Ibadah Haji

Haji: Pengenalan Diri dan Kesediaan Berkorban (1)

Haji adalah ibadah yang berbeda dengan ibadah-ibadah lain. Terutama dengan puasa — ibadah yang diam, tidak makan, tidak minum. Haji adalah ibadah yang penuh dengan aksi. Salat juga ada aksi, tapi hanya sedikit. Sedangkan haji, belum kita melakukan haji pun kita sudah melaksanakan aksi-aksi persiapan (termasuk manasik haji), dan kemudian perjalanan itu sendiri.

Pertama, apa yang harus dipersiapkan orang haji sebelum berangkat? Tidak sama dengan kalau kita pergi ke Amerika, ke Puncak, ke Paris, dan lain sebagainya, yang memerlukan waktu yang tidak lama.  Kenapa persiapan haji lama sekali, karena ia rukun Islam yang terakhir. Karena dalam haji yang kita lakukan adalah aksi-aksi yang tidak lebih dari simbol-simbol, maka yang lebih penting bagi kita apa makna aksi-aksi yang kita lakukan itu.

Tujuan kita hanya satu, – dalam haji itu. Yaitu, pertama, – yang harus dipersiapkan adalah keikhlasan untuk pergi ke Baitullah (Ka’bah). Tidak lebih  dari itu. Karena dengan masalah keikhlasan itu semua yang berat bisa jadi ringan, semua yang ringan bisa jadi berat, semua yang kuat bisa jadi lemah, dan sebaliknya. Coba kalau kita melihat orang yang akan pergi haji, kalau dia pergi dengan niat yang tidak ikhlas, betapapun dia kuat akan ambruk, kesasar, sakit, dan lain-lain. Tetapi kalau dia berniat dengan ikhlas, pergi haji itu akan mudah dilakukan.

Ada orang yang berangkat dari bandar udara pakai kereta dorong, sampai tibanya pesawat di Jeddah juga pakai kereta dorong, tapi setelah sampai di Makkah bisa tawaf sendiri. Kemudian sa’i sendiri. Bahkan ke Arafah dan bermalam di Mina dia sehat dan kuat. Kenapa demikian? Karena memang niat pergi hajinya sudah didahului sikap pasrah untuk menyerahkan dirinya kepada Allah SWT. Tapi itu memang berat — ya, itu pun kalau dilihat sepintas.

Mungkin kita sering menyaksikan orang pergi haji dengan fisik kuat, tetapi karena dia terlalu percaya kepada kekuatan fisiknya dan umurnya yang masih muda, akhirnya ia jatuh sakit, ambruk diperjalanan. Karena itu, seperti yang saya katakan tadi, yang kuat bisa jadi lemah dan sebaliknya. Dan karena itu pula persiapan haji itu menyangkut persoalan seperti itu. Apalagi kehidupan di zaman modern sekarang ini, kalau ONH-plus saya kira tidak terlalu bermasalah: tapi kalau ONH biasa itu banyak masalah yang harus dihadapi. Jadi apa niat yang ikhlas itu?

“Kunci ibadah haji ialah keikhlasan.  Yang berat jadi ringan,  dan sebaliknya. Tergantung keikhlasan. Begitu pula hidup.”

Jarak antara kita dan Allah

Orang yang pergi haji itu tujuannya  mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kalau kita baca dalam buku Jalan Menuju Ka’bah yang dikarang oleh Mustafa Mahmud, misalnya, dikatakan dalam buku itu bahwa tujuan haji adalah wa ilaihil mashir, artinya kepada Allah semata-mata. Kenapa kalau kita bertujuan kepada Allah harus jauh-jauh? Allah kan ada di sini: Allah kan ada di mana-mana: Allah malah lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita sendiri. Mengapa dalam Isra Mikraj, Nabi bertemu dengan Allah di Sidratil Muntaha? Apakah, ya, kalau Allah ada di sini Nabi Muhammad s.a.w. tidak mungkin ke sana?

Sesungguhnya Allah itu tergantung individu kita masing-masing. Ada jarak (batas) antara diri kita dan Allah. Yang membikin batas itu sebenarnya diri kita sendiri. Apa yang membuat batas kita dengan Allah? Kesibukan kita selama 24 jam dalam pekerjaan kita. Coba lihat pekerjaan ibu-ibu: habis dari pengajian, atau dari arisan, mereka mesti jalan-jalan ke mal, pasar, dan lain sebagainya. Kehidupan yang sibuk, tugas-tugas, apalagi menghadapi anak-anak, suami dan tetangga dan lingkungan sekitar membuat kita semakin sibuk. Dengan kesibukan yang ada ini, kapan waktu kita sejenak merenung, duduk, berzikir, dan untuk mengingat Allah?

Untuk itulah dikatakan, memang Allah itu mahadekat, tapi rupanya Dia tertutup oleh kesibukan-kesibukan kita. Untuk itulah kita pergi haji — dengan syarat mampu. Tentu saja ada yang mesti kita tinggalkan: kesibukan-kesibukan yang membuat jarak antara kita dan Allah itu.

Tujuan haji pertama adalah Makkah, yaitu Masjidil Haram (Ka’bah). Setelah itu thawaf dan sa’i, dan terakhir tahalul. Dengan demikian selesai umrah kita. Haji kecil itu umrah saja.

Tapi yang disebut haji akbar itu setelah kita meninggalkan Ka’bah, menuju Arafah. Bahkan aksi haji yang itu adalah Arafah. Ini dipesankan Nabi Muhammad, “Al-hajju arafah.” Haji yang sesungguhnya adalah Arafah. Dalam suatu hadis dikatakan lagi tentang Arafah ini: “Sebaik-baiknya haji adalah Arafah, karena penghuni bumi dikenali oleh penghuni langit. Yang menjadi pertanyaan kita: kenapa haji yang sesungguhnya itu Arafah? Karena kalau tidak di Arafah, hajinya tidak sah. Dan hadir di Arafah itu harus wukuf (berhenti) d# sana, yang jatuh pada tangga 9 Dzulhijah, waktunya setelah tergelincirnya matahari. Walaupun kita tidak duduk, di sana, atau kita jalan-jalan saja, hanya berputar-putar, di Arafah, atau kita ngobrol dengan teman, hajinya sudah sah, walaupun waktunya hanya lima menit. Kalau begitu apa makna sesungguhnya Arafah? Kenapa dikatakan haji itu Arafah? Tentu saja orang pergi ke Arafah memakai pakaian ihram, dan tidak melakukan perbuatan munkar. Itulah yang disebut wukuf (berhenti) di Arafah. Coba kalau yang lain-lain — banyak sekali aksinya: sa’i, tawaf, melempar jumrah…. Apa makna semua itu? (Bersambung)

Penulis: H. Zanun Kamal, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Maret 2003

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button