Cakrawala

Metamorfosis Agama

Keinginan yang tak terpenuhi menyebabkan kesedihan, sedangkan yang terpenuhi menyebabkan kejenuhan.” Demikian filsuf Jerman Arthur Schopenhauer (1788-1860) pernah mengingatkan.

Suatu kenyataan, manusia kini, di zaman pascamodern, semakin merasa tak puas dengan capaian-capaian yang telah diperolehnya. Di Amerika Serikat, misalnya, sebuah negara tempat bunuh diri massal atas nama agama kerap terjadi, seperlima dari seluruh penduduknya menderita gangguan kesehatan. Hasil penelitian resmi pada 1978 menunjukkan, lima dari seribu orang penduduknya adalah pasien rumah sakit jiwa. Bahkan di Hollywood, kota amat masyhur itu, memiliki proporsi psikiater terbesar di dunia.

Laporan Sekjen PBB mengenai kriminalitas menunjukkan bahwa beberapa negara maju memiliki masalah serius dengan kejahatan. Meski mengalami kemajuan materiil, kehidupan manusia belum pernah serawan seperti sekarang. ‘ Bentuk-bentuk kejahatan, terhadap pribadi maupun umum, mulai dari pencurian, penipuan, korupsi, perampokan terorganisasi, dan sebagainya, telah menunjukkan betapa tingginya biaya yang harus dibayar oleh gaya hidup modern dan oleh kemajuan.

Barangkali, kita dapat menyebut fenomena ini sebagai “dekadensi humanistis” manusia modern. Sebab, lantaran modernitas, manusia telah berbuat zalim atas diri mereka sendiri. Lihatlah praktek penyalahgunaan narkotik, kenakalan remaja, perceraian, bunuh diri, perkosaan, perampokan, dan pembunuhan. Belum lagi berbagai penindasan yang dilakukan oleh negara atau kekuasaan. Ironisnya, semua ini terjadi justru seiring dengan meningkatnya taraf hidup dan tingkat pendidikan. Maka, tidak bisa tidak, makin tinggi kenikmatan dan keberlimpahan, makin dalam pula perasaan kekosongan dan keputusasaan.

Bisa jadi, fenomena ini timbul akibat maraknya kebudayaan massa di satu sisi, dan suburnya privatisasi agama di sisi lain. Dalam pandangan filsuf Amerika Ortega Y. Gasset, kebudayaan massa adalah kebudayaan manusia yang tanpa wajah dan kepribadian, yang mengalami degradasi dan menjadi massa, yang hanya memiliki kebutuhan-kebutuhan tapi tak punya jiwa.

Karena itu, mereka tak lagi merdeka. Sebab, dalam massa mereka menjadi seragam. Lebih jauh, kebudayaan massa dicirikan oleh keadaan pikiran “kekanak-kanakan”. Itu hampir sama dengan masa pubertas. Mereka menggandrungi hiburan yang remeh, kehilangan rasa humor yang asli, dan membutuhkan sensasi-sensasi murahan. Juga cenderung pada parade-parade massa dan kebrutalan.

Adapun privatisasi agama, tak lebih merupakan polusi dari globalisasi kebudayaan yang telah demikian termodifikasi. Kecenderungan ini sebenarnya berakar kuat pada meminjam istilah Daniel Bell, penulis buku The End of Ideology—semangat antinomianisme yang menjangkiti masyarakat pascaindustri. Semangat itu terefleksikan dalam gelora narsisme yang menuntut pemujaan luar biasa terhadap otonomi dan keinginan individu.

Semangat privatisasi agama ini makin menemukan tempatnya ketika terjadi perubahan-perubahan penting dalam berbagai struktur dasar masyarakat, dipicu oleh adanya ledakan arus informasi. Suatu ledakan yang membangkitkan pluralisme agama di antara individu-individu, dengan tawaran ekspresi dan visi keagamaannya masing-masing. Hal itu kemudian memberi jalan bagi pilihan-pilihan religiusitas individual guna menerjemahkan dirinya ke dalam tindakan publik. Maka yang muncul dan berkembang kini adalah suatu “metamorfosis agama”, dengan format dan perilaku pemeluk yang unik dan asing. Di Eropa, misalnya, tempat agama Barat dibesarkan, justru jangkauan agama kini dikekang oleh sekularisme. Lalu di Amerika, agama tidak mengalami kebangkitan yang mengesankan, melainkan hanya mendapatkan pemahaman-pemahaman baru lewat liturgi kontemporer. Baik lewat arketipe, pembaruan doktrin, dan keinginan untuk peduli tentang masalah-masalah kemanusiaan, yang justru malah menumbuhsuburkan lingkaran-lingkaran agama dalam bentuk kelompok-kelompok Spiritual yang aneh dan radikal, yang kerap disebut sebagai pseudoagama.

Karena itulah, menjadi tantangan bagi agama-agama, bagi pemerintah dan segenap masyarakat, untuk menciptakan rasa aman, kepastian dan kesejatian, di tengah laju perubahan. Bukan hal yang mustahil, tatkala bangsa kita tengah mengalami masa transisi seperti saat ini, justru banyak warga masyarakat yang mengalami alienasi sehingga mudah tersesat pada pseudoagama. Di sinilah urgensi misi kenabian, yakni li-utammima makaarimal-akhlaq dan rahmatan lil ‘alamin, memerlukan upaya lebih dalam persemaian.

Penulis: Zainal Arifin Thoha (1972-2007). Direktur Institut Kajian Kemanusiaan dan Keislaman
Sumber: Panji Masyarakat, 23 Juni 1999

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button