“Seorang Muslim bukan hanya dituntut untuk mengetahui mana yang benar, tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan kebenaran dengan akhlak yang benar.”
Ada orang yang seolah-olah tidak pernah kehabisan bahan untuk mengoreksi orang lain. Cara berpakaian dikomentari, ucapan dipersoalkan, pilihan hidup dicari celahnya, bahkan kesalahan kecil yang sebenarnya sudah berlalu kembali diungkit. Ketika ditanya mengapa begitu sibuk mengurusi kekurangan orang lain, jawabannya sederhana: “Saya hanya menasihati.”
Nasihat memang bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, tidak semua ucapan yang diberi label “nasihat” benar-benar lahir dari ketulusan. Ada kalanya nasihat berubah menjadi celaan, koreksi berubah menjadi penghinaan, dan kepedulian berubah menjadi kebiasaan mencari-cari kesalahan. Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka…” dan janganlah sebagian kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta jangan menggunjing sebagian yang lain. (QS Al-Hujurat: 12).
Ayat ini seharusnya menjadi cermin sebelum seseorang merasa berhak membongkar kekurangan orang lain. Sebab, manusia bukan hanya memiliki kesalahan yang terlihat, tetapi juga memiliki dosa dan kelemahan yang mungkin tidak diketahui siapa pun. Nasihat dan celaan dapat menggunakan kata-kata yang hampir sama, tetapi memiliki jiwa yang berbeda.
Nasihat tulus lahir dari keinginan agar seseorang menjadi lebih baik. Karena itu, ia biasanya disampaikan dengan cara yang menjaga kehormatan. Bila kesalahan bersifat pribadi, nasihat lebih pantas disampaikan secara pribadi pula. Tujuannya bukan mempermalukan, melainkan membantu.
Sebaliknya, celaan sering menjadikan kesalahan orang lain sebagai panggung. Semakin banyak orang yang mengetahui kesalahan tersebut, semakin besar kepuasan yang dirasakan. Bukan perbaikannya yang menjadi tujuan, melainkan kemenangan dalam menunjukkan bahwa “orang itu memang salah.” Perbedaan lainnya terlihat dari cara seseorang menerima respons.
Orang yang benar-benar menasihati tetap menghormati orang yang dinasihati. Ia boleh menyampaikan pendapat dengan tegas, tetapi tidak merasa memiliki hak untuk mengendalikan seluruh keputusan orang lain. Sebaliknya, orang yang gemar mencari kesalahan sering merasa tersinggung ketika nasihatnya tidak diikuti. Di situlah niat mulai terlihat.
Jika seseorang benar-benar menginginkan kebaikan saudaranya, ia akan merasa cukup ketika pesan kebaikan telah disampaikan dengan cara yang baik. Ia tidak perlu terus-menerus mengejar, mengulang, mempermalukan, atau mencari kesalahan baru. Namun, mengapa ada orang yang gemar melakukan hal tersebut?
Kadang-kadang manusia menggunakan kekurangan orang lain sebagai cara untuk menutupi kekurangan dirinya sendiri. Dengan membuat orang lain terlihat buruk, ia merasa dirinya tampak lebih baik. Dengan menemukan kesalahan orang lain, ia memperoleh rasa superioritas. Ada pula yang menjadikan agama sebagai legitimasi bagi ego. Kalimat-kalimat agama digunakan untuk menghakimi, tetapi akhlak ketika menyampaikannya justru kehilangan kelembutan. Seolah-olah karena membawa nama kebenaran, seseorang memperoleh izin untuk merendahkan manusia lain. Padahal, kebenaran tidak membutuhkan kesombongan untuk menjadi benar.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan sesama Muslim. Bahkan ketika seseorang memiliki kekurangan, cara memperlakukannya tetap harus mempertimbangkan kasih sayang, kehormatan, dan kemaslahatan. Karena itu, sebelum mengatakan “Saya sedang menasihati,” ada baiknya seseorang bertanya kepada dirinya sendiri : Apakah saya ingin dia menjadi lebih baik, atau saya ingin membuktikan bahwa saya lebih baik darinya?
Pertanyaan sederhana itu sering kali lebih sulit dijawab daripada menemukan kesalahan orang lain. Nasihat yang tulus tidak sibuk mengumpulkan aib. Ia tidak menjadikan kesalahan manusia sebagai koleksi untuk diceritakan. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia bahkan sering dilakukan tanpa diketahui siapa pun.
Sebaliknya, kebiasaan mencari kesalahan dapat menjadi penyakit hati. Hari ini menemukan satu kesalahan. Besok mencari kesalahan lainnya. Lama-kelamaan, seseorang tidak lagi melihat manusia sebagai saudara yang memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi sebagai objek yang harus terus diperiksa. Ironisnya, orang yang terlalu sibuk mengawasi kesalahan orang lain bisa lupa melakukan pekerjaan yang jauh lebih penting: mengawasi dirinya sendiri. Padahal, setiap manusia memiliki cermin yang tidak pernah boleh ditinggalkan: introspeksi.
Sebelum mengoreksi lisan orang lain, periksa lisan kita. Sebelum mempersoalkan akhlak orang lain, periksa akhlak kita. Sebelum membicarakan kesalahan orang lain, tanyakan apakah ada kesalahan dalam diri kita yang sedang Allah tutupi. Sebab, aib yang hari ini kita bongkar dari orang lain, bisa saja suatu hari menjadi pelajaran yang Allah hadirkan untuk diri kita sendiri. Maka, jangan mudah tertipu oleh label “nasihat.” Ukurlah dengan niat, cara, tempat, dan dampaknya.
Jika benar-benar ingin memperbaiki, lakukan dengan kasih sayang. Jika kesalahan itu pribadi, jagalah privasinya. Jika orang tersebut tidak menerima, jangan berubah menjadi permusuhan. Dan jika tidak ada manfaat yang akan lahir dari ucapan kita, terkadang diam justru lebih dekat kepada keselamatan. Tidak semua kesalahan harus diumumkan. Tidak semua kekurangan harus dikoreksi. Dan tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang menyakiti.
Karena seorang Muslim bukan hanya dituntut untuk mengetahui mana yang benar, tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan kebenaran dengan akhlak yang benar. Pada akhirnya, nasihat membuat orang merasa dibantu untuk bangkit; celaan membuat orang merasa dijatuhkan. Dan mungkin, sebelum sibuk mencari kesalahan orang lain, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: “Sudahkah aku selesai memperbaiki diriku?”
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
