Tasawuf

Gembira Ketika Menanggung Derita

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Ibrahim ibn Adham: Aku tidak ingin nasibku menjadi baik karena kerugianmu;  atau perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku.

Hari-hari berganti,  dan kepedihan hari mendatang lebih dahsyat dari yang menimpa hari yang lalu. Tapi apakah, dengan demikian,  orang harus kehilangan kegembiraan dalam hidup?

Dikisahkan, Ibrahim ibn Adham berada di tengah padang. Seorang serdadu tiba-tiba menghampiri, dan bertanya, “Di mana kampung paling ramai?” Ibrahim mengarahkan telunjuknya ke arah kuburan. Marah, tentara itu mencengkeram Ibrahim dan meninju kepalanya. Toh akhirnya ia lepaskan juga, dan beranjak pergi. Dan ketika itulah seseorang datang menegur. “Hai Bung, orang yang kauhajar itu Ibrahim ibn Adham, syekh dari Khurasan,” ujarnya. Tentara itu pun tergopoh-gopoh minta maaf.

“Ketika bogem mentahmu mendarat di kepalaku,” berkata Ibrahim, “aku berdoa agar Allah Ta’la memasukkanmu ke surga.” 

“Mengapa, Syekh?”

“Karena aku tahu, aku bakal dapat pahala lantaran pukulan-pukulanmu itu. Tapi aku tidak ingin nasibku menjadi baik karena kerugianmu, atau perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku.”

Ibrahim ibn Adham atau nama lainnya Abu Ishaq adalah seorang anak penguasa di Balkh. Sebagai anak emir, Ibrahim biasa hidup bergelimang kemewahan. Pada suatu hari ia minggat meninggalkan istana karena merasa tidak menemukan sesuatu yang berharga dalam kehidupannya yang mewah itu. Ia hidup berkelana dari satu ke lain tempat, sebelum akhirnya menetap di Suriah. Tetapi, berbeda dengan Sidharta Gautama yang juga putra raja,  Ibrahim tidak meninggalkan dunia, demi tapanya, lalu hidup dari derma orang lain. Dia seorang yang percaya bahwa untuk nafkah, orang harus bekerja keras. Untuk mengongkosi hidupnya, Ibrahim pernah menjadi kuli pemetik gandum, penjaga kebun, bahkan tentara. Dan ketika menjadi prajurit inilah ia sampai pada akhir hayatnya. Sufi besar ini wafat pada tahun 161 H/778 M ketika turut ambil bagian dalam suatu ekspedisi laut melawan Yunani. Ia pernah menyatakan, “Cinta dunia (hubbud dunya) membuat orang tuli dan menjadi buta.”

Benar. Bukankah demi mengejar kekayaan, orang sering tabrak kanan-kiri, serudak sana seruduk sini, tanpa peduli halal-haram, dan bahkan lupa menjaga kesehatannya sendiri?

Tetapi Ibrahim tidak hanya dikenang sebagai sufi karena hidupnya yang zuhud, asketis. Tapi juga masyhur lantaran sikapnya yang  agak nyeleneh itu. Misalnya, ketika ditanya apakah ia pernah merasa senang di dunia, ia menjawab, “Ya dua kali.” Yang pertama, kata dia, sewaktu sedang duduk-duduk, lalu datang seorang laki-laki dan mengencinginya.Yang kedua, juga ketika dia enak-enak duduk, kemudian  seorang laki-laki menghampiri dan tahu-tahu menempelengnya.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah Ibrahim mantan anak penguasa itu, betapapun kita bisa mengecap kegembiraan dalam kepahitan. Sebab, konon hanya orang dungulah yang tidak merasa sakit dalam kedunguannya. Lain dari itu, kita tidak boleh mengambil keuntungan atas kerugian orang lain, atau mengambil pahala dari dosa orang lain. Oleh karena itu, Nabi pun menolak ketika orang-orang mendesaknya agar memohon kepada Allah SWT agar orang-orang musyrik yang memusuhi kaum Muslim ditimpa azab. Nabi menegaskan bahwa ia diutus sebagai  rahmat; bukan pembawa azab.

Kata Buya Hamka (Tasauf Moderen), orang yang beroleh bahagia tidak bakal luntur kebahagiaannya lantaran kepedihan dan kesengsaraan yang datang silih berganti. Soalnya dia punya senjata yang ampuh yaitu sabar dan pikiran waras. “Bahkan dirasainya kebahagiaan itu, sesudah menangkis segala sengsara. Tak ubahnya dengan orang yang mengisap candu.Sudah tahu candu merusak badan, menghabiskan kesehatan, diisapnya juga. Sebab yang diharapkannya  adalah kelezatan sesudah menghisap. Alhasil, hidup tanpa mengandung kepedihan, kata Buya Hamka, seakan-akan sambal tak bergaram. Tentu tidak enak, bukan?

Imam Abul Qasim Al-Qusyairi dalam kitabnya Risalah al-Qusairiyah menyatakan, akhlak yang baik adalah riwayat yang baik, sepanjang hidup, yang menampakkan mutiara-mutiara. “Manusia terselubungi oleh fisiknya. Namun tersibak oleh akhlaknya.” Dan akhlak yang baik, satu di antaranya adalah jika seseorang gembira ketika menanggung derita.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda