghimpitnya, dengan suara perlahan ia mengeluh, “Wahai Allah, Engkau  Maha Pengampun atas setiap dosa hamba-Mu. Seandainya Engkau memberi ampun atas dosa hamba-Mu ini, hamba secara tulus akan berubah menjadi orang baik. Dan seandainya hamba mengingkari keyakinan ini kelak, maka jangan lagi terima hamba yang berdosa ini.”

Ketika persaan takut menerkam tengkuknya, tak berapa jauh dari tempat persembunyiannya petugas memanggil nama pelayan satu demi satu. Dan pada saat-saat terakhir terdengar suaranya:  “Kita telah periksa semua pelayan hanya tinggal satu nama yang belum ditemukan yaitu Nashuh.Cari dia, kembali geledah semua ruangan!” Mendengar itu, Nashuh terhenyak luruh dan jatuh, pingsan dilantai. Seiring terbangnya kesadaran, Nashuh pasrah, tiada lagi tempat kembali kecuali satu, Allah.

“Dalam keadaan tak sadar itulah, Nashuh meninggalkan alam nafsu duniawinya dan kembali ke alam suci. Ia pun terlahir kembali ke dalam kehidupan yang  baru. ”

Pada saat yang hampir bersamaan, tiba-tiba permata yang hilang itu ditemukan seorang pelayan. Tapi kini perhatian orang banyak bukan lagi tertuju pada anting-anting, tetapi kepada Nashuh, bagaimana dapat  disadarkan dari pingsannya. Nah dalam keadaan tak sadar itulah, ternyata, Nashuh, meninggalkan alam nafsu duniawinya, dan beralih kealam kesadaran suci, sehingga ketika tersadar dari pingsannya seaakan ia terlahir kembali ke dalam kehidupan baru.

Sekarang Nashuh bukan Nashuh yang dulu lagi. Dia telah berpindah dari alam kegelapan nafsu ke alam kecerahan kalbu. Kestiaan Nashuh kepada keyakinannya yang baru demikian teguh, sehingga segala bentuk rayuan yang datang menggodanya setelah mendapat kecerahan itu senantiasa ditolaknya.  Pergilah! Saya bukan Nashuh yang dulu lagi. Tangan Nashuh yang dulu cekatan memijit para tamu wanitanya sekarang sekarang tak bisa lagi bersentuhan, karena telah disucikan oleh taubat yang sesungguhnya, taubat nashuha.Jadi , taubat nashuha adalah  tobat sebagi yang dilakukan Nashuh, yakni tobat yang setulus-tulusnya dan tak pernah dihinggapi rasa untuk  kembali ke perbuatan mesum dan dosa-dosa. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kamu kepada Allah, dengan taubat nashuha, semoga Tuhanmu  akan menutupi kesalahan-kesalanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” {Q. 66:8} Bersambung

Penulis: Yunasril Ali (Sumber: Panjimas, Desember 2002). Ia adalah Guru besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta    

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024