Pagi-pagi, mata belum sepenuhnya terbuka, tangan sudah sibuk mencari ponsel. Belum sempat menyapa keluarga, jempol lebih dahulu menyapa layar. Video lucu ditonton, kabar selebritas disimak, perdebatan orang asing diikuti. Niatnya sebentar, tahu-tahu matahari sudah meninggi. Waktu berlalu tanpa terasa, sementara pekerjaan yang seharusnya selesai masih menunggu dengan setia.
Begitulah potret kehidupan digital sebagian masyarakat Indonesia hari ini. Berdasarkan data yang dihimpun dari APJII, We Are Social, DataReportal, dan BPS, Indonesia memiliki penetrasi internet yang sangat besar. Angka yang disebutkan mencapai 235,26 juta pengguna, atau sekitar 81,72 persen populasi. Pengguna media sosial pun mencapai ratusan juta identitas aktif, meskipun angka pastinya berbeda menurut sumber, periode pengukuran, dan metode perhitungan.
Internet kini bukan lagi barang mewah. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dari ruang keluarga hingga tempat kerja, dari warung kopi hingga ruang kelas. Informasi semakin mudah diperoleh, komunikasi semakin cepat, dan peluang belajar terbuka lebar. Jarak yang dahulu menjadi penghalang kini bisa dipangkas oleh satu sentuhan jari.
Namun, ada sisi lain yang patut direnungkan. Data BPS yang dikutip menyebutkan bahwa penggunaan internet untuk hiburan mencapai 87,53 persen, mencari informasi 80,85 persen, dan mengakses media sosial 79,65 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa internet memiliki banyak fungsi dalam kehidupan masyarakat. Tetapi, angka itu sendiri belum membuktikan apakah masyarakat lebih banyak belajar, sekadar mencari hiburan, atau justru terjebak dalam kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan.
TikTok, Facebook, dan Instagram menjadi bagian dari keseharian digital. Video pendek menawarkan hiburan dalam hitungan detik. Linimasa menyajikan berita, gosip, ceramah, ilmu pengetahuan, pertengkaran, hingga teori konspirasi dalam satu tarikan jempol. Semua bercampur, seolah-olah informasi yang penting dan yang tidak berguna memiliki nilai yang sama.
Masalahnya bukan semata-mata pada aplikasinya, melainkan pada cara kita menggunakannya. Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu bisa berubah menjadi penguasa waktu. Kita merasa sedang mencari informasi, padahal mungkin hanya berpindah dari satu konten ke konten lain. Kita merasa mengetahui banyak hal karena membaca banyak unggahan, padahal belum tentu memahami satu persoalan secara mendalam.
Ironisnya, seseorang bisa menghabiskan berjam-jam di media sosial, tetapi merasa tidak punya waktu membaca buku. Bisa hafal gosip terbaru, tetapi kesulitan menjelaskan persoalan di sekitarnya. Cepat membagikan berita, tetapi lambat memeriksa kebenarannya. Jempol begitu cekatan, sementara nalar kadang tertinggal di belakang.
Di sinilah literasi digital menjadi penting. Bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai atau membuat konten viral, melainkan kecakapan memilah informasi, memeriksa sumber, memahami konteks, menjaga etika, dan mengendalikan diri. Sebab, banyaknya informasi yang masuk ke kepala tidak otomatis membuat seseorang lebih berpengetahuan, sebagaimana ramainya suara tidak selalu menandakan dalamnya pemikiran.
Kita tidak perlu memusuhi media sosial. Gunakanlah untuk belajar, bekerja, berdagang, memperluas wawasan, dan menyebarkan manfaat. Namun, sesekali letakkan ponsel, bacalah sesuatu sampai tuntas, berdiskusilah tanpa harus saling merendahkan, dan berikan waktu bagi pikiran untuk mencerna apa yang diterimanya.
Pada akhirnya, kemajuan digital sebuah bangsa tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang terhubung ke internet atau berapa lama mereka menatap layar. Yang lebih penting ialah apa yang mereka lakukan dengan koneksi itu: apakah pengetahuan bertambah, produktivitas meningkat, hubungan antarmanusia membaik, atau justru waktu habis untuk pertengkaran dan hiburan tanpa ujung.
Sebab, terhubung ke internet tidak otomatis membuat kita terhubung dengan pengetahuan. Ramai di dunia maya tidak menjamin kita bertumbuh di dunia nyata. Pertanyaannya sederhana: ketika jempol kita semakin terampil menjelajahi dunia maya, apakah pikiran kita juga semakin terlatih untuk memahami dunia nyata?.**
Referensi
- APJII. (2025). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2025. https://survei.apjii.or.id/
- DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia. https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
- UNESCO. (2013). Media and Information Literacy: Policy and Strategy Guidelines. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000225606
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten





