Tasawuf

Berani berperang dan berani memperingatkan penguasa

Perduli kepada semesta: Sejarah telah mengajarkan dan membuktikan, menganut tasawuf tidaklah berarti asyik dengan dirinya sendiri dan acuh tak acuh terhadap kehidupan sosial-kenegaraan.
Ditulis oleh B.Wiwoho

Meski berusaha menghindari perang fisik, sejarah mencatat, tatkala pasukan Khalifah Bani Abbas di Baghdad terdesak dan Irak luluh lantak seperti awal abad ke-21 ini, maka para futuwwah sufiah, para pahlawan tasawuf yang rela mengorbankan kesenangan diri termasuk harta dan keluarganyalah, yang berhasil menghalau musuh, menyelamatkan wilayah-wilayah Islam serta menjaga perbatasan.

Pada tahun 1258 M, lebih dari 200.000 tentara Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan (cucu Jengis Khan), menyerbu Irak serta menumbangkan kekuasaan  Bani Abbasiyyah, bahkan khalifahnya yaitu Al Musta’shin dipenggal kepalanya.  Mengerikan sekali, bukan hanya Istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri. Semua bukti-bukti peradaban Islam termasuk buku-buku perpustakaan terbesar di dunia dimusnahkan.Seluruh kebudayaan Islam yang sudah dibangun berabad-abad hancur lebur. Sementara itu 800.000-an rakyat jelata, wanita dan anak-anak tewas mengenaskan di bawah tapak kaki kuda tentara Mongol yang ganas itu, diinjak dengan tapak kaki kuda, dipermainkan dengan ujung tombaknya, dibedah perutnya dengan alasan mencari permata yang ditelan.

Pada saat itulah, tatkala balatentara Islam hancur-lebur, ulama-ulama tasawuf yang secara fisik pada umumnya kelihatan lemah dan rapuh, bangkit mengorganisasikan umat, menggelorakan semangat mereka dengan tausiah serta zikir-zikirnya, mengobarkan perlawanan. Ulama-ulama sufi yang penyair seperti Fariduddin Attar dan Jalaluddin Rumi, menggubah syair-syair yang menggambarkan kepedihan atas kehancuran Baghdad, dan kemudian menggelorakan kebangkitan kembali urat nadi kekuatan Islam menjadi balatentara Allah yang perkasa, yang pada akhirnya berhasil menumbangkan Pasukan Mongol. Bahkan cucu Hulagu Khan, yaitu Mahmud Ghazan, 37 tahun kemudian, tepatnya pada periode 1295 – 1304,  memeluk Islam dan membangun kembali perabadan Islam.

Sejarah telah mengajarkan dan membuktikan, menganut tasawuf tidaklah berarti asyik dengan dirinya sendiri dan acuh tak acuh terhadap kehidupan sosial-kenegaraan, tapi justru amat peduli terhadap terwujudnya rahmat bagi alam semesta, serta bertanggungjawab terhadap bangsa dan negaranya. Semua itu diniatkan sebagai ibadah dan amal saleh selaku pengemban amanah Allah di muka bumi,  dan bukan untuk memuaskan dahaga pesona dunia. Banyak pengamat dunia yang takjub tak menyangka,  Islam cepat bangkit dan pulih kembali setelah diserbu  Perang Salib dan diluluhlantakkan nyaris  sampai  keakar-akarnya oleh bala tentara Mongol, sampai akhirnya mereka menemukan bahwa sumber  kekuatan Islam itu tidak terletak pada kekuatan yang nampak dari luar, melainkan tersembunyi di dalam lubuk Islam yang dalam, terpilin dengan urat nadinya, dan urat nadi itu ialah tasawuf serta ajaran sufi dalam berbagai bentuk dan coraknya. (Brakell Buys dalam Pengantar Ilmu Tarekat Uraian Tentang Mistik,  Prof.Dr.H.Abubakar Aceh, halaman 18 sampai dengan 21).

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda