Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: jika dunia ini hanyalah tempat singgah, mengapa kita sering bertingkah seolah-olah akan tinggal di sini selamanya?
Barangkali itulah salah satu paradoks terbesar manusia modern. Kita sibuk membangun rencana puluhan tahun ke depan, mengejar jabatan, mengumpulkan aset, mempercantik rumah, memperluas pengaruh, bahkan bertengkar demi perkara-perkara kecil. Namun, pada saat yang sama, kita lupa bahwa tidak seorang pun memiliki jaminan masih akan menyaksikan matahari terbit esok pagi.
Islam menawarkan sebuah cara pandang yang sangat menarik: hiduplah seperti seorang musafir.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pernah menasihati Abdullah bin Umar agar hidup di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara. Nasihat yang singkat, tetapi mengandung filosofi kehidupan yang sangat dalam.
Seorang musafir tidak pernah menganggap tempat persinggahannya sebagai tujuan akhir. Ia mungkin berhenti untuk beristirahat, berteduh, makan, atau mengisi bekal. Namun, setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanan. Ia tidak sibuk membangun istana di tempat persinggahan karena ia tahu bahwa tempat itu bukan rumahnya.
Begitulah dunia.
Dunia bukan tujuan akhir, melainkan terminal sementara. Kita datang tanpa membawa apa pun, dan kelak kembali tanpa membawa apa pun selain amal.
Ironisnya, justru di tempat singgah inilah manusia sering kehilangan arah. Ada yang rela mengorbankan kejujuran demi kekayaan, persaudaraan demi kekuasaan, bahkan agama demi popularitas. Seolah-olah seluruh makna hidup berhenti pada angka di rekening, luas tanah, atau banyaknya pengikut di media sosial.
Padahal, ketika seseorang meninggal dunia, semua atribut itu berhenti bekerja. Gelar tidak ikut masuk ke liang lahat. Kendaraan mewah hanya mengantar sampai gerbang pemakaman. Rekening bank berhenti menjadi milik kita. Bahkan rumah yang dibangun bertahun-tahun akan segera dihuni oleh generasi berikutnya.
Yang terus menemani hanyalah amal.
Karena itu, filosofi musafir mengajarkan kita agar membawa bekal secukupnya. Bekal yang dimaksud tentu bukan sekadar makanan atau pakaian, melainkan iman, ilmu, akhlak, sedekah, kejujuran, dan berbagai amal saleh yang nilainya tidak pernah mengalami inflasi.
Harta memang penting, tetapi ia hanyalah alat, bukan tujuan. Kekayaan menjadi berkah jika berada di tangan, bukan menguasai hati. Sebaliknya, ketika hati sudah diperbudak oleh dunia, manusia akan terus merasa miskin meskipun hartanya melimpah.
Di sinilah pentingnya sikap qanaah, yaitu merasa cukup atas rezeki yang Allah anugerahkan tanpa kehilangan semangat untuk terus bekerja dan berkarya. Qanaah bukan berarti malas atau anti kemajuan. Islam justru mendorong umatnya menjadi produktif, kreatif, dan berprestasi. Bedanya, keberhasilan tidak dijadikan berhala baru yang menguasai seluruh hidup.
Begitu pula dengan sikap zuhud. Zuhud sering disalahpahami sebagai hidup miskin atau meninggalkan dunia. Padahal, hakikat zuhud adalah tidak membiarkan dunia menguasai hati. Seseorang boleh memiliki rumah besar, kendaraan bagus, atau usaha yang berkembang pesat, tetapi semua itu tidak membuatnya lupa kepada Allah dan tidak menjadikannya sombong kepada sesama.
Filosofi musafir juga mengajarkan tentang manajemen waktu. Seorang pengembara tidak akan menghabiskan seluruh waktunya untuk menghias tempat singgah. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang.
Demikian pula hidup kita. Waktu adalah aset yang terus berkurang, bukan bertambah. Anehnya, banyak orang begitu disiplin menjaga saldo rekening, tetapi sangat boros menghabiskan umur. Berjam-jam tersita untuk hal yang tidak bermanfaat, sementara membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, membantu sesama, atau memperbaiki diri selalu dianggap bisa dilakukan “nanti.”
Masalahnya, “nanti” adalah kata yang paling sering gagal diwujudkan.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan perjalanan hidupnya berakhir. Kematian tidak menunggu seseorang selesai membangun rumah, melunasi cicilan, menyekolahkan anak, atau menikmati masa pensiun. Ia datang sesuai ketetapan Allah, tanpa perlu membuat janji terlebih dahulu.
Kesadaran inilah yang melahirkan optimisme, bukan pesimisme. Orang yang memahami hakikat hidup sebagai musafir justru akan lebih berani berbuat baik, lebih ringan berbagi, lebih mudah memaafkan, dan lebih semangat berkarya. Sebab ia sadar bahwa setiap amal adalah bekal yang akan ditemui kembali di perjalanan berikutnya.
Menariknya, filosofi ini juga relevan dalam kehidupan modern yang serba cepat. Ketika banyak orang mengalami stres karena mengejar standar hidup yang terus naik, konsep musafir mengingatkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.
Mungkin kita tidak dikenang karena rumah terbesar atau kendaraan termahal. Namun, bisa jadi kita dikenang karena ilmu yang diajarkan, senyum yang menenangkan, sedekah yang diam-diam diberikan, atau pertolongan kecil yang pernah menyelamatkan harapan seseorang.
Itulah bekal yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, hidup laksana musafir bukanlah ajakan untuk menjauhi dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang benar. Dunia adalah kendaraan, bukan tujuan. Ia adalah ladang, bukan tempat panen. Ia adalah ruang ujian, bukan ruang pembalasan.
Selama masih diberi kesempatan bernapas, teruslah bekerja dengan profesional, belajar dengan sungguh-sungguh, membangun keluarga yang baik, memakmurkan masyarakat, dan memberikan manfaat seluas-luasnya. Namun, jangan pernah lupa bahwa semua itu hanyalah bagian dari perjalanan menuju kampung yang abadi.
Sebab, seorang musafir yang bijak selalu menikmati perjalanan, tetapi tidak pernah lupa ke mana ia akan pulang.


