Tasawuf

Berani berperang dan berani memperingatkan penguasa

Contoh ulama tasawuf lain yang juga sangat peduli terhadap kehidupan masyarakat adalah Syekh ‘Izzuddin Ibn ‘Abdissalam  (1181 – 1262M). Ulama tasawuf yang diagungkan ini tidak hanya berpangku tangan asyik dengan dirinya sendiri, sampai-sampai berfatwa: “Wajib menangkap raja-raja Mamaluk  yang berkhianat kepada kaum muslimin, rakyat mereka sendiri”.

Kerajaan Mamaluk yang wilayahnya meliputi Mesir sampai dengan Syria,  didirikan oleh mantan-mantan budak keturunan Turki. Sebagai rakyat kecil pekerja keras, mereka kecewa terhadap para elit yang malas, lambat tapi korup.Kerajaan ini mempunyai andil besar dalam sejarah kebangkitan Islam, setelah daerah-daerah lain dan Baghdad dibumihanguskan pasukan Mongol. Pasukan Mamaluk di bawah kepemimpinan Sultan Qutuz yang didukung para ulama tasawuf, berhasil menahan laju serbuan Mongol  serta mengalahkannya di Ain Jalut (Palestina). Peperangan yang sangat terkenal dalam sejarah ini terjadi pada tanggal 25 Ramadhan  658 H atau 1260 M, dan merupakan titik balik serta membuka era baru dalam sejarah dan sistem ketentaraan kerajaan-kerajaan Islam.

Sejarah juga mencatat, siapakah yang menghancurkan belasan ribu pasukan Barat di Hittin, Galilea, dekat Tiberias (sekarang wilayah Israel) pada tahun 1187M, bertepatan dengan 10 hari terakhir Ramadhan 584H. Dalam Perang Hittin ini, Panglima Perang Sultan Salahuddin Al-Ayubi juga memperoleh dukungan besar dari ajakan jihad ulama-ulama tasawuf.

Kembali kepada Syekh Izzuddin, keberaniannya menegur penguasa dengan risiko kehilangan kedudukan dan jabatan, bahkan pernah ditahan, diusir dan hendak dibunuh tidak membuatnya surut dalam membasmi kemungkaran.Ia menegur keras Gubernur Damaskus – Raja Salih Ismail yang mencoba bekerjasama dengan Pasukan Salib serta menegur penguasa-penguasa Mesir yang zalim terhadap rakyat.

Sahabatku, inginkah anda mengetahui bagaimana Syekh Izzuddin mengajarkan hakikat dan hikmah? Menurut penuturan anaknya, Syekh Izzuddin menceritakan suatu saat di antara bangun dan terjaga, tapi lebih dekat ke terjaga, ia mendengar suatu suara:

“Bagaimana kamu mengaku cinta pada-Ku padahal kamu tidak memakai sifat-Ku?Aku Maha Penyayang dan Pengasih, maka sayangi dan kasihanilah makhluk yang mampu kamu kasihi. Aku adalah zat yang Maha Menutupi Aib, maka jadilah kamu insan yang menutupi cacat orang lain. Janganlah kamu memperlihatkan cacat dan dosamu, karena itu membuat murka Allah Yang Maha Mengetahui segala hal yang gaib.Aku adalah zat Yang Maha Pemurah, maka jadilah kamu insan yang pemurah pada setiap orang yang menyakitimu. Aku adalah zat Maha Lembut, maka lembutlah pada setiap makhluk yang Aku perintahkan untuk berbuat lemah-lembut.” (tabligh-biografiulama.blogspot.com).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda