Majapahit dan Gejolak Sosial di Demak
Ketika masuk ke Jawa, semula Islam baru diterima pada tingkat aristokratnya saja. Masyarakat kebanyakan boleh dikata masih memeluk agama Hindu-Siwa. Ini berkaitan erat dengan perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak, yang kemungkinan besar terjadi secara tak langsung. Kerajaan Majapahit jatuh sekitar 1500 Masehi. Persisnya, kalau kita lihat berdasarkan penandaan waktu Candra Sengkala: Sukma Ilang Kertaning Bumi, pada 1478 Masehi. Barulah sekitar 1527 Masehi, Kerajaan Demak berdiri. Kekuasaan Kerajaan Islam Demak, kira-kira hanya berlangsung sampai tiga raja saja.
Pada proses selanjutnya kekuasaan Demak beralih kepada Jaka Tingkir yang kemudian memindahkan kerajaan ke Pajang (sekarang Kartasura, Solo). Namun kekuasaan Pajang ini berlangsung satu periode saja akibat munculnya serangan dari Panembahan Senopati—yang sebenarnya adalah anak angkat Jaka Tingkir.
Panembahan Senopati pun akhirnya diberi tanah (pelungguh) di bumi Mataram. Ketika Pajang jatuh, kekuasaan pindah ke Mataram (kini Yogyakarta). Inilah cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram (Islam), yang kelak Sultan Agung juga berkuasa, pada generasi ketiga.
Kerajaan Demak sesungguhnya diformat sebagai kerajaan (negara) Islam. Menurut interpretasi saya, masyarakat Demak pada waktu itu menanggapi gagasan semacam itu dengan resah, lalu memunculkan gejolak di dalam negeri Demak. Keresahan masyarakat Demak itu timbul karena ritual-ritual yang merupakan warisan dari zaman Kerajaan Majapahit yang Hindu-Siwa hendak dihapuskan.
Penolakan dan keresahan masyarakat Demak pada waktu itu bisa dilihat dari adanya sanepan atau kiasan berupa dongeng atau mitos, seperti kisah mengamuknya seekor kerbau gila di alun-alun Demak. Dan yang mampu menaklukkan kerbau gila sakti ini hanya Jaka Tingkir. Kejadian itu sesungguhnya merupakan pemberontakan rakyat yang dipimpin seorang sakti bernama Kebo Kenongo (dari daerah Pengging yang sekarang disebut Boyolali), yang tak lain ayah kandung Jaka Tingkir. Berhadapan dengan anaknya sendiri, tentu saja, Kebo Kenongo mengalah. Kebo Kenongo pun menemui ajal, sementara anaknya, Jaka Tingkir, diangkat menjadi menantu Sultan Trenggono.
Di sisi lain, guna menanggapi keresahan rakyat Demak yang tidak menghendaki perubahan drastis menyangkut kepercayaan mereka, para wali, di antaranya Sunan Kalijaga, memutuskan ritual-ritual keagamaan Hindu-Siwa dikembalikan seperti sedia kala. Dengan catatan, ritual-ritual itu diselenggarakan berdasarkan Islam. Misalnya, pada peringatan Mulud Nabi (kelahiran Nabi tiap 12 Maulid) diperingati dengan slametan Mulud Nabi.
Dari situlah kemudian muncul yang disebut sinkretisme, pencampuran bentuk bentuk ritual yang sekalipun untuk memperingati hari-hari besar Islam, masih menggunakan tata cara Jawa Hindu. Contohnya apa yang disajikan dalam gunungan (alat upacara pada berbagai hari raya Islam) merupakan konsep kosmologi Jawa Hindu. Antara unsur Jawa Hindu dan unsur Islam, kedua duanya saling aktif memadukan.
Beda Demak dengan Mataram
Ada perbedaan antara Kerajaan Demak dan Kerajaan Mataram. Yang satu berupa kerajaan Islam dan yang satunya kerajaan Islam Jawa atau Islam yang di-Jawa-kan. Hal ini bisa dilacak sejak Kerajaan Pajang berdiri. Waktu itu, dominasi keislaman sudah berkurang dan tidak sekental lagi mewarnai atribut-atribut kerajaan seperti ditemukan di Kerajaan Demak.
Kebo Kenongo merupakan putra dari Kebo Kanigoro, seorang yang punya ikatan emosional dan batin dengan Syekh Siti Jenar, penyebar Islam yang berbau mistik. Kedua-duanya, antara Kebo Kanigoro dan Syekh Siti Jenar, bisa dikatakan saling berguru, ngangsu kawruh. Selain itu, Kebo Kanigoro memiliki ilmu yang berasal dari pelarian Majapahit. Ilmu yang dimilikinya kemudian diturunkan kepada Kebo Kenongo yang belakangan memberontak kepada Kerajaan Islam Demak.
Jadi, tidaklah mengherankan jika kadar keislaman Kerajaan Pajang berbeda dengan Kerajaan Demak. Secara budaya, Pajang mengacu kepada budaya Majapahit, kendati sudah beragama Islam. Sehingga, sampai Kerajaan Mataram berdiri, secara budaya masih merujuk ke Majapahit.
Tuhan bagi Orang Jawa
Tuhan, menurut pengertian orang jawa, tidak pernah bicara, tidak pernah marah, tidak pernah menghukum. Pengertiannya berkebalikan dengan Islam di mana Tuhan berfirman. Orang Jawa berupaya meniru kondisi Tuhan tersebut dalam arti mendekati keadaan sebagaimana Tuhan. Mereka mengatakan bahwa Gusti Allah “tidak dapat digambarkan seperti apa”, tan kena kinaya ngapa.
Dalam proses meniru kondisi Tuhan seperti yang mereka gambarkan itulah maka ada ciri yang menonjol dari orang Jawa, prihatin. Tirakat yang dilakukan pada ritual 1 Suro (Suran) adalah juga bagian upaya prihatin, sebagai sarana mencari kesejahteraan hidup secara spiritual.
Proses ritual semacam itu lebih berkaitan dengan persoalan kehidupan sehari-hari dan bukan merupakan bagian dari ritual yang sebenarnya (manunggaling kawula lan Gusti). Jalur ini memang berbeda dengan ritual yang diarahkan untuk “peribadatan”, manunggaling kawula lan Gusti.

Penulis: Prof. Suhardi, Ph.D., Pengamat Kejawen, Antropolog Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sumber: Majalah Panjimas, Mei 2003


