Cakrawala

Pandangan Islam Terhadap Ideologi Sekuler

Berdasarkan kamus The Advance Leaner’s Dictionory of Current English, kata sekularisme dapat didefinisikan sebagai suatu pandangan yang menyatakan bahwa moralitas, atau etika atau akhlak dan pendidikan  tidak perlu didasari oleh agama. Pemikiran sekularisme kemudian berkembang menjadi suatu pandangan yang mengatakan bahwa agama adalah urusan seseorang dengan tuhannya, oleh sebab itu agama tidak boleh ikut campur dalam urusan pendidikan, moral atau akhlak, ekonomi, politik, budaya, kehidupan sosial masyarakat dan negara dan hal lain-lain yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Pemikiran sekularisme lahir sekitar abad XIII, tepatnya pada masa renaisance atau aufklarung atau di masa mulai berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa. Pada masa renaisance, pemimpin negara dijabat oleh para tokoh agama atau dewan gereja, uskup atau pastor. Para tokoh agama atau dewan gereja menganggap bahwa mereka adalah utusan tuhan dan semua kebijakan atau keputusan dan pemikirannya adalah pemikiran tuhan dan tidak boleh dilanggar, dan barang siapa yang menentang pemikiran dewan gereja berarti telah melawan tuhan dan berhak untuk dihukum.

Pada saat itu lahir suatu pemikiran dari para ilmuan tentang gerakan tata surya atau perjalanan tata surya. Para ilmuan berpendapat bahwa poros jagat raya ini adalah matahari. Semua planit berputar mengelilingi matahari atau matahari poros peredaran semua planit yang ada di jagat raya. Pandangan ini dianggap keliru oleh para tokoh agama atau gereja. Para tokoh agama memahami bahwa yang menjadi poros jagat raya ini adalah bumi, semua planit yang ada berputar mengelilingi bumi.

Para ilmuan yang berpendapat bahwa poros jagat raya adalah matahari dianggap salah oleh dewan gereja dan berhak untuk dihukum, dan tidak sedikit para ilmuan yang dihukum bila mereka berbeda pandangan dengan para tokoh agama atau gereja. Salah seorang ilmuan yang dihukum adalah Galileo Galilei (1564-1642) karena ia berpendapat bahwa matahari adalah poros jagat raya, atau semua planit yang ada berputar mengelilingi matahari.

Sikap keras dewan gereja kepada para ilmuan yaitu tidak memberi respon positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong lahirnya sekularisme, yaitu pemisahan tugas gereja dengan tugas para ilmuan. Pemikiran sekularisme lahir ketika para ilmuan berhasil menjabat kepala negara. Karena dewan gereja dianggap tidak mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta agama dipahami sebagai urusan seseorang dengan tuhan, maka terjadilah pembagian tugas antara dewan gereja dengan para ilmuan. Urusan agama dipegang oleh dewan gereja  dan dewan gereja tidak boleh ikut campur urusan- urusan kenegaraan. Dewan gereja hanya mengurus masalah spiritual semata. Urusan kenegaraan seperti politik,ekonomi, pendidikan, budaya dan lain-lain dipimpin oleh para ilmuan.    

Selain di atas, kelahiran sekularisme juga disebabkan oleh perbedaan keadaan sosial ekonomi yang sangat mencolok antara masyarakat dengan keluarga gereja. Keluarga gereja hidup dengan kemewahan sementara  rakyat hidup dalam kesusahan.  Berdasarkan perjanjian Westfalley pada tahun 1648 sebagian besar harta kekayaan dewan gereja harus diserahkan kepada masyarakat.

Sekularisme masuk ke Indonesia

Pemikiran sekularisme masuk ke Indonesia dibawa oleh para penjajah sejak beberapa abad lalu dan sampai sekarang prilaku sekuler berkembang di dalam kehidupan masyarakat. Pemikiran sekularisme yakni menjauhkan agama dari kehidupan masyarakat Islam juga digunakan oleh para imperealis untuk menundukkan daerah jajahan, khususnya negara-negara Islam karena agama Islam sangat menentang pemikiran sekularisme. Ajaran Islam tidak memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat. Fid dunia hasanah wafil aakhirati hasanah , kita harus mengatur kehidupan duniawi dengan baik dan begitu juga dalam mengatur kehidupan akhirat.

Selain sekularisme, pemikiran lain juga ikut berkembang seperti saintisme, rasionalisme, atheisme,dan liberalisme. Saintisme, suatu pemikiran yang mengatakan bahwa ajaran agama yang metafisis atau bersifat gaib, disebut sebagai ajaran yang tidak memiliki nilai. Para scientist atau para ilmuan meyakini bahwa bahwa kemajuan sains atau ilmu pengetahuan sudah bisa memenuhi semua kebutuhan hidup manusia, oleh sebab itu manusia tidak perlu lagi mempercayai kekuatan gaib atau tuhan, malaikat, jin dan lain-lain. Para ilmuan menentang setiap agama yang berbasis pada metafisik atau tauhid, atau teologi. Para saintist tidak percaya pada tuhan, nabi, wahyu dan kitab suci. Scientisme adalah kelompok pemikir yang hanya percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Relativisme, suatu pandangan yang mengatakan bahwa keyakinan manusia pada suatu agama tidak bersifat abadi, akan tetapi bersifat relatif. Apa yang diangggap benar saat ini, nanti pada suatu saat bisa dianggap tidak benar. Begitu juga pandangan pada tuhan, pandangan manusia tentang agama atau tuhan akan selalu berubah dan tergantung pengalaman seseorang dalam beragama. Kelompok relativisme berpandangan bahwa kebenaran agama tidak bersifat abadi tetapi bersifat relatif, tuhan itu relatif, risalah nabi relatif, dan kebenaran wahyu atau Al-Qur’an juga tidak abadi.

Rasionalisme,adalah suatu pemikiran yang menyatakan tentang kemandirian akal atau otonomi akal. Kelompok rasionalisme ini berpendapat bahwa akal manusia sudah cukup memadai untuk mdemenuhi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Manusia tidak memerlukan nabi dan wahyu untuk mengenal tuhan Karena akal manusia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya. Perkembangan akhir dari kelompok rasionalisme ini adalah manusia tidak memerlukan nabi, wahyu dan tuhan atau menolak keberadaan agama. Seorang ahli sosiologi agama mengatakan bahwa semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi maka semakin jauh kesadaran manusia pada agama.

Dengan akal pikiran semata manusia tidaklah cukup untuk memahami ajaran Islam karena akal manusia itu terbatas, terutama memahami hal-hal bersifat non-materi sepertri keimanan atau tauhid ,tuhan, ruh, malaikat dan lain-lain. Manusia membutuhkan wahyu atau Al-Qur’an dan al-Hadist untuk bisa mendalami agama. Ajaran agama Islam tidak melarang manusia untuk menggunakan akal pikirannya dalam menjalani hidup, bahkan Al-Qur’an mengkritik manusia yang tidak mau menggunakan akal pikirannya. Al-Qur’an mengatakan, afala tadabbaruun (kenapa kamu sekalian tidak mau mengambil contoh), afala tasykuruun (kenapa kamu sekalian tidak mau bersyukur),afala tatazakkaruun (kenapa kamu sekalian tidak mengingatnya), afala ta’qiluun (kenapa kamu sekalian tidak mau memikirkannya).

Atheisme, suatu pemikiran yang menganggap bahwa tuhan itu tidak ada karena tuhan tidak bisa dilihat, tidak bisa diukur, tidak bisa dibuktikan secara empris atau riil. Segala sesuatu akan ada bila bisa dilihat, diraba,dirasa dan dianalisa secara empiris.

Seorang ahli filsafat bernama Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) mengatakan bahwa the god is death or the belief that there is no God atau tuhan pada hati manusia sudah mati atau suatu keyakinan yang mengatakan bahwa tuhan itu tidak ada. Dalam hati manusia modern tuhan sudah tidak ada lagi dan posisi tuhan sudah digantikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuan maupun penganut paham atheis hanya mengakui physical world atauhal yang bersifat materi dan mereka tidak mengakui unphysical world  atau dunia yang tidak nyata atau alam gaib. Sementara itu agama Islam mengakui physical world dunia yang bersifat materi dan unphysical world hal yang bersifat non materi seperti tuhan, malaikat, ruh, surga dan neraka , pahala dan dosa serta lainnya.

Yang terakhir adalah liberalisme yaitu kelompok yang berpandangan bahwa manusia punya kebebasan untuk berbuat apa saja yang mereka inginkan termasuk beragama atau tidak beragama, bertuhan atau tidak bertuhan , atau bertuhan kepada siapa dan dan bertuhan apa saja adalah kebebasan seseorang yang tidak boleh diganggu gugat. Liberalisme melahirkan manusia yang bermental individualis, serakah, rendah tanggung jawab sosial,hedonism yaitu the fiew that the final target of life is the pleasure atau manusia yang target hidupnya semata-mata untuk kepuasan hawa nafsu dan tak jarang kelompok liberalist melakukan genocide yaitu the killing of a big number of people intentionally who belongs to the race, country or community atau melakukan pembunuhan terhadap sejumlah manusia secara terencana, karena ras, negara atau kelompok tertentu. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memuaskan tuntutan hawa nafsu belaka.

Liberalisme, adalah suatu pandangan yang menganggap bahwa manusia punya hak atas segala sesuatu tanpa batas. Manusia yang target hidupnya adalah mengejar kepuasan jasadiah (fisik) tanpa batas. Memiliki kekayaan tanpa batas, punya kekuasaan tanpa batas. Liberalisme melahirkan LGBT (lesbian, guy, bisexsual, transgender), perkawinan sejenis, PSK (pekerja seks komersial), free seks, hidup membujang alias jomblo, bahkan ada sekelompk manusia yang hidup tanpa busana atau kaum nudis, menghina siapapun dan apapun termasuk membakar Al-Qur’an, melarang orang berpakaian kerudung dan lain-lain. Untuk mencapai target hidup jasadiah atau nafsu tersebut kelompok liberalis tidak segan-segan menempuh segala cara termasuk genocide.

Dalam Al-Qur’an ditemukan kata-kata summun,bukmun, ‘umyun fahum laa yubshiruun yaitu manusia yang tuli atas kebenaran, manusia yang bisu atas kebenaran, manusia yang buta atas kebenaran dan manusia yang bertuhan pada hawa nafsunya atau hedonism atau manusia yang memandang bahwa kenikmatan duniawi adalah target dari kehidupan. Dari liberalisme inilah lahir sikap rakus dan tamak, manusia yang tidak punya etika atau rendah tanggung jawab sosial, manusia yang tidak beragama, biadab, mereka tidak segan-segan melakukan genocide atau melakukan pembunuhan secara intensif, terencana dan massal terhadap sejumlah manusia karena ras , negara atau kelompok seperti yang terjadi saat ini di Palestina.

 

Di Indonesia umat Islam menolak sekularisme karena sekularisme melarang ajaran agama, khususnya agama Islam. Hampir di seluruh wilayah Indonesia para pejuang Islam atau ulama berhadapan dengan penjajah yang melarang pelaksanaan ibadah atau ajaran agama Islam. Di dalam Al-Qur’an ditemukan sejumlah ayat kauniyah atau ayat-ayat yang membahas kehidupan dunia dan kehidupan akhirat dan ayat kauniyah yang membahas masalah alam semesta, termasuk embriologi manusia. Ajaran agama Islam merespon secara positif  ilmu pengetahuan metafisik atau atau ketauhidan dan ilmu pengetahuan alam atau science modern. Ajaran agama Islam memiliki berbagai  aturan kehidupan manusia dalam urusan duniawi dan ukhrowi.  Ajaran agama Islam adalah suatu hakikat tunggal yang tidak bisa dipisah satu sama lain atau antara urusan duniawi dan ukhrowi.

Suatu ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah apa yang dimaksud dengan ibadah? Rasulullah menjawab, ibadah adalah semua aktifitas yang dilakukan seorang hamba Allah sejak dia bangun hari ini sampai dia bangun lagi esok hari. Semua aktifitas yang dilakukannya selalu terhubung dengan Allah. Hal ini menjelaskan bahwa dalam ajaran agama Islam tidak ada pemisahan kegiatan duniawi dan ukhrowi. Dalam ajaran Islam dikenal tiga fondasi yaitu aqidah atau tauhid, syariah atau hukum, dan akhlak, moral atau etika.

Ilmuan bantah pemikiran sekuler

Para intelektual Islam berjuang menyadarkan umat Islam, bahwa ajaran agama Islam adalah spirit, semangat atau generator penggerak masalah sosial. Ajaran agama Islam tidak terpisah dengan dunia politik sebagaimana yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Saw yang bertindak sebagai pemimpin negara dan pemimpin spiritual dan bahkan pemimpin perang. Demikian  pandangan sejumlah intelektual Islam tentang ajaran Islam dan mereka menentang sekularisme.

Maurice Bucaile, seorang dokter ahli bedah berkebangsaan Perancis menulis buku  yang diterjemahkan  ke bahasa Inonesia oleh Prof.Dr. HM Rasyidi dengan judul “ Bibel, Qur’an dan Sains Modern”,l978, diterbitkan PT Bulan Bintang, Jakarta. Setelah 30 tahun mempelajari respon kitab suci samawi terhadap sains modern, Maurice Bucaile mengatakan bahwa Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru, cacat sejarah dan cacat ilmiah. Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru ditulis setelah beberapa lama Nabi Musa dan Nabi Isa wafat. Sedangkan penulisan dan penghafalan Kitab Suci Al-Qur’an sudah dimulai ketika Nabi Muhammad masih hidup dan keontentikan Kitab Suci Al-Qur’an masih terpelihara sampai saat ini. Al-Qur’an merespon sains modern secara positif dan sejak abad ke XiX para ilmuan telah membuktikan kebenaran ayat-ayat kauniah atau ayat-ayat yang menjelaskan tentang alam secara scientific atau secara ilmiah.

Maurice Bucaile, seorang ilmuan ahli bedah menentang pandangan sekularisme serta turunannya. Ajaran agama Islam tidak memisahkan diri dengan ilmu, sebaliknya Al-Qur’an merespon ilmu pengetahuan dan teknologi secara objektif.

Belakangan  ini muncul berbagai berita yang mengungkapkan kekaguman para ilmuan pada kitab suci Al-Qur’an terutama dalam berita Scientific Facts Al-Qur’an atau sejumlah fakta ilmiah di dalam Al-Qur’an atau the Mirecle of Al-Qur’an atau sejumlah keajaiban dalam Al-Qur’an.

Roger Garaudy, juga berkebangsaan Perancis menulis buku yang juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh HM Rasyidi dengan judul “ Mencari Agama Pada Abad XX “, Wasiat Filsafat, diterbitkan oleh Penerbit Bulan  Bintang, l986. Roger Garaudy mengatakan bahwa westernisasi dan modernisasi, melahirkan manusia yang bermental individualis, egois, kapitalis dan rendah tanggung jawab sosial. Roger Garaudy, berpesan agar umat Islam menjauhi gaya hidup masyarakat barat dan gaya hidup masyarakat  modern yang individualis , egois, kapitalis, rakus dan rendah rasa tanggung jawab social tersebut.

Albert Einsten  seorang ilmuan mengatakan bahwa science without religion is danger and religion wihout science is blind, ilmu pengetahuan tanpa agama sangat berbahaya dan sebaliknya agama tanpa ilmu pengetahuan buta atau kaku. Ada pula para ilmuan yang berprinsip science for science atau free value of science. Sejumlah ilmuan berpandangan bahwa manusia bebas membuat apa saja karena ilmu pengetahuan dan teknolgi itu bebas nilai dan tidak perlu memikirkan moral dan agama. Sebaliknya ada kelompok ilmuan yang berpandangan science for human, there is no free value of science  bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada prinsipnya adalah untuk melindungi manusia. Bila pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan membahayakan manusia maka hal itu perlu dibendung, seperti perlombaan pembuatan senjata pembunuh, bom atom atau nuklir, begitu juga pembuatan virus, zat kimia dan teknologi lainnya untuk membunuh manusia.

Agama dan ilmu pengetahuan harus sejalan. Ajaran Islam tidak memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan, justeru ajaran agama Islam sangat mendukung ilmu pengetahuan. Ajaran agama membimbing manusia untuk menggunakan produk ilmu pengetahuan dan teknologi seperti persenjataan, zat kimia, virus, dan lain-lain untuk kebaikan manusia semata dan bukan  untuk membunuh manusia. Namun  yang terjadi belakangan  sebaliknya, produk ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk membunuh manusia secara terencana yang disebut genocide atau, pembunuhan manusia secara intensif  terhadap suatu kelompok manusia, masyarakat, kelompok atau negara tertentu. Kematian atau korban virus Covid 19 , peperangan di Palestina , dan lain-lain adalah produk dari liberalisme.

Dampak Pemikiran Sekularisme

Dampak dari pemikiran sekularisme terhadap tradisi keberagamaan dapat dilihat pada Kurikulum Pendidikan Nasional  yaitu porsi pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Pelajaran agama di tingkat SD ada 2/4 jam pelajaran atau 80/160 menit dalam satu minggu, begitu juga di SMP,SMA dan pelajaran agama di perguruan tinggi umum juga sedikit, yaitu 2 SKS atau 4 SKS selama kuliah program S1, sebanyak 4 atau 5 SKS dari total 144 SKS atau 3,5 %. Peningkatan pendidikan agama dalam lingkungan keluarga sudah tidak memungkinkan karena waktu untuk belajar sudah habis di sekolah, dan keluarga juga disibukkan oleh tuntutan kehidupan sehari-hari terutama tuntutan ekonomi.

Pemikiran sekularisme, the view that morality and education should not based on religion atau suatu pandangan yang menyatakan bahwa moralitas, etika atau akhlak dan pendidikan tidak perlu berlandaskan agama , telah memperkecil kesempatan masyarakat untuk memperoleh pelajaran agama melalui dunia pendidilkan dan sekaligus telah mengurangi tradisi keberagamaan. Kehidupan sehari-hari mulai dari kecil sampai tua kita lalui dengan pengetahuan agama yang serba sedikit. Pemikiran sekularisme dan turunannya melahirkan manusia yang jauh dari ajaran agama atau tidak beragama. Yang lahir manusia yang bermental hedonism yang target hidupnya memuaskan hawa nafsu.

Peringatan Al-Qur’an dan Hadist

Al-Qur’an dan Hadist mengingatkan orang beriman supaya beragama secara kaffah, utuh dan  keselurahan, dan jangan mengikuti hawa nafsu. Surat al-Baqarah ayat 208 mengingatkan,” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesunggunya syaitan itu musuh yang nyata,”.  

Kemudian Allah juga berfirman dalam surat al-Jaatsiyah ayat 23,” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati  atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.

Kemudian Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa semua yang dilakukan akan diminta pertanggungjawaban,” Hiduplah sesuka hatimu,kelak engkau akan mati. Cintailah apa yang kamu cintai sesungguhnya kelak kamu akan meninggalkannya. Berbuatlah sesuka hatimu kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban”.

Dan, Nabi mengingatkan kunci sukses kehidupan dunia dan akhirat  bila mengikuti pesan Nabi, yaitu “ Aku wasiatkan dua hal untuk kamu sekalian, dan  dua hal ini tidak akan membahayakan  kamu,  bila kamu sekalian berpegang pada dua hal tersebut, yaitu Al-Qur’an dan Hadist”.

Penulis: Drs.Yusra Killun, M.Pd , Dosen Bahasa Inggris pada Fakultas Da’wah dan Ilmu Komunikasi di UIN  Syarif Hidayatullah,Ciputat (1990-2022) dan beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Bogor. Pernah menjabat Ketua Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Fakultas Dakwah, dan Sekretaris Kopertais Wilayah DKI Jakarta.

Yusra Killun

Drs.Yusro Killun, M.Pd, Dosen Bahasa Inggris pada Fakultas Da’wah dan Ilmu Komunikasi di UIN Syarif Hidayatullah,Ciputat (1990-2022) dan beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Bogor. Pernah menjabat Ketua Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Fakultas Dakwah, dan Sekretaris Kopertais Wilayah DKI Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button