Dunia Islam

Wahabi dan Aswaja: Beda Jalan, Sama Tujuan?

Di tengah umat Islam, perdebatan soal Wahabi dan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) sering muncul seperti pertandingan klasik: panas, emosional, dan kadang lebih banyak teriak daripada memahami. Padahal, jika ditelisik, keduanya sama-sama mengaku ingin kembali kepada Islam yang murni. Yang berbeda adalah “cara membaca peta”, bukan tujuan kiblatnya.

Aswaja, yang mayoritas dianut umat Islam Indonesia, berdiri di atas fondasi akidah Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Mereka memadukan dalil naqli dengan akal sehat. Dalam memahami ayat-ayat sifat Allah, Aswaja lebih lentur dengan takwil agar tidak terjebak menyerupakan Tuhan dengan makhluk.

Sementara Wahabi, yang sering dikaitkan dengan gerakan Muhammad ibn Abdil Wahhab, mengambil jalur purifikasi: kembali langsung ke Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman literal, tanpa banyak ruang untuk ilmu kalam. Prinsipnya sederhana: agama jangan ditambah-tambah.

Muhammad bin Abdil Wahab

Di ranah fikih, Aswaja nyaman dengan empat madzhab sebagai peta jalan. Wahabi cenderung lebih bebas memilih dalil langsung tanpa terikat satu mazhab. Di sinilah sering muncul gesekan: yang satu melihat tradisi sebagai warisan hikmah, yang lain melihatnya sebagai potensi bid’ah.

Contoh paling nyata ada pada tahlilan, maulid, ziarah kubur, dan tawassul. Bagi Aswaja, selama tidak melanggar syariat, tradisi itu adalah media mendekatkan diri kepada Allah. Bagi Wahabi, inovasi ibadah yang tak dicontohkan Nabi berisiko menyesatkan.

Masalahnya, perbedaan ini sering berubah dari diskusi ilmiah menjadi perang label. Yang satu gampang menuduh “ahli bid’ah”, yang lain cepat menempelkan cap “radikal”. Padahal, Islam tidak dibangun di atas kebencian mazhab, tetapi adab dalam berbeda.

Barangkali yang perlu disadari: tidak semua yang berbeda itu sesat, dan tidak semua yang dianggap tradisi itu suci. Agama butuh ilmu, tapi juga butuh kebijaksanaan. Sebab kadang yang paling berbahaya bukan perbedaan pandangan, melainkan keyakinan bahwa hanya dirinya yang paling benar, lalu sibuk menghakimi yang lain.

Pada akhirnya, umat ini lebih butuh kedewasaan berpikir daripada sekadar memenangkan debat. Karena surga tidak diisi oleh pemenang komentar, tapi oleh mereka yang benar dalam iman dan santun dalam akhlak.**

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button