Republik Islam Iran berada dalam duka terdalam sekaligus ketegangan hebat. Pemimpin Tertinggi (Rahbar), Sayyid Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari ini 1 Maret 2026. Khamenei mati syahid, menurut keyakinan sebagian kaum. Muslim, menyusul serangan militer skala besar yang dilancarkan oleh kekuatan udara Israel dan Amerika Serikat yang menyasar jantung pertahanan strategis di Teheran.
Kepergian sosok yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade ini menandai berakhirnya sebuah era dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang tak terkendali di kawasan Timur Tengah. Majelis Ahli Kepemimpinan dikabarkan segera menggelar sidang darurat untuk menentukan arah masa depan negara di tengah kepulan asap mesiu.
Sayyid Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin politik; ia adalah simbol ketabahan, intelektualitas Islam, dan arsitek ideologis Iran modern.
Lahir pada 19 April 1939 di Masy-had, Khamenei tumbuh dalam keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Sayyid Jawad Khamenei, menanamkan dasar-dasar ilmu agama yang kuat. Sejak remaja, ia telah menyelami kedalaman bahasa Arab, logika, dan fikih di hawzah ‘ilmiyyah Mashhad.
Dahaga akan ilmu membawanya ke Qom pada akhir 1950-an. Di sana, ia berguru pada raksasa intelektual seperti Ayatollah Hossein Borujerdi, Allameh Tabataba’i, dan sosok yang paling memengaruhi hidupnya: Ruhollah Khomeini. Di bawah bimbingan mereka, Khamenei mengasah ketajaman filsafat, tafsir Al-Qur’an, dan teologi
Kedekatannya dengan Imam Khomeini membuat Khamenei menjadi target utama rezim Shah Pahlavi. Ia berkali-kali dipenjara karena menyebarkan gagasan revolusioner. Pasca-Revolusi 1979, ia mengemban tugas berat sebagai anggota Dewan Revolusi hingga Imam Jumat Teheran.
Sebuah noktah sejarah yang tak terlupakan terjadi pada 27 Juni 1981. Sebuah bom yang disembunyikan dalam alat perekam meledak saat ia berceramah di Masjid Abuzar. Meski selamat, tangan kanannya menderita kerusakan permanen. Peristiwa ini justru mengukuhkan reputasinya sebagai sosok yang tabah dan rela berkorban demi cita-cita revolusi.
Setelah menjabat sebagai Presiden Iran (1981–1989) di masa sulit Perang Iran-Irak, ia terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi pada 4 Juni 1989, sehari setelah wafatnya Imam Khomeini. Meski awalnya sempat ragu karena merasa belum mencapai tingkat marja‘iyyah tradisional, Majelis Ahli melihat kapasitas kepemimpinan dan kedekatan visinya dengan Khomeini sebagai modal utama.
Sebagai Wali al-Faqih, ia memegang otoritas tertinggi atas militer, kebijakan strategis, dan arah ideologis negara selama 37 tahun.
Di balik jubah kepemimpinannya, Khamenei adalah seorang intelektual yang inklusif. Ia dikenal karena:
Jembatan Antar-Mazhab: Menerjemahkan karya pemikir Sunni seperti Sayyid Qutb untuk memperkenalkan wacana kebangkitan Islam secara luas.
Khamenei adalahbpengagum Muhammad Iqbal, dan menjadikan pemikiran penyair-filsuf tersebut sebagai fondasi pembaruan spiritual umat melalui konsep khudi (ego/diri). Buku-bukunya seperti Outline of Islamic Thought in the Qur’an menekankan bahwa tauhid adalah energi moral untuk keadilan sosial dan revitalisasi peradaban.
Kini, sang penjafa revolusi dan pemimpin yang memadukan tradisi teologi Syiah dengan kesadaran sosial-politik modern itu telah berpulang untuk selamanya. Dunia menanti dengan napas tertahan untuk melihat bagaimana warisan pemikiran dan struktur kekuasaan yang ia bangun akan merespons serangan yang merenggut nyawanya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan Tuan Ali Khamenei, dan semoga nendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt.





