Ibadah Haji

Kurban atau Membantu Keluarga Miskin : Mana yang Lebih Utama?

Menjelang Hari Raya Idul Adha, sebagian umat Islam sering menghadapi pertanyaan yang cukup menyentuh hati: manakah yang lebih utama, berkurban atau membantu keluarga dan kerabat yang sedang kesulitan ekonomi?

Pertanyaan ini terasa relevan di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah. Ada orang yang berkurban demi menjalankan syiar agama, tetapi di sisi lain ia melihat saudaranya sendiri sedang kesulitan makan, terlilit utang, sakit, atau kehilangan pekerjaan.

Islam agama yang penuh hikmah. Ia tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga menghadirkan keseimbangan antara hubungan kepada Allah dan kepedulian kepada sesama manusia.

Syiar Agung

Dalam kondisi normal, mayoritas ulama (jumhur) menjelaskan bahwa berkurban lebih utama daripada bersedekah dengan uang senilai hewan kurban, selama seseorang memang mampu secara finansial.

Kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ia adalah simbol ketakwaan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (Q.S. Al-Kautsar: 2)

Kurban juga menjadi syiar Islam yang memiliki waktu khusus dan tidak bisa digantikan sepenuhnya dengan sedekah biasa. Selain bernilai ibadah, daging kurban pun dibagikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.. (H.R. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan ibadah kurban di sisi Allah.

Ketika Saudara Sangat Membutuhkan

Namun Islam juga mengajarkan tentang skala prioritas. Dalam kondisi tertentu, membantu keluarga atau kerabat yang sedang berada dalam keadaan darurat bisa menjadi lebih utama daripada menjalankan ibadah sunnah kurban.

Misalnya, ada anggota keluarga yang kelaparan, membutuhkan biaya pengobatan, terancam kehilangan tempat tinggal, atau memiliki kebutuhan mendesak lainnya. Dalam situasi seperti ini, menolong mereka termasuk amal yang sangat mulia.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan kepada kerabat bernilai dua: sedekah dan menyambung silaturahmi.” (H.R. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Hadis ini menjelaskan bahwa membantu kerabat memiliki nilai yang lebih besar karena mengandung dua kebaikan sekaligus: membantu orang yang membutuhkan dan mempererat hubungan keluarga.

Dalam fikih prioritas, menjaga kebutuhan pokok manusia dan menghilangkan kesulitan yang mendesak termasuk perkara yang sangat penting.

Islam Mengajarkan Keseimbangan

Jalan terbaik sebenarnya adalah menggabungkan keduanya jika mampu. Tetap berkurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, lalu sebagian dagingnya diberikan kepada keluarga dan masyarakat yang membutuhkan. Atau tetap membantu kerabat dengan sedekah tambahan di luar ibadah kurban.

Islam tidak mengajarkan ibadah yang kering dari empati sosial. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, seharusnya semakin besar pula kepeduliannya kepada sesama.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (Q.S. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan bahwa inti dari kurban bukan semata-mata hewan yang disembelih, melainkan ketulusan hati, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang menyertainya.

Jangan Sampai Ibadah Menghilangkan Empati

Ada orang yang begitu bersemangat membeli hewan kurban terbaik, tetapi lupa melihat kondisi keluarganya sendiri yang sedang kesulitan hidup. Di sisi lain, ada pula yang meninggalkan syiar kurban padahal sebenarnya mampu melaksanakannya.

Karena itu, kebijaksanaan sangat dibutuhkan. Islam bukan agama yang kaku, melainkan agama yang memahami kondisi manusia.

Jika Allah memberikan kemampuan rezeki, maka laksanakanlah kurban. Tetapi jika ada keluarga dekat yang benar-benar berada dalam kondisi darurat dan kita hanya memiliki kemampuan terbatas, maka membantu kebutuhan pokok mereka adalah tindakan yang sangat mulia.

Pada akhirnya, ibadah terbaik adalah ibadah yang melahirkan ketakwaan sekaligus menghadirkan kasih sayang bagi sesama manusia.

Sebab Allah tidak hanya melihat apa yang kita sembelih, tetapi juga melihat seberapa besar kepedulian yang tumbuh di dalam hati kita.**

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button