Ibadah Haji

KOMPAKNYA CUMA DISANA

Di tanah suci, manusia tiba-tiba menjadi sederhana. Tidak ada pangkat yang terlalu tinggi untuk dilipat ke dalam dua helai kain putih, tidak ada gelar yang cukup panjang untuk dibawa mengelilingi Ka’bah, tidak ada bendera partai, tidak ada spanduk mazhab, tidak ada pengeras suara yang berteriak: “kelompok kami paling selamat, yang akan masuk surga di kloter pertama.” Di tanah suci, semuanya  baik-baik saja. Mereka yang biasa bersilang pendapat di kampung, di kantor, di mimbar, di layar telepon genggam, tiba-tiba melangkah dalam talbiyah  yang sama. Bahu bertemu bahu, doa bertemu doa, tangis bertemu tangis. Dalam tawaf, tidak ada yang sempat bertanya, “Engkau ikut aliran apa, mazhab apa, organisasi apa?” Mungkin karena eling, bahwa utaran tawaf terlalu agung untuk disempitkan oleh pertanyaan kecil manusia.

Di Arafah, matahari membakar kepala, tetapi melembutkan hati. Orang-orang berdiri, duduk, menangis, menengadah. Mereka datang dari negeri yang berbeda, bahasa yang berbeda, cara ibadah yang bisa jadi, tidak selalu sama. Tetapi semua mengucapkan rindu yang satu. Semua merasa membawa dosa yang sama beratnya, semua berharap ampun yang sama luasnya.

Di Mina, batu-batu kecil dilemparkan ke arah jumrah, seakan setiap orang sepakat: setan memang harus dilawan. Tetapi anehnya, setelah pulang, batu-batu itu sering berubah menjadi kata-kata. pedas yang dilemparkan ke sesama saudara. Satu kelompok melempar tuduhan, kelompok lain membalas dengan cap sesat. Satu mengharamkan, yang lain membid’ahkan. Satu merasa menjaga agama, yang lain merasa menyelamatkan umat. Akhirnya, semua merasa paling dekat dengan Tuhan, sambil makin jauh dari manusia.

Ketika sa’i antara Shafa dan Marwah, semua bergerak dalam kisah yang sama: kisah seorang ibu yang mencari air, bukan mencari kemenangan mazhab. Bukan mencari kursi politik, bukan mencari bahan untuk mempermalukan orang lain. Hajar berlari karena cinta, bukan karena ingin mengalahkan siapa pun. Ia mencari kehidupan, tetapi  sesudah pulang dari tanah suci, kita sering lebih sibuk mencari kesalahan.

Di depan Ka’bah, lidah menjadi pelan. Di depan televisi, di “podcast”, lidah kembali tajam. Di depan Multazam, dada basah oleh tangis, di media sosial, jari-jari kembali menjadi pedang  yang mengiris martabat saudara sendiri. Di tanah haram, orang takut menginjak semut; di tanah air, orang dengan ringan menginjak perasaan sesame umat.

Kita mampu kompak dalam ihram, tetapi bercerai dalam pakaian sehari-hari. Kita mampu bersatu dalam talbiyah, tetapi pecah dalam rapat warga. Kita mampu berdiri bersama di Arafah, tetapi saling curiga di masjid kampung. Kita mampu mengucap labbaik Allahumma labbaik, tetapi tidak selalu mampu berkata kepada saudara sendiri: “Mari kita berbeda tanpa saling merendahkan.” Mungkin karena di tanah suci, manusia merasa kecil., sementara setelah pulang, manusia kembali merasa besar. Besar ilmunya, besar  organisasinya,  besar karena jamaahnya, besar karena ketokohannya, besar karena tafsirnya, dsb. Padahal agama sendiri datang untuk membesarkan Allah di dalam hati, bukan membesarkan ego di dalam dada.

Haji mengajarkan persatuan yang sunyi. Persatuan yang tidak banyak berpidato, persatuan yang tidak perlu membuat poster. Ia tampak dalam antrean, dalam langkah, dalam sabar menunggu, dalam memberi ruang, dalam menahan marah, dalam menyadari bahwa jutaan manusia bisa bergerak bersama karena sama-sama sedang menuju Yang Satu.

Setelah kembali ke rumah, ujian haji justru dimulai. Bukan lagi apakah kita kuat berjalan di bawah matahari Makkah, tetapi apakah kuat menahan diri di bawah panasnya perbedaan. Bukan lagi, apakah kita sanggup melempar jumrah, tetapi apakah kita sanggup untuk tidak melemparkan kebencian, bukan lagi apakah kita mampu memakai ihram, tetapi apakah kita mampu membawa putihnya ihram ke dalam hati yang mudah keruh.

Perjalanan Haji yang telah mendarat di bandara hanyalah perjalanan tubuh. Haji yang sesungguhnya pulang bersama cara memandang manusia. Jika di tanah suci kita bisa berjalan bersama tanpa mempersoalkan perbedaan, mengapa di tanah sendiri kita begitu gemar membesarkan perbedaan? Jika di depan Ka’bah kita merasa semua manusia sama-sama hamba, mengapa di kampung kita kembali membuat tangga-tangga kesombongan dan keakuan?

Persatuan umat bukan dimulai dari seminar besar, bukan dari slogan panjang, bukan dari spanduk yang memenuhi jalan. Ia dimulai dari keberanian sederhana: berhenti merasa paling suci ketika melihat orang lain berbeda cara berdoa, berhenti menjadikan agama sebagai batu untuk melempari, dan mulai menjadikannya air untuk menyejukkan. Ka’bah tidak pernah bertanya dari organisasi mana orang yang mengelilinginya, Arafah tidak pernah memilih air mata berdasarkan mazhabnya, Zamzam tidak pernah menolak dahaga karena pilihan politiknya.

Kitalah yang sering terlalu sibuk memberi atau membuat pagar. Padahal rahmat-Nya, sejak dulu, lebih luas daripada halaman rumah ibadah kita, lebih lapang daripada peta kelompok kita, dan lebih lembut daripada lidah yang gemar menghakimi. Karena itu, semoga, sepulang dari haji, tidak hanya membawa koper, sajadah, tasbih, dan kurma, tapi kita membawa pulang keluasan Arafah, kesabaran Mina, ketundukan tawaf, dan air Zamzam untuk memadamkan api kecil di dalam.

Kita berharap, agar umat tidak hanya tampak bersatu ketika memakai ihram, tetapi juga ketika memakai baju biasa, berjalan di pasar, duduk di masjid, berbeda pilihan, berbeda mazhab, berbeda tafsir, dengan tetap saling menyapa sebagai saudara yang sama-sama sedang berjalan pulang menuju kepadaNya. Ingatlah, kataNya juga : Wa’tashimu bihablillahi jami’a, wa laa tafarroqu.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.

Ganjar Kurnia

Akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 - 2015.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button