Di sebuah grup WhatsApp, tempat pagi selalu dimulai dengan bunga, kopi mengepul, burung yang semuanya digital ditambah dengan kalimat “Selamat pagi, semoga sehat selalu,” tiba-tiba masuk kabar yang membuat stiker berhenti tersenyum. Seorang teman lama sakit keras. Operasi besar menunggu. Lalu ada yang mengusulkan urunan bantuan.
Semua membaca. Semua terdiam. Centang biru berubah menjadi semacam nisan kecil. Tidak ada yang segera menyumbang. Bukan karena hati mereka telah berubah menjadi batu bata sisa renovasi rumah, bukan karena persahabatan masa sekolah sudah kedaluwarsa seperti obat batuk di lemari, bukan pula karena empati telah pensiun lebih dulu bersama pemiliknya, tetapi karena mereka hanya sedang menghadapi kenyataan yang lebih tua daripada usia mereka sendiri: tidak punya uang karena sudah pensiun.
Pensiun rupanya bukan taman bunga, bukan kursi goyang di teras, teh hangat, cucu berlarian, lalu kita menasihati dunia dengan suara bijaksana.
Dalam praktik sosial-ekonomi Indonesia, pensiun sering menjadi seni tingkat tinggi untuk membuat uang sedikit tampak cukup, membuat sakit tampak ringan, membuat sepi tampak lucu, dan membuat gengsi tetap berdiri walaupun dompet sudah duduk bersila.
Di grup WA semua tampak baik-baik saja. Setiap pagi ada doa. Setiap Jumat ada ayat. Setiap ulang tahun ada kue digital. Setiap Idulfitri semua saling memaafkan. Di permukaan, grup itu tampak sehat: penuh salam, nostalgia, foto cucu, dan kabar reuni. Tetapi di balik layar handphone, banyak yang sedang menghitung obat, listrik, cicilan anak, uang sekolah cucu, tekanan darah dan bahkan beras.
Maka ketika ada ajakan membantu teman sakit, yang muncul bukan hanya rasa iba, melainkan terjadi perhitungan dengan kalkulator batin. “Kalau saya transfer dua ratus ribu, obat darah tinggi bulan ini bagaimana?” “Kalau saya transfer lima ratus ribu, cucu yang minta uang les matematika harus belajar filsafat saja?”. “Kalau tidak transfer, apakah saya menjadi manusia jahat?”
Di situlah tragedi berubah menjadi komedi gelap. Bukan karena lucu, tetapi karena hidup sering terlalu pahit untuk ditangisi terus-menerus. Orang pensiun kadang seperti negara kecil yang APBN-nya defisit, tetapi tetap harus tampil berwibawa di depan khalayak. Pendapatan kecil dan tetap, pengeluaran bergerak liar seperti tikus di plafon. Harga beras naik. Listrik naik. Obat naik. Ongkos rumah sakit naik. Hanya satu yang turun: keberanian melakukan mutasi rekening.
Ketika masih aktif bekerja, datang ke kantor dengan sepatu mengkilap, punya ruangan, punya staf, punya kartu nama, punya wibawa. Sekarang datang ke rumah sakit membawa map plastik, nomor antrean, fotokopi KTP, kartu BPJS, dan kesabaran yang harus diperpanjang setiap tiga puluh menit. Dulu dipanggil “Bapak Kepala”. Sekarang dipanggil, “Nomor 183, loket tiga!”
Perubahan status sosial itu kadang lebih menyakitkan daripada rematik. Tubuh boleh tua, tetapi ego sering masih memakai seragam dinas lama. Ia belum rela pensiun. Ia masih ingin disapa, dihormati, diprioritaskan, dipersilakan masuk tanpa antre. Padahal kehidupan sudah mencopot semua atribut dengan sopan, lalu berkata, “Mangga, Bapak, duduk di kursi tunggu bersama rakyat lainnya.”
BPJS pun menjadi tarekat kesabaran nasional. Di sana manusia belajar bahwa penyakit tidak mengenal pangkat, antrean tidak mengenal masa lalu, dan loket tidak peduli apakah dulu kita pernah menjadi orang penting atau tidak. Semua sama: memegang map, menatap layar nomor, berharap dipanggil sebelum punggung menyerah.
Namun grup WA tidak dirancang untuk kejujuran eksistensial. Grup WA dirancang untuk stiker. Di sana orang lebih mudah mengirim bunga daripada berkata, “Saya sedang kesulitan.” Lebih mudah mengetik “Aamiin YRA” daripada mengaku, “Sama, saya juga sedang bokek.” Lebih mudah mengirim foto cucu daripada mengatakan bahwa uang pensiun hampir habis untuk obat.
Karena itu, ketika urunan tidak terkumpul, jangan cepat-cepat menghakimi. Mungkin yang diam bukan tidak peduli. Mungkin ia sedang memilih antara membantu sahabat atau membeli obat jantung. Mungkin ia ingin memberi, tetapi isi rekeningnya sedang melakukan tafakur. Mungkin ia sudah mengetik :“Saya ikut membantu,” lalu menghapusnya karena saldo tidak setuju.
Inilah absurditas masa tua: manusia masih ingin menjadi baik, tetapi kemampuan finansialnya sering minta izin geleng kepala. Solidaritas tidak selalu bisa berbentuk transfer besar. Kadang ia hadir sebagai doa tulus, kunjungan singkat, menemani antre, mengurus berkas, atau sekadar menelepon — agar orang sakit tidak merasa dihapus dari daftar hadir kehidupan.
Pelajaran terbesar dari grup WA itu bukan tentang siapa menyumbang dan siapa tidak. Pelajaran terbesarnya adalah: pensiun harus dipersiapkan bukan hanya dengan tabungan, tetapi dengan keberanian menerima hidup apa adanya. Pensiun bukan sekadar berhenti bekerja.
Pensiun adalah saat manusia dipaksa turun dari panggung, melepas mikrofon, lalu belajar duduk di kursi penonton tanpa merasa hina.
Barangkali di usia senja, kata “cukup” lebih suci daripada kata “sukses”. Cukup sehat. Cukup rezeki. Cukup teman. Cukup hati untuk tidak lagi diperbudak gengsi. Karena pada akhirnya, manusia tua tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia hanya membutuhkan tempat duduk yang tenang, obat yang terbeli, sahabat yang tidak menghakimi, dan grup WA yang sesekali berhenti mengirim bunga palsu, lalu berani bertanya dengan sungguh-sungguh:
“Bagaimana kabarmu sebenarnya?”
Bukan “sehat selalu” sebagai stiker. Tetapi sapaan yang menggambarkan kasih sayang dari yang masih punya pulsa persahabatan.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.


