Di era serba cepat seperti sekarang, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam pikirannya sendiri. Malam sulit tidur, hati gelisah, pikiran berputar tanpa henti memikirkan masa depan, pekerjaan, rezeki, hingga penilaian orang lain. Inilah yang sering disebut overthinking.
Dalam Islam, kecemasan berlebihan bukan sesuatu yang dianjurkan. Bukan karena Islam melarang manusia berpikir, tetapi karena pikiran yang terlalu dipenuhi rasa takut dan prasangka justru bisa melemahkan hati, mengurangi rasa syukur, bahkan menjauhkan seseorang dari ketenangan iman.
Sering kali overthinking muncul karena manusia ingin mengendalikan semua hal, padahal tidak semua berada dalam kuasa kita. Kita sibuk memikirkan apa yang belum terjadi, takut pada kemungkinan buruk, dan lupa bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari banyaknya jawaban atas semua masalah, melainkan dari dekatnya hati kepada Allah. Sebab tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan dengan logika, tetapi banyak yang disembuhkan dengan ketenangan iman.
Overthinking juga sering datang dari bisikan setan yang menanamkan rasa takut, pesimis, dan keraguan dalam hati manusia. Ketika seseorang terus memikirkan hal buruk yang belum tentu terjadi, ia perlahan kehilangan semangat dan harapan.
Karena itu, Islam mengajarkan tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin. Kita diperintahkan untuk ikhtiar, tetapi hasil akhirnya tetap milik Allah. Tidak semua yang kita inginkan akan terjadi, namun semua yang Allah tetapkan pasti memiliki hikmah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin selalu memiliki alasan untuk tenang. Ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika diuji ia bersabar. Keduanya bernilai kebaikan di sisi Allah.
Selain tawakal, Islam juga mengajarkan qana’ah, yaitu merasa cukup atas apa yang Allah berikan. Banyak kecemasan lahir karena manusia terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Padahal kebahagiaan tidak selalu tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang hati yang mampu menerima dengan ikhlas.
Berbaik sangka kepada Allah (husnuzan) juga menjadi obat penting bagi hati yang gelisah. Bisa jadi sesuatu yang hari ini terasa berat justru sedang Allah arahkan menuju kebaikan yang belum kita pahami.
Maka, ketika pikiran mulai terasa sesak, cobalah berhenti sejenak. Perbanyak zikir, perbaiki shalat, dan dekatkan diri kepada Allah. Jangan biarkan pikiran berjalan lebih jauh daripada keimanan kita.
Hidup ini tidak akan pernah lepas dari ujian. Namun bersama Allah, hati akan selalu menemukan tempat untuk kembali tenang. Sebab sejatinya, melawan overthinking bukan berarti menghilangkan semua masalah, melainkan belajar menyerahkan segala beban kepada Allah dengan penuh keyakinan.**
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten


