Hamka

Hamka tentang Pendidikan (2): Menjamin Kemerdekaan Berpikir Peserta Didik

Gedung pusat Universitas Al Azhar Indonesia dengan latar belakang Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jaksel (foto : YPI Al-Azhar)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Menurut Hamka, lembaga pendidikan yang ideal adalah model lembaga pendidikan yang dikembangkan pondok pesantren. 

Dalam pandangan buya Hamka, pendidikan dalam pengertiannya yang luas bisa dimaknai sebagai  sebuah ikhtiar untuk menumbuhkan, mengembangkan, membangun, dan memberdayakan potensi dasar insani menuju kesempurnaannya (insan kamil atau manusia paripurna) sebagaimana yang dikehendaki Sang Pencipta. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia. Hal ini bukan atas kemauan  manusia, tapi merupakan iradah atau kehendak Yang Kuasa. Kualitas yang tidak dimiliki makhluk lainnya itu berupa akal pikiran, yang berkali-kali dinyatakan dalam Alquran agar dipergunakan oleh manusia. Penggunaan akal pikiran oleh manusia selanjutnya akan menghasilkan ilmu pengetahuan. Tuhan pun memberi tempat yang terhormat kepada orang yang beriman dan berpengetahuan, sebagaimana dinyatakan dalam firman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS.58:11).

Boleh dikatakan bahwa secara filosofis tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk al-insan al-kamil atau manusia paripurna tadi. Dengan begitu, arah pendidikan mengandung dua dimensi: horizontal dan vertikal. Yang pertama untuk mengembangkan pemahaman manusia tentang kehidupan yang menyangkut realitas dirinya, sesama manusia dan alam sekitar. Yang kedua, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik selain menjadi alat untuk menciptakan tata kehidupan yang maslahat, juga menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Khaliknya.

Pendidikan di Sekolah Al-Azhar pada tahun 1973 (koleksi YPI Al-Azhar/alazhar.or.id)

Dalam rumusan Hamka, tujuan pendidikan Islam adalah untuk “mengenal dan mencari keridhaan Allah, membangun budi pekerti untuk berakhlak mulia”, serta mempersiapkan anak didik untuk hidup secara layak dan berguna di tengah-tengah masyarakatnya. Pandangan Hamka ini, menurut Syamsul Nizar, memberi makna bahwa tujuan pendidikan Islam lebih berorientasi pada trans internalisasi ilmu kepada peserta didik agar mereka menjadi insan yang berkualitas, baik dalam aspek keagamaan maupun sosial. Menurut Syamsul Nizar, pandangan Hamka  memiliki kesamaan dengan tujuan pendidikan Muhammadiyah yang berupaya membentuk ‘alimintelektual. Yakni seorang muslim yang seimbang iman dan ilmunya, baik ilmu umum maupun ilmu agama, serta seorang yang kuat rohani dan jasmaninya. Kesamaan pandangan ini bisa terjadi, karena bagaimanapun Hamka adalah aktivis Muhammadiyah sejak muda sampai akhir hayatnya.

Menurut Hamka, tugas pendidik adalah membantu mempersiapkan dan mengantarkan peserta didik agar memiliki ilmu pengetahuan yang luas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat luas. Dengan demikian, seorang pendidik tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan yang luas, tetapi ia mesti seorang yang beriman, berakhlak tinggi, dan menerima pekerjaannya sebagai amanat, dan karena itu harus dilaksanakan secara profesional. Secara terperinci, tanggung jawab pendidik, menurut Hamka, adalah: berlaku adil dan objektif kepada para peserta didik; menjaga martabat diri dengan akhlak mulia dan sopan santun; menyampaikan ilmu yang dimiliki; menghormati keberadaan peserta didik,  memberikan pengetahuan sesuai dengan tempat dan waktu; memperbaiki akhlak peserta didik; membimbing peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan; memberikan bekal-bekal ilmu agama; membimbing peserta didik bagaimana cara hidup yang teratur, melaksanakan tugas secara ikhlas, rendah hati dan istiqamah; dan membiasakan diri membawa buku.

Sementara itu, peserta didik, menurut Hamka, dituntut untuk bersikap baik terhadap setiap guru, yang meliputi: tidak cepat putus asa dalam mencari ilmu; tidak lalai dalam menuntut ilmu dan tidak lekas puas terhadap ilmu yang sudah diperoleh; tidak merasa terhalang karena faktor usia;  sabar, teguh hati, dan tidak cepat bosan dalam menuntut ilmu; mempererat hubungan dengan guru; mengikuti instruksi guru selama proses belajar-mengajar; berbuat baik terhadap guru; tidak boleh menjawab dengan sesuatu yang tidak berfaedah; menciptakan suasana yang merespons dinamika fitrah yang dimiliki; membiasakan diri untuk melihat, memikirkan, dan melakukan analisis secara saksama terhadap fenomena alam semesta.

Bentuk lembaga pendidikan seperti apakah yang ideal bagi pengembangan totalitas fitrah peserta didik? Menurut Hamka, lembaga pendidikan yang ideal adalah model lembaga pendidikan yang dikembangkan pondok pesantren.  Kata dia, di pesantren terdapat unsur-unsur yang dapat menunjang pendidikan dan pencapaian tujuan pendidikan Islam secara optimal. Unsur-unsur itu meliputi tempat belajar, masjid, dan asrama. Di sini peserta didik dapat berdiskusi setiap saat, diawasi, dibimbing secara intensif dan berkesinambungan. Hamka sendiri menyekolahkan dua putranya, Helmy dan Afif, di Pondok Moderen Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Menurut Hamka, lembaga pendidikan hendaknya mengembangkan diri menjadi sebuah institusi yang menjamin kemerdekaan berpikir dan berpendapat kepada setiap peserta didik. Dengan kebebasan berpikir, serta ditopang sarana dan prasarana pendidikan, menurut dia, peserta didik akan mampu mengembangkan fitrah-nya secara total dan optimal. Lembaga pendidikan yang kondusif  terhadap dinamika intelektual peserta didik, pada gilirannya akan membantu peserta didik memiliki kepercayaan diri untuk berkreasi secara aktif dan dinamis, serta tidak bersikap pesimistis dan pasrah kepada ketentuan nasib.

Harus diakui, lembaga-lembaga pendidikan di Tanah Air sebagiannya kurang memberi ruang kreativitas kepada para peserta didik. Sebab, guru-guru lebih pada umumnya lebih suka menjejali murid-murid mereka dengan pengetahuan yang disediakan buku ajar.

Sumber:  Syamsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam (2008)      

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda