Cakrawala

Ekonomi yang Kuat Harus Terasa: Ketika Fundamental Bertemu Kehidupan Rakyat

Ketika Menteri Keuangan menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, sebagian masyarakat menyambutnya dengan optimisme. Namun, sebagian lainnya bertanya sederhana, “Kalau ekonomi memang kuat, mengapa hidup masih terasa berat?”

Pertanyaan seperti ini tidak boleh dianggap sebagai bentuk pesimisme. Justru di situlah letak pentingnya komunikasi publik. Di satu sisi, pemerintah berbicara berdasarkan indikator ekonomi makro. Di sisi lain, masyarakat menilai ekonomi dari pengalaman sehari-hari: harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, biaya pendidikan, cicilan rumah, hingga daya beli keluarga.

Dua sudut pandang tersebut sebenarnya tidak saling bertentangan. Keduanya hanya melihat realitas dari tingkat yang berbeda.

Dalam ilmu ekonomi, fundamental yang kuat berarti pondasi perekonomian berada dalam kondisi yang sehat. Inflasi terkendali, defisit anggaran masih terjaga, rasio utang relatif aman, sistem keuangan stabil, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan. Ibarat sebuah bangunan, pondasinya kokoh sehingga mampu menahan guncangan dari luar.

Namun, pondasi yang kuat belum tentu membuat seluruh penghuni rumah langsung merasa nyaman. Masih ada atap yang bocor, dinding yang retak, atau ruang yang belum tertata dengan baik. Demikian pula ekonomi. Stabilitas makro merupakan syarat penting, tetapi belum otomatis menjamin kesejahteraan dirasakan secara merata.

Inilah tantangan yang sesungguhnya.

Sering kali masyarakat lebih cepat merasakan kenaikan harga dibandingkan penurunan inflasi. Mereka lebih mudah merasakan sulitnya mencari pekerjaan dibandingkan membaca angka pertumbuhan ekonomi. Mereka lebih memahami isi dompet daripada laporan statistik.

Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mengatakan bahwa ekonomi baik-baik saja. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari pertumbuhan tersebut.

Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas seharusnya menghasilkan lapangan kerja yang lebih luas, meningkatkan produktivitas usaha kecil, memperkuat daya beli masyarakat, dan membuka kesempatan yang lebih adil bagi generasi muda. Jika pertumbuhan hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu, maka angka-angka yang indah akan sulit diterjemahkan menjadi kesejahteraan bersama.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu bersikap proporsional. Tidak setiap pelemahan nilai tukar rupiah berarti ekonomi sedang runtuh. Tidak setiap gejolak pasar menandakan krisis. Dalam ekonomi global yang saling terhubung, perubahan suku bunga internasional, konflik geopolitik, maupun perlambatan ekonomi dunia dapat memengaruhi hampir seluruh negara, termasuk Indonesia.

Artinya, menjaga optimisme juga merupakan bagian dari menjaga ekonomi.

Namun, optimisme yang sehat bukanlah optimisme yang menutup mata terhadap persoalan. Optimisme yang sehat justru mendorong keberanian untuk memperbaiki kekurangan. Kritik yang disampaikan dengan data dan niat membangun merupakan energi bagi perbaikan kebijakan, bukan ancaman bagi pemerintah.

Karena itu, dialog antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat harus terus diperkuat. Kepercayaan publik lahir ketika kebijakan tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga dipahami dan dirasakan manfaatnya.

Ke depan, terdapat beberapa langkah yang layak menjadi perhatian bersama.

Pertama, menjaga stabilitas ekonomi harus berjalan seiring dengan pemerataan manfaat pembangunan. Pertumbuhan yang tinggi akan lebih bermakna apabila disertai penciptaan lapangan kerja yang produktif dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Kedua, transformasi ekonomi perlu terus dipercepat melalui penguatan industri bernilai tambah, hilirisasi yang berkelanjutan, pengembangan ekonomi digital, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen yang mampu bersaing di tingkat global.

Ketiga, transparansi komunikasi publik perlu terus ditingkatkan. Data ekonomi hendaknya disampaikan secara jujur, utuh, dan mudah dipahami. Ketika masyarakat memahami alasan di balik suatu kebijakan, ruang bagi spekulasi dan disinformasi akan semakin sempit.

Keempat, dunia usaha perlu memperoleh kepastian regulasi agar investasi terus tumbuh. Investasi bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan sumber lahirnya lapangan kerja, inovasi, dan peningkatan kesejahteraan.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi bukan hanya ditentukan oleh seberapa kuat indikator makro yang dimiliki suatu negara, tetapi juga oleh seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh rakyat.

Fundamental ekonomi memang penting. Ia adalah pondasi yang menjaga bangunan tetap berdiri ketika badai datang. Namun, rumah yang kokoh tidak cukup hanya memiliki pondasi yang kuat. Rumah itu harus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan harapan bagi setiap penghuninya.

Demikian pula Indonesia. Stabilitas ekonomi patut disyukuri dan dijaga. Namun, tujuan akhirnya bukan sekadar memperoleh pengakuan bahwa fundamental kita kuat, melainkan memastikan bahwa setiap keluarga Indonesia dapat hidup lebih sejahtera, memperoleh kesempatan yang adil, dan memandang masa depan dengan optimisme yang beralasan.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya apa yang tertulis dalam laporan, melainkan apa yang benar-benar dirasakan dalam kehidupan rakyat.***

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button