Cakrawala

Ketika Maling Lebih Santun daripada Korbannya

“Di dunia digital, emosi adalah bahan bakar yang sangat laris. Semakin marah seseorang, semakin besar peluang unggahannya menyebar”

Ada fenomena menarik di zaman media sosial ini. Seseorang bisa mencuri uang rakyat dengan senyum semanis iklan pasta gigi. Ada pula yang gemar memfitnah, memanipulasi, atau mengkhianati kepercayaan orang lain, tetapi tetap tampil sopan, rapi, dan penuh kata-kata bijak.

Sebaliknya, ada orang yang sebenarnya berada di pihak yang benar, namun karena terlalu emosi, ia memilih membalas dengan makian, hinaan, dan kata-kata kasar yang membuat telinga panas. Akhirnya muncul situasi yang ironis. Si maling terlihat santun, sementara korbannya tampak seperti preman. Di sinilah jebakan moral yang sering tidak disadari banyak orang.

Kita begitu marah terhadap keburukan seseorang sehingga tanpa sadar mulai meniru sebagian cara buruknya. Kita mengutuk kemunafikan dengan kemarahan yang berlebihan, membalas fitnah dengan fitnah baru, dan melawan kebohongan dengan kata-kata yang sama-sama kotor. Padahal ketika lumpur dilempar dengan lumpur, hasil akhirnya bukan kebersihan, melainkan lumpur yang semakin banyak.

Standar Etika yang Diam-Diam Turun

Banyak orang beranggapan bahwa kesopanan tidak perlu diberikan kepada orang yang tidak pantas mendapatkannya. Sekilas logika ini terdengar masuk akal. “Masa maling harus dihormati?” “Masa munafik harus diajak bicara baik-baik?”. “Masa penipu tidak boleh dimaki?”

Masalahnya, kesopanan sebenarnya bukan hadiah untuk orang lain. Kesopanan adalah cermin kualitas diri kita sendiri. Jika standar perilaku kita ditentukan oleh perilaku orang lain, maka sesungguhnya kitalah yang sedang dikendalikan oleh mereka. Bayangkan seseorang yang setiap hari mengeluhkan keburukan lingkungan. Namun setiap kali marah, ia berubah menjadi versi mini dari lingkungan yang ia kritik. Bukankah itu seperti petugas pemadam kebakaran yang memadamkan api dengan bensin?

Maling yang Tersenyum dan Orang Baik yang Mengamuk

Dunia modern sering kali menghadirkan panggung yang membingungkan. Seorang koruptor bisa berbicara tentang integritas. Seorang pembohong bisa memberikan ceramah kejujuran. Seorang munafik bisa mengutip kata-kata bijak setiap pagi. Ironisnya, masyarakat terkadang lebih memperhatikan nada suara daripada isi persoalan.

Akibatnya, ketika orang baik kehilangan kendali dan mulai memaki-maki, fokus publik bergeser. Yang semula membahas kebejatan pelaku berubah menjadi membahas kemarahan korbannya. Yang semula memperdebatkan fakta berubah menjadi memperdebatkan kata-kata.

Si pelaku yang seharusnya duduk di kursi terdakwa malah berhasil duduk nyaman di kursi korban. Sementara orang yang benar sibuk menjelaskan mengapa ia marah. Ini bukan karena masyarakat selalu adil. Ini karena manusia memang sering tertarik pada drama dibanding substansi.

Media Sosial: Surga bagi Orang Licik

Media sosial memperparah keadaan. Di dunia digital, emosi adalah bahan bakar yang sangat laris. Semakin marah seseorang, semakin besar peluang unggahannya menyebar. Orang licik memahami hal ini dengan sangat baik.

Mereka sering tidak ingin menang dalam perdebatan. Mereka hanya ingin membuat lawannya kehilangan kesabaran. Begitu lawan terpancing, pekerjaan mereka selesai. Mereka cukup mengambil tangkapan layar, memotong konteks, lalu berkata kepada publik:

“Lihat, siapa sebenarnya yang kasar?”. Padahal sebelumnya mereka telah memancing berhari-hari. Fenomena ini mirip pencopet yang berteriak “copet!” lebih dulu agar massa mengejar orang lain. Lucu memang. Tetapi sering terjadi.

Jangan Turun ke Kandang Lumpur

Ada pepatah lama yang mengatakan, jangan berkelahi dengan babi di kubangan lumpur. Bukan karena babinya pasti menang, tetapi karena setelah beberapa saat Anda akan sama-sama kotor, sementara babinya justru menikmati situasi itu.

Dalam kehidupan sosial maupun politik, prinsip ini masih sangat relevan. Membongkar keburukan seseorang bukan berarti harus menggunakan cara-cara buruk. Mengkritik kemunafikan tidak mengharuskan kita kehilangan akhlak. Melawan kebohongan tidak menuntut kita menjadi kasar.

Justru kekuatan kritik akan lebih mematikan ketika disampaikan dengan tenang, berbasis fakta, dan sulit dibantah. Fakta tidak perlu berteriak. Bukti tidak perlu memaki. Kebenaran tidak membutuhkan kata-kata kotor untuk berdiri tegak.

Etika Bukan Tanda Lemah

Sebagian orang mengira bahwa menjaga tutur kata adalah tanda kelemahan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Marah itu mudah. Membentak itu mudah. Mengumpat itu sangat mudah. Yang sulit adalah tetap tenang ketika diprovokasi. Yang sulit adalah tetap beradab ketika disakiti. Yang sulit adalah memegang prinsip ketika emosi sedang mendidih. Itulah sebabnya pengendalian diri selalu dianggap sebagai bentuk kekuatan dalam hampir semua tradisi moral dan agama. Karena sesungguhnya kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mempermalukan lawan, melainkan ketika kita berhasil mengalahkan dorongan buruk dalam diri sendiri.

Menjaga Diri di Tengah Zaman yang Bising

Kita hidup di era ketika orang berlomba-lomba menjadi viral, bukan menjadi benar. Suara paling keras sering dianggap paling benar. Makian paling tajam sering dianggap paling berani. Padahal keberanian sejati bukanlah kemampuan menghina orang lain.

Keberanian sejati adalah kemampuan mempertahankan etika ketika banyak orang mulai meninggalkannya. Pada akhirnya, kita memang harus melawan pencurian, kemunafikan, penipuan, dan segala bentuk kebejatan moral. Namun jangan sampai dalam proses melawannya, kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: karakter kita sendiri.

Sebab ketika orang jahat berhasil membuat orang baik berperilaku seperti dirinya, sesungguhnya ia telah memenangkan separuh pertarungan. Dan itu adalah kemenangan yang tidak boleh kita berikan kepada siapa pun.*

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button