Perang sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun Christopher Blattman justru mengajak kita melihat kenyataan dari sudut yang berbeda: sebenarnya manusia dan negara lebih sering memilih damai daripada perang. Sebab perang selalu membawa kerusakan, penderitaan, dan biaya yang sangat besar.
Menurut Guru Besar University of Chicago, Amerika Serikat itu, perang bukan terjadi karena manusia secara alami suka bertikai, melainkan karena ada kegagalan dalam cara pemimpin dan masyarakat mengambil keputusan. Ia menyebut ada lima alasan utama mengapa perang bisa terjadi.
Pertama, kekuasaan yang tidak terkendali. Ketika seorang pemimpin memiliki kekuasaan terlalu besar tanpa pengawasan, ia bisa mengambil keputusan perang tanpa memikirkan penderitaan rakyatnya. Kedua, ideologi dan ambisi. Banyak perang lahir karena obsesi akan kejayaan, nasionalisme berlebihan, atau keyakinan tertentu yang dianggap lebih penting daripada nyawa manusia.
Ketiga adalah bias dan kesalahan penilaian. Pemimpin kadang terlalu percaya diri, meremehkan lawan, atau hidup dalam lingkaran orang-orang yang hanya memberi kabar baik. Keempat, ketidakpastian. Dalam situasi tegang, negara sering tidak benar-benar memahami kekuatan dan niat lawannya sehingga salah mengambil langkah. Dan kelima, ketidakmampuan untuk saling percaya. Ketika sebuah negara takut lawannya akan semakin kuat di masa depan, mereka memilih menyerang lebih dulu.
Tulisan ini memberi pelajaran penting bahwa perdamaian bukan terjadi begitu saja. Perdamaian harus dijaga dengan dialog, keadilan, pengawasan kekuasaan, dan keterbukaan informasi. Dunia akan lebih aman ketika kekuasaan tidak terpusat pada satu orang dan ketika manusia lebih memilih kompromi daripada ego dan ambisi.
Pada akhirnya, perang bukan tanda kekuatan, melainkan tanda kegagalan manusia dalam menjaga akal sehat dan kemanusiaan. Karena itu, membangun budaya damai, berpikir jernih, dan menghargai kehidupan adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.**
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten


