Tasawuf

Berakhlak dengan Akhlak Allah

Berakhlaklah dengan Akhlak Allah, tidak semata mengandalkan nalar saja (ilustrasi foto : Ahmad Lukman)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Dengan akal, pengetahuan, mungkin kita bisa menaklukkan tenaga-tenaga alam, tenaga lahir, tetapi tidak bisa menaklukkan diri sendiri atau keinginan rendah kita sendiri.

Rasulullah s.a.w. selalu mengingatkan betapa nafsu dapat merusakkan hubungan sesama. Untuk lingkup individual, ada sabda beliau yang berbunyi: “Yang paling kutakutkan untuk kalian adalah dua rongga (ajwafan: rongga perut dan ‘rongga lain’ pada wanita)”. Juga, “Barangsiapa memberi kepadaku jaminan mengenai apa yang ada di antara kedua rahangnya dan yang ada di antara kedua kakinya (pahanya), untuk dia aku jamin surga.”

Itu semua, seperti dikatakan Buya Hamka (1988), hanya bisa dicapai dengan jalan mengubah khuluq, atau nature, dari diri kita, melalui perkembangan rohani secara berangsur-angsur, sehingga kita memiliki sifat-sifat yang bahkan, maksimalnya, mendekati sifat-sifat ilahi. Sebuah ujar-ujaran sufi menyatakan, “Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah.” Selagi kehidupan kita belum dibersihkan dari motif-motif yang rendah, kita tidak akan pernah sampai pada tingkat seperti itu. Dengan akal, pengetahuan, mungkin kita bisa menaklukkan tenaga-tenaga alam, tenaga lahir, tetapi tidak bisa menaklukkan diri sendiri atau keinginan rendah kita sendiri. Karena itu, Nabi bersabda, perang terbesar adalah perang melawan nafsu diri sendiri.

Tetapi dengan selalu memohon petunjuk Allah, kita tidak putus harap untuk mencapai jalan yang lurus itu. Tekun, tenang, dan tabah, kita percaya Allah tak akan mengecewakan harapan kita. Janji Allah selalu benar, dan Allah tidak melalaikan janji-Nya. “Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku memenuhi permohonan orang yang memohon bila ia memohon kepada-Ku. Sebab itu (sebagai syaratnya) hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku, mudah-mudahan mereka terbimbing” (Q.S 2:186).

Benar, dalam perjalanan ke arah kesempurnaan akan ditemui beberapa kegagalan, meski segala cara yang baik telah diupayakan. Tapi justru karena itu doa merupakan jalan keluar, sumber ketenangan, pemberi harapan, dan pembangkit keberanian. Maka bangunlah kamu di malam hari, mengerjakan shalat tahajjud. Jika doa, yang bukan sekadar rangkaian kata-kata (seperti yang sering kita dengar di akhir sebuah upacara) dipanjatkan dengan jiwa yang sepenuhnya hadir, dengan segala kepolosan dan kerendahan hati, dengan menanggalkan keinginan-keinginan rendah, tetapi juga dengan sikap ridha kepada pembagian dari Allah, kekuatan rohani akan membentengi kita dari segala perbuatan tercela. “Dan sebagian malam isilah dengan tahajjud, sebagai ibadat tambahan bagi dirimu, mudah-mudahan Tuhanmu membangkitkanmu ke kedudukan yang terpuji.” (Q. S 17:79).

Pada akhirnya, tujuan pengelolaan rohani bukanlah memelihara dan mengembangkan segala sifat positif semata untuk kehidupan batin sendiri. Dampaknya justru pada dimensi lahir: segala kebajikan, segala jasa dan amal saleh dalam lingkup sosial. Tidak semua manusia mampu menjadi apa yang dikehendakinya. Tetapi perbuatan-perbuatannya membentuk watak dan jati dirinya.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda