“Kembalilah ke Indonesia kita….”
Begitu bunyi kalimat yang diteriakkan bersama secara lantang oleh 471 anak remaja yang mau sekolah di Indonesia. Pendek dan singkat, tapi sarat makna.
Apa istimewanya?
Kalau itu diucapkan di Indonesia, oleh pelajar Indonesia, yang lahir di Indonesia, mungkin biasa. Tapi justru ini yang luar biasa: sebagian besar dari para remaja itu adalah anak Indonesia kelahiran Sabah, belum pernah ke Indonesia, tapi mau lanjut sekolah di Indonesia. Dan kalimat itu menjadi slogan utama yang selalu diteriakkan, sebagai pembangkit semangat dan motivasi mereka untuk mengejar cita.
Ya. Mereka adalah pelajar yang lulus menjadi peserta Program Generasi Maju Cinta Tanah Air (Gema Cita) Tahun 2024. Pada Ahad malam, 14 Juli 2024, mereka berkumpul di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Kota Kinabalu, Sabah, untuk mengikuti acara Pelepasan Peserta Program Gema Cita 2024.
Program Gema Cita merupakan sebuah program fasilitasi pelayanan pendidikan bagi anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sabah dan Sarawak untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMA atau yang sederajat (Sekolah Menengah Kejuruan [SMK] atau Madrasah Aliyah [MA]) di berbagai sekolah di Indonesia.
Anak-anak PMI yang diberikan pelayanan pendidikan itu adalah mereka yang lahir di Malaysia (Sabah-Sarawak) karena ikut orang tua mereka yang bekerja di ladang-ladang sawit. Pendidikan jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mereka tamatkan di SIKK atau di berbagai Community Learning Center (CLC) yang tersebar di Sabah dan Sarawak.
SIKK dan CLC sendiri merupakan produk dari hasil kerjasama dan kesepakatan yang baik antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia dalam bidang pendidikan. Mengingat jumlah anak PMI di Sabah dan Sarawak begitu banyak, terutama di ladang-ladang sawit, dan sebagian besar tidak berizin tinggal (visa), mereka akhirnya tidak bisa bersekolah di sekolah-sekolah formal di Malaysia. Karena itulah Pemerintah Indonesia (melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Luar Negeri) secara bertahap berinisiatif membentuk SIKK dan CLC di Malaysia.
SIKK diizinkan beroperasi oleh Kerajaan Malaysia pada 01 Desember 2008, sementara CLC diizinkan beroperasi di Sabah mulai 25 November 2011 dan di Sarawak mulai 20 Januari 2016. Secara administratif, SIKK menjadi induk dari semua pengurusan pelayanan pendidikan di CLC di Sabah dan Sarawak. Sistem pembelajaran dan kurikulumnnya sama seperti yang diberlakukan di Indonesia. Guru-guru profesional juga dikirim dari Indonesia. Sampai Juni 2024, jumlah pelajar yang diberikan pelayanan pendidikan formal di SIKK dan CLC adalah 20.997 orang (lihat tabel).
Jumlah Pelajar Indonesia di SIKK dan CLC (Sabah dan Sarawak) sampai Juni 2024
| Jenjang | SIKK | 217 CLC di Sabah | 58 CLC di Sarawak |
| SD | 372 | 12986 | 1905 |
| SMP | 197 | 4632 | 245 |
| SMA | 469 | – | – |
| SMK | 191 | – | – |
| Jumlah | 1.229 | 17.618 | 2.150 |
| Jumlah Total | 20.997 | ||
Sumber: Divisi CLC SIKK (Juni 2024)
Program Gema Cita secara informal sudah berjalan sejak 2013. Cikal bakalnya muncul dari rasa peduli yang sangat tinggi dari guru-guru SIKK-CLC yang pernah bertugas di Sabah, yang kemudian membentuk sebuah lembaga nirlaba bernama Sabah Bridge (SB). Tujuan awalnya waktu itu untuk membantu para pelajar alumni SMP SIKK-CLC untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMA/SMK/MA di sekolah-sekolah di Indonesia secara mandiri.
Dalam perjalanannya, program ini mendapat sambutan sangat positif dari banyak pihak karena hasil yang dicapai sangat baik. Terbukti makin banyak pelajar alumni SMP SIKK-CLC yang setiap tahun melanjutkan pendidikan di Indonesia melalui jalur mandiri. Mulai 2017, program ini kemudian dikelola dan dikoordinasi secara lebih baik yang melibatkan SB dengan SIKK, Perwakilan RI di Kuala Lumpur dan Sabah. Malah pesertanya makin bertambah dan sebagian dibantu dengan pemberian beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) maupun jalur Yayasan.
Jadi ada tiga jalur pelayanan pendidikan yang difasilitasi: (1) Jalur Adem. Peserta yang lulus seleksi akan diberi beasiswa penuh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk melanjutkan sekolah sampai tamat di sekolah-sekolah di Indonesia yang sudah ditetapkan; (2) Jalur Yayasan. Beberapa yayasan/lembaga pendidikan di Indonesia yang sudah menjadi mitra SB-SIKK akan menanggung sepenuhnya semua biaya pendidikan (Tipe A). Ada juga beberapa yayasan yang tidak menanggung sepenuhnya biaya tersebut (Tipe B); (3) Jalur Mandiri. Peserta difasilitasi kelengkapan dokumen perjalanan dan kelanjutan sekolahnya tanpa diberikan bantuan beasiswa.
Semasa Covid-19 (2020-2022), program ini tetap berjalan, malah makin melebar dengan keikutsertaan perwakilan dari CLC Sarawak serta disusul Sanggar Belajar (SB) di Semenanjung (Selangor dan Johor Bahru). Penyelenggaraannya juga semakin terkoordinasi lebih baik, melibatkan SIKK, KBRI Kuala Lumpur, KJRI Kota Kinabalu, KJRI Kuching, KRI Tawau dan sekolah-sekolah mitra.
Beasiswa jalur Adem sepenuhnya berasal dari anggaran Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kemendikbudristek RI. Tim Pelaksananya di bawah SIKK dengan nama panitia “Beswan Repatriasi Anak PMI di Malaysia”. Mulai 2022, program ini bertukar nama menjadi “Generasi Maju Cinta Tanah Air (Gema Cita)”, dengan slogan yang tetap sampai kini: “Kembalilah ke Indonesia Kita….”
Sampai kini, tercatat sebanyak 3.477 alumni CLC SMP SIKK-CLC yang sudah berhasil diberikan pelayanan pendidikan lanjutan melalui Program Gema Cita baik Jalur Adem (2.207) atau Jalur Yayasan (1.270) (lihat tabel). Sebagian dari mereka malah ada yang sudah kuliah dan menjadi sarjana di berbagai perguruan tinggi di Indonesia atau di luar negeri, atau bekerja di berbagai tempat.
Data Jumlah Penerima Beasiswa Program Gema Cita 2013-2023
| Tahun | 2013 | 2014 | 2015 | 2016 | 2017 | 2018 | 2019 | 2020 | 2021 | 2022 | 2023 | Jumlah |
| Adem | 12 | 10 | 17 | 69 | 99 | 100 | 500 | 500 | 300 | 300 | 300 | 2.207 |
| Yayasan | 10 | 0 | 59 | 45 | 72 | 262 | 82 | 120 | 273 | 156 | 191 | 1.270 |
| Jumlah | 22 | 10 | 76 | 114 | 171 | 362 | 582 | 620 | 573 | 456 | 491 | 3.477 |
Sumber: Divisi CLC SIKK (2023)
Pada tahun ini, Program Gema Cita diikuti oleh 567 alumni CLC SMP SIKK, CLC dan SB di Malaysia (Sabah 536; Sarawak 22; Semenanjung 9). Pihak panitia di Sabah sudah menyusun serangkaian jadwal kegiatan secara rapi: sosialisasi (Desember 2023), pendaftaran (Maret 2024), seleksi & pembuatan paspor (2-5 Mei 2024), pengumuman (17 Mei 2024), pengurusan special pass (Juni-Juli 2024), persiapan keberangkatan (Juli 2024) dan pengantaran/keberangkatan ke sekolah tujuan (15-21 Juli 2024).

Pada 2-5 Mei 2024, semua peserta berlomba secara selektif untuk mencari tempat belajar lanjutan di lebih dari 90-an sekolah tujuan Jenjang SMA/SMK/MA yang tersebar luas di 11 provinsi di Indonesia (Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Lampung). Untuk Wilayah Malaysia, kuota beasiswa Adem tahun ini berjumlah 375.
Sebagian besar peserta mengikuti seleksi yang diselenggarakan di Sabah (SIKK), Sarawak (CLC Rajawali, Bintulu) dan Johor Bahru. Proses seleksi meliputi kelengkapan dokumen administratif, tes kemampuan literasi dan numerasi, tes psikologi, wawancara dan uji bakat, tes keagamaan dan budi pekerti serta tes kesehatan. Para penguji terdiri dari unsur Guru SIKK, Guru Bina CLC dan Tim dokter profesional. Untuk yang di Sabah, di tengah proses seleksi, semua peserta juga sekaligus memproses penerbitan paspor di KJRI Kota Kinabalu dan KRI Tawau.
Sebelum diantar menuju sekolah masing-masing, mereka dikumpulkan di SIKK untuk diberikan pembekalan. Dari soal pengenalan tentang keragaman budaya Indonesia, seluk-beluk pendidikan jenjang SMA (dunia abu-abu), kesehatan dan pola hidup sehat, masalah ketahan-malangan, penyimpanan dokumen pribadi yang penting (paspor dll.), etika dalam bergaul dan bermedia sosial, penyalahgunaan narkoba, persiapan tinggal dan hidup di berbagai daerah di Indonesia dll.
Pada 15-21 Juli 2024, mereka diberangkatkan secara bergelombang dengan pesawat terbang ke daerah tujuan sekolah masing-masing, didampingi guru dan pembimbing yang sudah ditentukan. Keberangkatan melalui dua pintu keluar dari Sabah: Bandara Internasional Kota Kinabalu dan Pelabuhan Tawau (khusus untuk tujuan Kalimantan Utara). Setelah proses check in dan sebelum masuk ruang imigrasi bandara, atau di Pelabuhan Tawau, disaksikan oleh ratusan pasang mata orang Sabah, mereka tak lupa berteriak lantang dan kompak: “Kembalilah ke Indonesia Kita….”
Kota Kinabalu, 13 Juli 2024
Nasrullah Ali Fauzi, Koordinator Penghubung CLC Wilayah Kota Kinabalu, Sabah.