Ada orang yang mengira optimisme adalah seni tersenyum ketika hidup sedang berantakan. Seolah-olah cukup berkata, “Tetap positif!”, lalu masalah akan merasa malu dan pergi sendiri.
Sayangnya, hidup tidak sesederhana itu. Optimisme bukan obat bius untuk menutupi kenyataan. Ia justru keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya—termasuk kegagalan, kehilangan, ketidakadilan, dan ketidakpastian—tanpa membiarkan semuanya merampas harapan.
Orang optimis bukan orang yang tidak punya masalah. Ia hanya tidak menjadikan masalah sebagai alamat tetap untuk tinggal.
Ia gagal, lalu belajar. Jatuh, lalu bangkit. Kehilangan, lalu mencari makna. Ditolak, lalu mencoba jalan lain. Sebab ia memahami satu hal sederhana : kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi hampir selalu memberikan sesuatu yang bisa kita pelajari.
Yang menarik, manusia sering lebih rajin mencari kambing hitam daripada mencari jalan keluar. Ketika gagal, pemerintah disalahkan, keadaan disalahkan, zaman disalahkan, bahkan kadang-kadang Tuhan hampir ikut dimintai pertanggungjawaban.
Padahal, mungkin sesekali kita perlu bercermin dan bertanya: “Jangan-jangan masalahnya bukan hanya keadaan, tetapi juga cara saya menghadapi keadaan?”
Dalam perspektif Islam, optimisme bukan sekadar positive thinking. Ia berakar pada husnuzhan kepada Allah —keyakinan bahwa Allah memiliki hikmah dalam setiap ketetapan-Nya.
Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan keras: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Q.S. Az-Zumar: 53)
Namun ayat ini jangan pula dipahami secara malas. Jangan menjadikan tawakal sebagai alasan untuk tidak bekerja, lalu ketika gagal berkata, “Memang belum rezekinya.”
Itu bukan tawakal. Itu bisa jadi kemalasan yang diberi nama religius.
Islam mengajarkan roja’—harapan kepada Allah—tetapi harapan itu harus bertemu dengan ikhtiar. QS. Al-Insyirah mengingatkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Tetapi kemudahan tidak berarti manusia boleh duduk santai sambil menunggu masalah menyelesaikan dirinya sendiri.
Doa tanpa usaha adalah harapan yang kehilangan kaki. Usaha tanpa doa adalah kesombongan yang lupa kepada sumber kekuatan.
Optimisme sejati berada di antara keduanya: bekerja sekuat tenaga, berdoa setulus hati, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
Karena itu, optimisme bukan berkata, “Besok pasti lebih baik.”. Itu terlalu mudah.
Optimisme berkata: “Saya tidak tahu apakah besok lebih baik. Tetapi saya tahu saya harus membuat hari ini lebih baik.”
Ada perbedaan besar antara keduanya. Yang pertama adalah harapan tanpa tanggung jawab. Yang kedua adalah harapan yang melahirkan tindakan.
Maka jangan terlalu sibuk memaksa diri selalu berpikir positif. Sesekali berpikirlah realistis. Akui bahwa hidup memang berat. Akui bahwa kita bisa gagal. Akui bahwa tidak semua orang akan menyukai kita. Akui bahwa tidak semua doa dijawab sesuai jadwal yang kita buat sendiri.
Tetapi setelah semua pengakuan itu, tetaplah berjalan.
Sebab iman bukan jaminan bahwa jalan kita selalu mulus. Iman adalah alasan mengapa kita tetap berjalan ketika jalan sedang terjal.
Optimisme pada akhirnya bukan tentang seberapa cerah kita melihat masa depan. Ia tentang seberapa kuat kita mempercayai Allah sambil tetap bertanggung jawab atas langkah kita sendiri.
Jangan menunggu hidup menjadi mudah untuk bersyukur.
Bersyukurlah, berusahalah, dan terus bergerak—karena boleh jadi, pertolongan Allah sedang menunggu kita di balik langkah yang hampir kita batalkan.***
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten



