Dunia Islam

Wahabi, Bentukan Barat atau Murni Gerakan Lokal?

Di banyak diskusi warung kopi hingga forum digital, tuduhan bahwa Wahabi adalah “proyek Amerika” atau “produk Barat” sering muncul dengan nada penuh curiga. Masalahnya, tuduhan itu lebih sering lahir dari emosi politik daripada ketelitian sejarah.

Secara faktual, Wahabi lahir jauh sebelum Amerika menjadi kekuatan global. Gerakan ini dipelopori oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab pada awal abad ke-18 di Najd, Jazirah Arab. Saat itu Amerika bahkan masih sibuk menjadi koloni Inggris, belum menjadi pemain utama dunia. Jadi, secara kronologi saja, tuduhan itu sudah goyah.

Akar Wahabi adalah gerakan pemurnian tauhid: membersihkan praktik yang dianggap syirik, bid’ah, dan khurafat. Kekuatan gerakan ini membesar ketika Muhammad bin Saud mengikat aliansi politik dengannya pada 1744. Dari sinilah lahir fondasi negara Saudi Arabia modern.

Pertemuan Raja Abdul Aziz (Ibn Saud) dan delegasi Arab Saudi dengan Presiden AS Franklin D. Roosevelt pada 1945

Lalu kenapa banyak yang mengaitkannya dengan Barat? Jawabannya ada pada fase modern. Setelah minyak ditemukan dan hubungan Saudi-Barat menguat pada abad ke-20, penyebaran paham Wahabi ikut mendapat dukungan finansial dan geopolitik yang besar. Di titik inilah sebagian orang mulai membaca ada “kepentingan global” di balik ekspansinya. Tapi itu berbeda dengan mengatakan Wahabi “dibentuk” Barat.

Di sinilah penting membedakan antara asal-usul dan pemanfaatan. Sesuatu bisa lahir dari rahim lokal, lalu di kemudian hari dipakai atau didukung oleh kekuatan besar untuk kepentingan politik.

Masalahnya, umat sering terjebak pada teori konspirasi lalu lupa substansi. Yang lebih penting bukan siapa “membentuk” sebuah gerakan, tetapi apa dampaknya bagi umat: apakah memperkuat persaudaraan atau justru memperlebar jurang perpecahan. Sebab justru potensi pecah belah umat Islam itulah yang sering “dimanfaatkan” pihak-pihak tertentu untuk mengadu domba, bahkan menjadikannya proxy untuk menyerang lawan politik atau rezim yang berseberangan dengan kepentingan Barat.

Karena kadang yang paling mudah adalah menyalahkan musuh luar, padahal api konflik sering kali dinyalakan dari dalam rumah sendiri. Dan sejarah berulang kali mengingatkan: musuh terbesar umat bukan selalu Barat, melainkan kebodohan yang dibungkus fanatisme, lalu dipersenjatai oleh kepentingan.**

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button