Aktualita

Faisal Basri, Dirindukan Setelah Kepergiannya

Dalam lima tahun terakhir beberapa pemikir terbaik bangsa telah kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Beberapa sosok berintegritas yang telah pergi di saat pemikiran dan kiprahnya masih dibutuhkan, antara lain:  H.S. Dillon (2019), Bahtiar Effendy (2019), Salahuddin Wahid (2020), Ahmad Syafii Maarif (2022), Azyumardi Azra (2022), Rizal Ramli (2024), dan baru-baru ini Faisal Basri (2024). 

Berpulangnya ekonom senior Faisal Basri pada hari Kamis 5 September 2024/1 Rabiul Awal 1446 H dalam usia 65 tahun setelah mengalami serangan jantung cukup mengejutkan. Duka cita untuk Faisal Basri bukan hanya dari orang-orang yang segaris pemikiran dengan almarhum, tetapi juga kalangan yang berbeda sudut pandang. Pandangan kritis Faisal Basri menyorot kebijakan ekonomi pemerintah dan menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil, mungkin membuat tidak nyaman orang-orang tertentu. Padahal sejatinya merupakan masukan kepada pemerintah agar menghadirkan kebijakan pembangunan makro dan mikro ekonomi yang lebih sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesi Tahun 1945.

Dalam sejarah umat manusia kerap terjadi suatu pendapat dan pemikiran seorang ilmuwan mungkin disanggah atau ditolak, namun terbukti kebenarannya setelah puluhan tahun kemudian. Bumi manusia takkan berhenti melahirkan orang-orang terbaik dan bernalar baik untuk menjaga keseimbangan dunia dan membangun pondasi yang kokoh bagi masa depan bangsa.

Ketika Faisal Basri wafat tidak terhitung banyaknya pelayat yang datang ke  rumah duka sampai menghadiri pemakaman jenazah almarhum di TPU Menteng Pulo Jakarta Selatan.  Sebuah foto yang menyentuh perasaan menghiasi media, seorang jenderal purnawirawan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, memberikan penghormatan ala militer kepada jenazah Faisal Basri di kediaman almarhum. Sebagaimana dirilis oleh Kantor Berita Antara, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut sejumlah masukan dari almarhum dalam program pemerintah sebagai pelajaran yang akan menjadi PR untuk ditindaklanjuti. Meski beberapa kali berbeda pandangan, secara pribadi Luhut menyampaikan apresiasi kepada Faisal Basri sebagai sosok yang berdedikasi dan penuh integritas. Keberanian dan kejujurannya dalam berargumen menunjukkan karakter kuatnya sebagai seorang intelektual.

Faisal Basri meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia tahun 1985, dan meraih gelar Master of Arts (MA) di bidang ekonomi di Vanderbilt University, Nashville, Tennesse, Amerika Serikat tahun 1988. Sebagai akademisi, ia berkarier pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (dahulu FE-UI) untuk mata kuliah Ekonomi Politik, Ekonomi Internasional, Ekonomi Pembangunan, dan Sejarah Pemikiran Ekonomi.  Selain itu mengajar pada Program Magister Akuntansi, Program Magister Manajemen, Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan, dan Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Di lingkungan UI, ia pernah menjadi Ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB-UI dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta. Sekitar tahun 2015 Faisal Basri ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Ketua Komite Reformasi Tata Kelola Migas dan anggata Tim Ahli Satgas Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di Kementerian Keuangan.

Faisal Basri dalam kegiatan Ramadhan di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta.

Dalam pengembangan wawasan keagamaan sebagai muslim terpelajar, ia bergabung di Youth Islamic Study Club (YISC) Masjid Agung Al-Azhar Jakarta  sekitar periode tahun 1982 – 1983. Kepada teman-teman alumni YISC Al-Azhar, Almarhum senang dan bangga menyebut dirinya sebagai alumni YISC Al-Azhar.  Faisal Basri hadir dalam Milad 50 Tahun YISC Al-Azhar dan kegiatan Ramadhan YPI di Masjid Agung Al-Azhar tahun 1445 H/2024.

Ekonom bereputasi nasional itu dikenal dengan kesederhanaan penampilannya. Ia adalah seorang yang berpikir besar untuk kepentingan bangsa dan generasi mendatang, kendati bukan pemimpin dan pejabat negara. Salah satu curahan hati dan pemikirannya di ruang publik, ia tidak rela mimpi “Indonesia Emas” berubah menjadi “Indonesia Cemas” akibat kebijakan pembangunan yang tidak tepat, seperti mengabaikan kerusakan lingkungan, kegagalan mengatasi pengangguran, hutang luar negeri yang menumpuk dan sebagainya. Dalam tahun terakhir sebelum wafat, ia juga menyorot soal mutu lapangan kerja yang tercipta, di mana pekerja informal lebih banyak daripada pekerja formal. Faisal Basri mengemukakan pandangan dan kerisauannya mengenai isu-isu aktual bangsa secara lugas tanpa takut kehilangan apa-apa. Ia seorang aktivis yang idealis dan pemikir independen yang layak dihormati.

Saya kira toleransi terhadap perbedaan pendapat dan menghormati kemerdekaan dalam mengeluarkan pendapat dan pikiran secara lisan dan tulisan menyangkut kepentingan publik adalah bagian dari nilai-nilai kebangsaan dan budaya demokrasi yang tidak boleh dikurangi oleh siapa pun dan karena alasan apa pun.

Saya mengutip testimoni duka cita dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, “Bang Faisal selalu sangat passionate bekerja dan berbicara dengan hati, karena kecintaannya yang luar biasa kepada Indonesia. Bang Faisal ingin Indonesia maju dan bebas korupsi, dan selalu tergerak berjuang bila melihat ketidakadilan. Pemikiran, peran dan posisi Bang Faisal tidak pernah berubah, konsisten, jujur, tegas dan bekerja sepenuh hati. Saya selalu menghargai pandangan dan kritikan Bang Faisal, karena saya tahu Bang Faisal selalu punya niat yang baik tulus dan jujur untuk memperbaiki Indonesia. Kita dan Indonesia kehilangan sosok dan suara jujur itu.” ujar Sri Mulyani di media sosialnya. Sri Mulyani dan Faisal Basri adalah ekonom dari almamater Universitas Indonesia (UI). Testimoni di atas disampaikan di saat sebagian pejabat tidak sudi dikritik atau dikoreksi.

Dalam segala perubahan pada bangsa ini kita harus memperjuangkan cita-cita keadilan sosial sebagai sila kelima Pancasila. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi roh prinsip kesejahteraan yang merupakan janji proklamator kemerdekaan tahun 1945. Indonesia tidak kekurangan orang pintar dan berpendidikan tinggi, akan tetapi yang dibutuhkan adalah pribadi berintegritas, nasionalis sejati, dan konsisten membela kepentingan rakyat dalam kata dan perbuatan.

Faisal Basri tercacat sebagai salah satu pendiri lembaga riset Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) dan ikut mendirikan Indonesia Corruption Watch (ICW). Ia kerap bersuara lantang mengenai pentingnya pemberantasan korupsi, terutama di sektor ekonomi dan pemerintahan. Komenter dan pernyataannya didukung dengan data yang valid dan analisa yang masuk akal.

Dalam blog https://faisalbasri.com, ia menulis, “Kita semua tahu, korupsi adalah kanker ekonomi. Tidak ada negara yang bisa maju kalau dijerat korupsi. Negara kapitalis bisa maju, dan ternyata negara komunis pun bisa, asalkan korupsinya dikendalikan. Tapi di negara teokratis (berdasarkan agama) pun pasti bangkrut kalau korupsi merajalela. Bersih-tidaknya aparat penyelenggara negara sesungguhnya lebih penting ketimbang struktur kenegaraan dalam menentukan maju-tidaknya negara yang bersangkutan. Para pejabat korup bukan cuma tidak berguna, tapi mereka sesungguhnya bagian dari persoalan bangsa.”

Buku karya Almarhum sebagai legacy intelektualnya antara lain: Menuju Indonesia Emas: Menggapai Negara Maju Berkeadilan (Faisal Basri, Haris Munandar, 2019) dan Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa (Faisal Basri, Haris Munandar, 2019).

Buku Menuju Indonesia Emas membahas sejarah perjalanan ekonomi Indonesia sejak merdeka hingga sekarang sebagai bahan pembelajaran untuk meniti perjalanan ke depan. Menurut Faisal Basri, dari sini kami mengidentifikasi faktor-faktor utama yang menghadang gerak maju dan bagaimana mengatasinya. Yang tak kalah penting ialah bagaimana mendayagunakan potensi bangsa yang tergolong “luar biasa” sebagai negara maritim dengan lapisan tebal penduduk usia produktif serta karunia kekayaan alam yang relatif sangat memadai dan beragam. Adapun dalam buku Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa, ada 22 tokoh nasional yang diangkat kisah teladannya, mulai dari Haji Agus Salim hingga Artidjo Alkostar. Buku lainnya sebagai penulis tunggal, berjudul Catatan Satu Dekade Krisis.

Pemikiran dan sudut pandang Faisal Basri seputar “current issues” ekonomi nasional dalam banyak hal sejalan dengan pandangan Adam Malik, Wakil Presiden ke-3 Repubik Indonesia, yang kebetulan memiliki hubungan kekerabatan dengan Faisal Basri. Dalam memoar Adam Malik Mengabdi Republik Jilid III (Penerbit Gunung Agung Jakarta, 1979) terdapat pernyataan pejuang kemerdekaam itu ketika menanggapi pandangan kalangan pemimpin di zaman Orde Baru yang ingin membangun Indonesia melalui market economy atau sistem ekonomi berdasarkan free competition dengan segala ekses yang mulai tampak sejak waktu itu. Adam Malik menulis kerisauannya, “Haruskah sejarah kolonial dengan segala penderitaan yang menimpa rakyat kita diulang kembali. Apakah kita tidak bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang sudah lewat. Seekor keledai pun tidak akan jatuh kepeleset pada batu yang sama!”

Faisal Basri mengingatkan pemerintah pasca-reformasi bahwa tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kualitas manusia, bukan berapa kilometer jalan yang dibangun. “Pembangunan itu kan ujung-ujungnya adalah meningkatkan kualitas manusia, bukan berapa kilometer jalan yang dibangun, tapi manusianya itu berkualitas (atau) tidak,” ucapnya dalam sebuah Diskusi Publik: Tanggapan Atas Debat Kelima Pilpres, bulan Februari 2024 lalu.

Pandangan dan pemikiran kritis Faisal Basri mengenai kebijakan ekonomi dan pembangunan menginspirasi publik agar merenungkan kembali amanat para pendiri bangsa tahun 1945 yang menggariskan tujuan bernegara dan membentuk pemerintahan negara Indonesia. Tujuan bernegara dan berpemerintahan ialah; untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Kalau kita kaji secara mendalam, tujuan bernegara yang menjadi cita-cita nasional dan melandasi kepentingan nasional adalah memberi penekanan pada pembangunan manusia (human development). Kualitas manusia akan berdampak terhadap kualitas demokrasi. 

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah almarhum serta mengampuni kesalahan dan kekurangannya.

M. Fuad Nasar

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama RI, Penggiat Literasi. Ia juga penulis tetap majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button