Tasawuf

Halaqah Santri Mbeler

“Yang waras, minggir!” geletar suara kyai Anom mengejutkan kami. Seperti biasa, dia bisa tiba-tiba saja nongol tanpa ada yang tahu kapan dia datang. Kami memang sering kurang waspada sehingga tak pernah bisa melihat dari mana arah datangnya; seringkali seperti mendarat dari langit, tahu-tahu dia sudah duduk bersandar di pojok gotha’an.

Manusia satu ini memang cenderung suka menabrak pagar kebiasaan, jenis manusia khoriqul adah yang gemar melawakkan banyak hal yang disembah-sembah orang. Sebenarnya kami tidak pernah sepenuhnya tahu latar belakangnya; informasi yang dia berikan pun cuma sepenggal-sepenggal, kadang malah melantur-lantur, sehingga bukan memperjelas tapi acapkali justru makin mengaburkan asal-usulnya.

Sementara suara yang beredar di luaran lebih kacau balau lagi, dan tak mungkin bisa jadi patokan. Ada yang bilang dia sebenarnya agak gila, yang lain bilang dia sedang tersesat, yang lain lagi bilang dia mencari tumpangan eksistensi, yang sana bilang dia orang yang sengaja menyusup, yang lebih sana lagi bilang dia mencari pelarian, yang sini bilang dia linglung, yang lebih sini bilang dia orang buangan. Pokoknya ada beribu versi yang diceritakan orang tentang dirinya; sehingga identitasnya macam toko serba ada, dimana segala macam stempel bisa ditemukan.

Walhasil, kami segan pada dia hanya karena melihat kedekatan mbah Sirra pada manusia satu ini. Dia bisa dengan merdeka blusak-blusuk ke ndalem bahkan ke kamar mbah Sirra tanpa mengenal waktu. Kecuali itu, seringkali dia kami lihat berjam-jam berbicara berdua dengan mbah Sirra di kamar, sesuatu yang tak pernah dilakukan siapapun, apalagi oleh kami para santri. Suara tawanya yang lepas kadang terdengar bergema disela-sela pembicaraan mereka, sesuatu yang juga tak akan pernah berani dilakukan siapapun, apalagi oleh para santri.

“Kopi, kopi, kopi…” seru kyai Anom. Lik Cecep dengan sigap langsung menuju dapur. Mendengar suara kyai Anom, santri-santri pun segera berkerumun di gotha’an saya. Mereka sangat suka mendengar kyai Anom ‘berfatwa’; apalagi kalau sudah mulai melantur; pasti sampai kemana-mana, entah saling berhubungan atau tidak. Pokoknya, bicara dengan dia pasti seru dan mengasyikkan, meski seringnya kami tak paham benar dengan apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan.

“Dunia sedang gila dan dikuasai orang-orang gila, jadi yang waras minggir saja” ancang-ancang kyai Anom untuk memulai ‘fatwa’nya.

“Kok malah minggir? Bukankah itu artinya membiarkan dunia semakin gila dan orang-orang gila semakin berkuasa?” tanya lik Cecep sambil menyorongkan gelas besar kopi ke hadapan kyai Anom.

“Bukankah yang sekarang sedang ramai beredar malah ungkapan: yang waras jangan ngalah?” sambung Lik Jum penasaran.

“Ya tergantung…” ujar kyai Anom sambil tertawa kecil dan mengedarkan pandangannya pada kami.

“Kok tergantung?” sergah lik Cecep. Kelihatannya lik Cecep agak masygul melihat kyai Anom malah cengengesan menanggapi pertanyaannya.

“Ya tergantung jarak, sudut dan cara pandangmu…” Kyai Anom tampak sengaja membiarkan kalimatnya menggantung, seperti memberi kami jeda waktu untuk mencerna sebelum dia masuk ke kalimat selanjutnya.

“Gampang saja kok. Ungkapan yang waras jangan ngalah itu kan mengandaikan bahwa yang dihadapi adalah yang tidak waras alias gila. Masak orang waras disuruh berkelahi dengan orang gila? Malah jadi sama gilanya tho…” jelas kyai Anom sambil menyeruput kopinya.

”Tidak waras belum tentu gila, bisa saja berarti sakit,” potong lik Jum.

”Apalagi! Orang sakit itu diobati, bukan diajak gelut…” jawab kyai Anom sekenanya.

“Waduh…!” gumam lik Jum.

“Yang waras justru harus ngalah…” lanjut kyai Anom dengan menekankan penyebutan kata ngalah sehingga terdengar menjadi ngAllah. Kata ini bisa berarti mengAllah, menuju Allah, mendekat ke Allah atau bersikap seperti Allah.

“Kok malah begini jadinya?” Lik Jum tampak makin keheranan.

“Itu yang pertama. Yang kedua, kalau kamu menganggap dirimu sebagai faktor penting untuk mencegah dunia semakin gila, ya silakan kalau kamu tidak minggir, cuma…”

Seperti biasa, jawaban-jawabannya yang hampir selalu hanya sampai koma, membuat manusia satu ini kadang terasa menyebalkan. Dengan cara ini, rasanya dia sengaja membuat kami jadi serombongan orang haus yang selalu menjulurkan lidah, sementara airnya malah dia bagikan setetes demi setetes.

“Lho, bukankah kita ini khalifah yang bertanggung-jawab terhadap kelangsungan dunia dan isinya?” protes kang Sam.

“Yang bilang siapa?” Jawaban kyai Anom ini membuat kami semua saling berpandangan. Rasanya kami semakin tak paham arah pembicaraannya.

“Perintah untuk kita sebagai pribadi-pribadi kan qu anfusakum wa ahlikum naara, selamatkan diri dan keluargamu dari api neraka…” Kyai Anom masih saja sangat irit memberi penjelasan atas pernyataannya sendiri.

“Terus bagaimana tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar…?” sela Lik Jum.

“Bagaimana juga dengan hadits: Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman?” sambung lik Cecep.

Bukannya menjawab, kyai Anom malah sudah mendengkur; meninggalkan kami dikepung pertanyaan-pertanyaan.

Entah memang sengaja atau tidak, seorang santri kebetulan lewat gotha’an, sambil menyeret sandalnya dia mendendangkan lirik aneh dari lagu entah milik kelompok musik mana:

Wong bodho kalah karo wong pinter

wong pintar kalah karo wong bejo

wong bejo kalah karo wong nekad

wong nekad kalah karo wong edan

Yang bodoh kalah oleh yang pandai

yang pandai kalah oleh yang beruntung

yang beruntung kalah oleh yang nekad

yang nekad kalah oleh yang gila.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda